Ternyata, alasannya bikin haru..
Lucy Clark adalah wasit transgender pertama di dunia. Kini, sang pengadil lapangan sedang mempertimbangkan pensiun dini. Alasannya, bikin haru. Konon, hal itu terkait statusnya sebagai transgender.

Kisah Lucy Clark di sepakbola dimulai pada 2018. Saat itu, dia membuat sejarah ketika menjadi pemimpin pertandingan transgender pertama di sepakbola Inggris. Kemunculan Lucy Clark menghebohkan dunia. Pro dan kontra muncul dan dirinya mendapatkan undangan wawancara di berbagai media.

Sejak kiprah Lucy Clark viral, banyak pertandingan dijalani. Setidaknya, ada 50 pertandingan yang dipimpin lucy Clark sejak pertama kali berita tersebut muncul.

Tapi, itu dulu. Baru-baru ini, Lucy Clark muncul dengan pengakuan mengejutkan. Dia menyebut hanya diberi satu pertandingan untuk memimpin pertandingan musim ini. Dia tidak tahu apa alasannya. Apakah itu karena statusnya atau ada masalah lain seperti cedera?

"Mungkin karena cedera lutut. Mungkin juga ada hal lain. Tapi, saya mempertimbangkan untuk berhenti menjadi wasit di level yang telah saya lakukan ini. Saya hanya memiliki satu pertandingan sepanjang musim dan tidak memiliki apa pun di buku harian," tulis Lucy Clark di Twitter.

"Saya berhenti menjadi wasit sepakbola pria beberapa tahun yang lalu untuk fokus di level ini. Tapi, saya melihat ofisial lain memiliki tiga atau empat pertandingan. Mungkin, sudah waktunya untuk menutup peluit dan berkonsentrasi pada golf," tambah wasit di Liga Nasional Wanita Inggris itu.

Rencana Lucy Clark ini ternyata mendapatkan tentangan dari beberapa pemain di kompetisi wanita Inggris. Sekelompok bintang AFC Wimbledon memberikan dukungan dengan mendesak Lucy Clark untuk tidak pensiun. "Kami mencintaimu Lucy," tulis Megan Stow.

Becki Bath menambahkan: "Wasit terbaik di liga kami sejauh ini. Jangan menyerah". Sementara Glyn Roberts menulis: "Tolong jangan pensiun. Anda salah satu wasit yang lebih baik di level itu jika bukan yang terbaik".

Alasan lain yang mendorong Lucy Clark untuk pensiun adalah sebuah insiden memalukan pada akhir tahun lalu. Saat itu, polisi melakukan penyelidikan atas serangan terhadap Lucy Clark. Ketika itu, dia dilaporkan terpaksa melarikan diri dari lapangan setelah seorang pelatih dan penggemar melakukank aksi pelecehan transfobia kepada  dirinya.

"Rasanya seperti serangan yang diatur. Saya hendak bunuh diri. Sepakbola selalu menjadi ruang aman saya. Itu menyelamatkan hidup saya ketika saya berjuang menyembunyikan siapa diri saya selama bertahun-tahun, dan tiba-tiba itu tidak lagi terasa aman bagi saya,' kata Lucy Clark saat itu.

"Itu bahkan belum tercatat sebagai pelecehan transfobia. Saya sudah membayar minuman yang harganya lebih mahal dari denda itu," pungkas Lucy Clark.