Kisah unik di balik keputusan bulatnya.
Banyak yang berubah seiring dengan berjalannya waktu. Orang-orang yang dulu dikenal publik sebagai A kini sudah berganti menjadi B. Dalam konteks sepakbola, ada banyak sekali pemain yang setelah sekian waktu hampir tidak dikenal lagi.

Entah karena tidak menggeluti profesi di seputar sepakbola atau satu dan lain hal.

Salah satu contohnya adalah mantan bek Liga Premier, Taribo West, yang terlihat tidak dapat dikenali setelah meninggalkan gaya ikoniknya untuk menjadi seorang pendeta di tanah airnya, Nigeria.

Pria berusia 47 tahun itu adalah sosok yang dipuja di akhir 1990-an dan awal 2000-an. Dia pernah bermain untuk Auxerre, Inter Milan, AC Milan, dan berbagai tim lainnya.

Meskipun membuat kurang dari 300 penampilan profesional untuk klub dan timnas Nigeria, West memenangkan gelar Ligue 1, dua Piala Prancis, Piala UEFA, dan medali emas di Olimpiade pada 1996.

Dia juga memenangkan hati penggemar sepakbola Eropa dengan gaya rambut flamboyan miliknya dan membantu Derby County bertahan di Liga Premier selama masa pinjaman musim 2000/2001.

Legenda Arsenal, Thierry Henry, bahkan pernah menggambarkan West sebagai lawan "langsung" terberatnya.

"Yang paling sulit sebagai lawan tidak langsung? Atau hanya seorang pria yang tidak ingin Anda lawan? Paul Scholes. Untuk lawan langsung, saya akan kembali ke masa lalu di mana ada satu nama, yakni Taribo West.”

"Karena (di Auxerre), mereka melakukan man-marking. Dia mengikutimu ke mana-mana, bahkan di ruang ganti," kenang Henry.



Kini, West jauh dari kesan garang. Dia kini telah mendirikan semacam yayasan kerohanian, The Storm Miracle Ministries of All Nation, pada 2014. Dia mengaku melakukan pertemuan pertamanya dengan Tuhan setelah kemenangan Nigeria di Olimpiade pada 1996.

"Mengapa saya beralih dari pesepakbola menjadi pendeta? Saya melihat Tuhan, satu lawan satu,” kata mantan bek itu kepada BBC Sport pada Mei 2021.

“Dari situlah transisi saya dimulai. Dari lapangan ke mimbar," ucapnya yakin.

Ternyata, sepak bola dapat menjadi titik balik perjalanan spiritual.

"Kami merayakan (setelah final Olimpiade). Di tengah-tengah itu, seorang gadis muda tersandung ke saya dan berkata, 'Pak, bolehkah saya tahu nama Anda?’.”

"Saya berkata, 'Saya Tuan Tanpa Nama'. Dia berkata, 'Boleh saya tahu di mana Anda tinggal?'. Saya berkata, 'Saya?'. Dia pun bilang ‘ya’. Saya kemudian berkata, 'Saya tidak tinggal di mana pun'. Dia akhirnya pergi dengan kesal.”

"Dalam sekejap mata, saya baru saja mendengar suara. Dan, itu terdengar seperti tamparan. Bam! 'Switch! Turn!' Saya berputar.”

"(Suara itu menjelaskan) 'lihat wanita itu. Cari dia sekarang dan telepon wanita itu, kemudian minta maaf kepadanya. Saya katakan itu padamu’. Itu bisa menjadi panggilan dari Tuhan," kata West mengisahkan titik baliknya.

"Jadi, saya beralih, seperti Robocop. Saya mulai mencari wanita itu.”

“Ketika saudari ini datang jauh-jauh dari Amerika, dia memberi tahu saya. Dia memberi tahu saya, dalam satu atau dua tahun ke depan saya akan membuka gereja.”

"Semua ramalan yang dia berikan padaku terjadi." 

Setelah meninggalkan Derby Country, West melanjutkan kariernya di Jerman bersama Kaiserslautern. Dia bahkan membuat empat penampilan Kejuaraan untuk Plymouth Argyle pada 2005/2006.

Tentang apakah rekan satu timnya mendukung keyakinan agamanya, West menambahkan: "Mereka pikir saya gila."

Tapi, keputusannya sudah sangat bulat. West akan tetap menjadi seorang pendeta dengan segala anggapan orang-orang. Baginya panggilan Tuhan lebih penting.