Semua itu tidak lepas dari perbaikan kompetisi. Jangan heran kalau Indonesia tersalip...
Sepakbola Kamboja yang dahulu selalu menjadi 'Tim Hore', kini perlahan menunjukan kemajuan yang cukup pesat. Mulai dari level klub yang mulai unjuk gigi di level Asia, hingga timnasnya yang sekarang sangat sulit dibobol atau bahkan dikalahkan.

Apa yang dialami Kamboja tentu bukan hal kebetulan semata, tetapi berangkat dari sebuah perencanaan yang matang, sistem yang bagus dan dilibatkannya orang-orang kompeten dalam dunia sepakbola.

Lalu apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kemajuan sepakbola Kamboja dalam beberapa tahun terakhir?

1. Mendatangkan Satoshi Saito untuk mereformasi sepakbola Kamboja

Pada Oktober 2021, Kamboja mulai mengubah tatanan operator kompetisi. Mereka memutuskan merekrut pihak asing untuk menjalankan dan mereformasi kompetisi sepak bolanya.

Orang yang dipilih adalah Satoshi Saito, orang asal Jepang yang didapuk menjadi CEO dari Cambodian Premier League (CPL) yang kemudian menjadi operator kompetisi sepak bola Kamboja saat ini.

Rekam jejak, Saito di dunia sepakbola memang sangat mentereng, selain pernah menjadi manajer pemasaran FC Barcelona, ia juga pernah menduduki berbagai posisi strategis yakni, Wakil Direktur Misi Khusus di Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA), Direktur Pemasaran AFC, hingga Konsultan Pemasaran FIFA.



2. Kerja sama intens dengan FIFA dan adanya dukungan penuh pemerintah

FFC (Federasi Sepakbola Kamboja) dalam satu dekade terakhir memang sangat intens menjalin kerja sama dengan FIFA guna meningkatkan mutu sepakbolanya. Hasilnya Kamboja mendapatkan banyak proyek pembangunan komponen penunjang sepakbola yang dimulai tahun 2021 silam. Beberapa proyeknya adalah sebagai berikut :

-Pembangunan 19 lapangan sepakbola di 19 provinsi
-Pembentukan 18 Akademi Sepakbola Provinsi
-Pengembangan ofisial pertandingan, pelatih dan instruktur
-Pembentukan liga sepak bola usia muda
-Pembentukan liga sepak bola remaja U-18 di 25 provinsi/kota.

Selain peran besar dari FIFA, kemajuan sepakbola Kamboja juga tidak lepas dari dukungan penuh dari pemerintah, baik dari segi fasilitas maupun pendanaan. Terbaru saat Skuad Angkor Warrior berhasil lolos ke Kualifikasi Piala AFC 2023, pemerintah memberikan bonus Rp1,4 miliar kepada tim dan pelatih.

3. Merekrut Keisuke Honda untuk menjadi pelatih dan manajer tim


Selain fokus memperbaiki liga, Kamboja melalui FFC-nya juga sangat intens membangun timnas yang kuat. Langkah pertamanya adalah mendatangkan mantan pemain AC Milan dan Timnas Jepang, Keisuke Honda.



Honda didatangkan untuk mengisi posisi manajer tim, tapi secara peran ia juga menjalankan fungsi pelatih bersama dengan Ryu Hirose di tim senior. Namun untuk timnas U-23, Honda diberi kekuasaan penuh untuk melatih tim tersebut.

Sejak kedatangannya ke Kamboja, Honda dan Ryu Hirose telah bermain di 18 laga dan hanya 6 kali menang. Meskipun prosentase menangnya hanya sedikit, tapi yang perlu di highlight adalah Kamboja hanya kalah dengan margin gol tipis, hampir selalu bisa mencetak gol dan permainannya yang mulai membaik.

4. Punya target yang jelas

Faktor berikutnya di balik pesatnya perkembangan sepakbola Kamboja adalah punya target dan rencana yang jelas yang akan dicapai. Pertama, mereka selain fokus memperbaiki liga utama juga mulai fokus menjalankan kompetisi kasta kedua dan liga putri.

Kedua, Kamboja menargetkan dalam 10 tahun ke depan akan menjadi liga terbaik di Asia Tenggara. Ketiga, di tahun 2023 mereka menargetkan ada klub Liga Kamboja yang mentas di liga Champions Asia. Keempat, mereka punya target lolos Piala Asia 2027 dan lolos Piala Dunia 2030. Kelima, di tahun 2023, mereka menargetkan emas di Sea Games.

5. Meningkatkan mutu Liga Kamboja

“Kita harus melihat negara-negara sepakbola terkemuka di seluruh dunia. Memiliki liga profesional berkualitas tinggi akan berkontribusi pada keberhasilan tim nasional dan memperkuat ekosistem sepakbola,” ujar Sao Sokha ketua FFC di kanal Khmertimeskh.com.

Sadar akan hal tersebut, FFC dan Satoshi Saito langsung bergerak cepat melakukan perombakan liga. Langkah pertama adalah membuat regulasi ketat tentang kelayakan klub yang boleh berlaga di Liga Kamboja. Aturan tersebut meliputi status hukum, keuangan tim, infrastruktur, dan kualitas dari stadion masing-masing tim.



Langkah kedua, ia memaksimalkan branding, promosi, dan hubungan masyarakat dengan berkiblat pada J.League. Langkah ketiga adalah memangkas jumlah tim yang ikut di liga menjadi hanya 8 tim untuk beberapa waktu untuk menetapkan standar yang tinggi.

“Akan ada banyak perlawanan, tapi kami harus bisa mengatasinya untuk menjadi lebih baik. Kami perlu berubah, Jika bisa melanjutkan ini, kami akan berhasil,” kata Saito di Khmertimeskh.com.