Jika anda mengikut sepakbola di era itu, pasti tahu sepak terjang pemain ini.
Stephen Appiah dikenal sebagai salah pesepakbola hebat asal Ghana yang pernah bermain untuk klub raksasa Italia, Juventus. Tapi, mantan gelandang itu ternyata mengaku menyesal bergabung dengan La Vecchia Signora.

Appiah direkrut Juventus pada musim panas 2003 setekah mengecap kesuksesan di Udinese, Parma, hingga Brescia. Juventus lalu membeli Appiah dari Parma seharga 2 juta euro (Rp30 Miliar) sebagai pemain pinjaman dengan opsi permanen 6 juta euro (Rp. 91 Miliar) pada 2004.

Musim debutnya bersama Juventus, Appiah  tampil impresif pada 30 pertandingan Seri A. Tapi, tiga tahun bersama Juventus (2003-2005), Appiah hanya berhasil membantu klub asal Turin itu meraih Super Coppa Italiana 2003.

Lantaran konflik di klub dengan larangan yang diberikan kepadanya untuk bergabung ke tim nasional di Olimpiade 2004, Appiah marah. Dia mengaku menyesal gabung dengan Juventus. Apalagi, saat itu Fabio Capello tidak lagi memainkan Appiah sebagai anggota skuad ini.

Mantan kapten The Black Stars saat itu baru berusia 22 tahun. Dia dihadapkan pada pilihan sulit ketika Juventus memintanya untuk tidak mewakili Ghana di pertandingan musim panas di Athena.

"Saya diberitahu bahwa klub telah menerima surat dari Ghana. Bahkan sebelum saya masuk, saya tahu bahwa ini tentang Olimpiade," kata Appiah saat diwawancarai Asaase Radio beberapa tahun kemudian.

"Saya pergi ke kantor Direktur Olahraga hanya untuk melihat tiga orang: Luciano Moggi (Direktur Sepakbola), Geraldo (pengacara klub), dan Berttega yang legendaris itu sendiri," tambah Appiah.

"Bahkan, tanpa bertanya apakah saya ingin pergi atau tidak, mereka menjelaskan panjang lebar betapa mereka membutuhkan saya. Mereka menyarankan saya tinggal dan tidak mewakili negara saya di Olimpiade. Saya meminta waktu untuk memikirkannya dan memutuskan. Mereka memberi saya tiga hari,"ungkap mantan pemain No.10 Ghana itu.

Bagi Appiah dan Ghana, Olimpiada adalah ajang penting. Itu berbeda dengan negera-negara besar seperti Italia. 

"Saya sebelumnya telah berbicara dengan beberapa rekan tim yang pernah ke Olimpiade dan apa yang mereka gambarkan tidak dapat dilewatkan. Di luar rasa bangga yang tak terukur mewakili negara anda di acara multiolahraga, itu adalah sebuah festival," ujar Appiah.

"Deskripsi Olympic Village, untuk melihat atlet kelas dunia lainnya dari dekat dan beraksi tak terlukiskan, kata mereka. Ini lebih baik dari Piala Dunia. Jadi, saya harus berada di sana," tambah Appiah.



"Dan, sebagai catatan pribadi, saya pernah bermain di Piala Dunia U-17 sekali dan dua kali di Piala Dunia U-20. Tapi, tidak pernah di Olimpiade. Itu adalah kesempatan saya. Dan, pada prinsipnya, hanya cedera atau skorsing yang bisa menghentikan saya mewakili negara saya. Itu tidak bisa ditawar," ungkap Appiah.

Appiah lebih lanjut mengungkapkan terkait pendiriannya itu, dia dipanggil sekali lagi untuk bertemu dengan Moggi. Appiah berdiri teguh dan bersikeras bahwa dia harus pergi ke Athena bersama Ghana.

"Saya tahu mereka menghargai saya. Saya adalah salah satu gelandang yang lebih berbakat di sana. Tapi, ini adalah Juventus," ucap Appiah.



Pada akhirnya, Appiah tetap tampil di Athena. Bersama Ghana dia menunjukkan performa terbaiknya sebagai gelandang serang stylish yang tenang. Dia mencetak dua gol dalam tugas singkat di Athena, bersinar di semua tiga pertandingan grup, dan menjalankan permainan menyerang dengan cara yang spektakuler.

Tapi, efek dari kepergian ke Olimpiade telah membuat Appiah tersingkir dari Juventus. Pada Juli 2005, dia pindah ke Fenerbahce seharga 8 juta euro (Rp122 miliar). Bersama klub Turki itu dia memenangkan Liga Super Turki.