Dulu ada Marazola dan Messidona. Sekarang, Kvaradona. Siapa dia?
Sebelum pertandingan Liga Champions melawan Liverpool, tidak banyak orang yang mengenal Khvicha Kvaratskhelia, kecuali suporter Napoli dan warga negara Georgia. Tapi, setelah membantu I Partenopei menang atas The Reds, Khvicha Kvaratskhelia jadi pembicaraan di seluruh dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, Serie A menjadi liga yang terbiasa kehilangan bintangnya setiap musim panas. Tapi, liga papan atas Italia itu juga sangat mudah menemukan bintang baru. Contohnya, Khvicha Kvaratskhelia.

Khvicha Kvaratskhelia baru berusia 21 tahun. Dia bergabung ke Stadio Diego Armando Maradona dari Dinamo Batumi di Georgia. Tapi, dalam waktu singkat gelandang serang yang sempat bermain di Lokomotiv Moscow dan Rubin Kazan itu menjelma jadi sosok kunci Napoli.

Bayangkan, di lima pertandingan pertamanya di Serie A 2022/2023, Khvicha Kvaratskhelia sudah mencetak empat gol. Bahkan, di debut sepakbola Italia, Khvicha Kvaratskhelia langsung menyumbang gol dan assist ketika membantu Napoli mengalahkan Hellas Verona 5-2.

Dengan empat gol dalam lima pertandingan Serie A, termasuk kemenangan tandang ke Lazio akhir pekan lalu, wajar jika Luciano Spalletti memberi Khvicha Kvaratskhelia debut Liga Champions.

Meski harus melawan klub dengan DNA Liga Champions seperti Liverpool, Khvicha Kvaratskhelia tidak canggung. Dia memang gagal mencetak gol. Tapi, pergerakan pemuda kelahiran Tbilisi, 12 Februari 2001, itu membuat Virgil van Dijk, Joe Gomes, Andrew Robertson, atau Trent Alexander-Arnold bingung.

Apa yang ditampilkan Khvicha Kvaratskhelia tidak terlalu mengherankan. Sebab, pendukung Napoli memanggilnya Kvaradona. Itu adalah gabunganya dari nama penggilan Khvicha Kvaratskhelia, Kvara, dengan sang legenda Diego Maradona. Ini mirip Marazola (Gianfranco Zola) atau Messidona (Lionel Messi).

"Jelas saya suka julukan itu. Saya tidak bisa menyamai rekor Maradona. Tapi, saya akan memberikan segalanya untuk bisa menjadi pemain besar bagi klub ini," kata Khvicha Kvaratskhelia, dilansir Football Italia.

Kehadiran Khvicha Kvaratskhelia bagi Napoli ibarat mata air di gurun tandus. Sebab, Napoli memasuki ke musim 2022/2022 dengan tidak pasti setelah kepergian sang kapten, Lorenzo Insigne. Ada lagi, wakil kapten, Kalidou Koulibaly, dan salah satu pemain paling berpengrauh mereka, Dries Mertens.

Tapi, dampak instan Khvicha Kvaratskhelia dan keputusan Victor Osimhen bertahan telah membuat suporter Napoli bisa sedikit terenyum. Ditambah kedatangan Giacomo Raspadori, Giovanni Simeone, dan Tanguy Ndombele, optimisme kembali dengan cepat ke Stadio Diego Armando Maradona.

Setelah lima pertandingan Serie A, I Partenopei duduk di urutan kedua klasemen. Mereka hanya berada di belakang Atalanta Bergamo. Mereka juga telah mencetak 12 gol. Itu lebih banyak dari tim mana pun di Serie A musim ini, termasuk sang juara bertahan, AC Milan, atau sang raksasa, Juventus.

Khvicha Kvaratskhelia ikut berkontribusi atas sepertiga dari gol-gol tersebut. Dia juga membuat dua gol luar biasa dalam kemenangan 4-0 atas AC Monza di pekan kedua Serie A 2022/2023. "Apakah ada yang tidak bisa dilakukan anak ini? Dari mana asalnya?" ujar komentator TV setelah Khvicha Kvaratskhelia mencetak gol dari jarak 30 meter.

Dari mana dia? Jawabannya, Dinamo Batumi, juara Liga Georgia saat ini. Khvicha Kvaratskhelia pindah ke sana pada Maret 2022 dari Rubin Kazan. Itu setelah FIFA menghukum Rusia terkait invasi militer ke Ukraina.



Napoli kemudian membayar 8,6 juta pounds (Rp147 miliar) untuk membawanya ke Italia Selatan. "Dia masih memiliki terlalu banyak tekanan. Begitu dia membebaskan dirinya dari tekanan itu, dia akan menunjukkan kepada orang-orang betapa membahayakannya dia," kata Luciano Spalletti.

Khvicha Kvaratskhelia telah diberi label "Lionel Messi dari Georgia" di tanah kelahirannya. Tapi, ternyata dia tumbuh dengan mengidolakan pemain hebat rival La Pulga, Cristiano Ronaldo. Buktinya, dia mengenakan jersey No.77 di Napoli karena No.7 sudah dimiliki Elif Elmas.



Keberadaan Khvicha Kvaratskhelia di Napoli, dan penampilan memukau di Serie A maupun liga Champions, seperti membuat banyak suporter sepakbola dunia kembali ke masa lalu. Itu adalah masa ketika Georgia mengekspor pemain hebat ke luar negeri.

Sejarah mencatat, Georgia telah menghasilkan beberapa pemain top dunia selama bertahun-tahun. Kakha Kaladze menikmati kesuksesan di Italia bersama AC Milan. Shota Arveladze memenangkan gelar bersama Ajax Amsterdam dan Glasgow Rangers. Ada pula Giorgi Kinkladze dan Temuri Ketsbaia di Liga Premier.

Jadi, jangan kaget jika dalam satu, dua, atau tiga tahun mendatang, bendera Georgia akan berkibar tinggi-tinggi di sepakbola Eropa