Ini gara-gara kas klub yang berkurang dari tahun ke tahun..
Reputasi Barcelona sebagai klub elite dunia pudar pada 2022. Menurut Deloitte Football Money League, klub raksasa Katalunya itu kini tidak bisa lagi disebut tim besar. Kondisi finansial jadi parameternya.

Setiap tahun, Deloitte selalu mengeluarkan daftar keuangan klub-klub sepakbola di seluruh dunia. Posisi tiga besar biasanya tidak jauh dari Real Madrid, Barcelona, Manchester United, atau Bayern Muenchen. Klub-klub itu secara bergantian berada di papan atas.

Namun, kondisinya berubah pada 2022. Barcelona kini bukan lagi klub elite. Situasi keuangan di Camp Nou dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah Lionel Messi pergi pada 2021, membuat El Barca benar-benar jatuh ke titik terendah.

Dalam upaya untuk membuat keuangan klub menjadi lebih stabil, Barcelona mengambil keputusan berat. Mereka menjual sebagian aset agar klub dapat segera memperoleh uang tunai.

"Kami harus mengaktifkan beberapa hal, yaitu operasi ekonomi yang menyelamatkan klub dari kehancuran, dan sekarang klub sedang dalam pemulihan ekonomi," kata Presiden Barcelona, Joan Laporta, dalam sebuah kesempatan kepada Kantor Berita Spanyol, EFE.

Situasi itu memang menyulitkan Barcelona. Menurut aturan Financial Fair Play (FFP) versi La Liga, Barcelona tidak dapat merekrut siapa pun di bursa transfer Januari 2023 jika tidak ada pemain bergaji besar yang keluar. Seridaknya, tiga pemain dengan bayaran seperti Ansu Fati, Raphinha, atau Ferran Torres harus hengkang.

"Kami, dan beberapa klub La Liga lainnya, juga berusaha meyakinkan LFP (otoritas liga) agar lebih fleksibel dan mengizinkan kami jenis interpretasi lain yang dapat membantu Barcelona semakin kuat. Ini lebih fleksibel di Liga Premier daripada di Spanyol dan ini tidak masuk akal bagi saya," ungkap Joan Laporta.

Apa yang terjadi di Camp Nou otomatis membuat Deloitte mengeluarkan laporan yang negatif. Menurut mereka, Barcelona berada di peringkat ketujuh dengan pendapatan 560 juta pounds (Rp10,4 triliun) pada 2022. Mereka jauh tertinggal di belakang Real Madrid, yang menempati posisi kedua, dengan 626 juta pounds (Rp11,7 triliun).

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, ini menjadi penurunan yang signifikan. Faktanya, pendapatan Barcelona memuncak selama musim 2018/2019 ketika mengumpulkan 737 juta pounds (Rp13,8 triliun) dan menduduki peringkat pertama.

Sayangnya, sejak pandemi, pendapatan Barcelona cukup terpukul sangat keras. Pemasukan mereka turun hingga 177 juta pounds (Rp3,3 triliun).



Barcelona dan Real Madrid sebenarnya secara konsisten menempati peringkat sebagai dua klub teratas dengan pendapatan tertinggi selama dekade terakhir. Tapi, laporan terbaru mungkin menunjukkan perubahan arus. Real Madrid memang menempati peringkat kedua, meski pendapatannya turun sejak 2018/2019.

Sebaliknya, klub-klub Liga Premier berbalik mendominasi daftar Deloite. Buktinya, enam dari 10 tim teratas di daftar ini berasal dari Inggris. Manchester City memimpin dengan pendapatan sebesar 642 juta pounds (Rp12 triliun). Mereka menduduki posisi puncak untuk tahun kedua berturut-turut.



Pendapatan Barcelona versi Deloitte Football Money League

2010/2011: 395 juta pounds (Rp7,3 triliun), Peringkat 2
2011/2012: 424 juta pounds (Rp7,94 triliun), Peringkat 2
2012/2013: 423 juta pounds (Rp7,92 triliun), Peringkat 2
2013/2014: 425 juta pounds (Rp7,96 triliun), Peringkat 4
2014/2015: 492 juta pounds (Rp9,2 triliun), Peringkat 2
2015/2016: 544 juta pounds (Rp10 triliun), Peringkat 2
2016/2017: 569 juta pounds (Rp10,6 triliun), Peringkat 3
2017/2018: 606 juta pounds (Rp11 triliun), Peringkat 2
2018/2019: 737 juta pounds (Rp13, triliun), Peringkat 1
2019/2020: 626 juta pounds (Rp11,7 triliun) Peringkat 1
2020/2021: 511 juta pounds (Rp9,5 triliun), Peringkat 4
2021/2022: 560 juta pounds (Rp10,4 triliun), Peringkat 7