Dulu pernah jadi fenomena. Sekarang, apa kabarnya?
Dele Alli pernah dikenal sebagai salah satu talenta berbakat sepakbola Inggris. Di usia muda, sang gelandang menjadi tumpuan lini tengah Tottenham Hotspur. Sayang, di usia emas, Dele Alli mengecewakan. Bahkan, terungkap fakta dirinya sempat putus asa dan ingin pergi bermain di luar negeri, di liga yang lebih rendah.

Pada sebuah era, Dele Alli dianggap sebagai salah satu prospek paling cemerlang di Eropa. Itu ketika pertama kali dia tiba di Spurs dari MK Dons pada 2015.

Dengan cepat, Dele Alli  membuktikan dirinya sebagai pemain reguler di tim utama Tottenham Hotspur di bawah asuhan Mauricio Pochettino. Penampilan cemerlang Dele Alli berujung dengan memenangkan penghargaan Pemain Muda Terbaik PFA. Itu berkat 23 gol dalam kampanye debut.

Pada tahun yang sama, Dele Alli mendapatkan kesempatan debut bersama tim nasional Inggris. Dan, tidak butuh waktu lama, dia langsung menjadi andalan The Thrre Lions. Dalam waktu singkat Dele Alli mampu membuat 39 penampilan hingga terakhir kali dipanggil pada 2019.

Tapi, sepakbola seperti perjudian. Ketika Mauricio Pochettino kehilangan posisi di bench, dan Jose Mourinho datang, keberuntungan menjauhi Dele Alli. Pelatih baru yang terkenal bermulut pedas itu tak sungkan menyampaikan sejumlah kebenaran pahit kepada Dele Alli.

Sejak itu, dia menjadi pemain bagus yang terpinggirkan. Ditambah cedera yang sempat menyapa, karier Dele Alli terus merosot. Bahkan, ketika Jose Mourinho pergi dan Nuno Espirito Santo serta  Antonio Conte datang, Dele Alli seperti kehilangan kepercayaan diri bermain sepakbola.

Dele Alli putus asa. Dia merasa tidak bisa bersaing di Liga Premier lagi, meski sedang berada di usia emas pesepakbola. Dele Alli sempat berpikir meninggalkan Inggris untuk bermain di kompetisi yang lebih rendah. Kebetulan, saat itu datang tawaran dari Turki, dari Besiktas.

"Besiktas ingin mengontrak Dele Alli. Sang pemain sudah setuju karena merasa putus asa dengan kariernya di Liga Premier," kata jurnalis papan atas Eropa spesialis transfer, Fabrizio Romano.



Dalam keputusasaan itu, Dele Alli mendapatkan tawaran lain dari sesama klub Inggris, yaitu Everton. Frank Lampard menelepon Dele Alli untuk menanyakan kabar sekaligus mengajak bergabung ke Goodison Park. Bagi Dele Alli, Frank Lampard adalah role model masa kanak-kanak saat masih di akademi.

Tawaran Frank Lampard seperti setitik air di padang pasir. Itu menyejukkan karena Dele Alli merasa tidak ada lagi pelatih setelah Maurico Pochettino yang mengajaknya berbicara dan menawarkan tantangan. Jadi, dia setuju pergi ke Merseyside.

"Hal pertama yang perlu dilakukan Dele Alli adalah menemukan konsistensi dalam latihannya. Dan, itu adalah sesuatu yang telah saya bicarakan. Bagi saya, latihan penuh tidak dapat dinegosiasikan, dan saya pikir Dele Alli perlu, diperlukan, untuk mengerti bahwa itu penting bagi saya dan dia," kata Frank Lampard.

Setelah musim lalu menyelematkan Everton dari degradasi, tantangan Dele Alli muncul musim ini. Tugasnya mengembalikan The Toffees ke posisi yang benar, meski pada dua laga awal dikalahkan Chelsea dan Aston Villa.