Ini bukan skandal Calciopoli, tapi Plusvalenza. Simak penjelasannya..
Juventus turun peringkat sangat jauh setelah dijatuhi hukuman pengurangan 15 poin di Serie A. Lantas apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini kaitannya dengan Calciopoli beberapa tahun lalu?

Akhir pekan lalu, sepakbola dunia digegerkan dengan keputusan Pengadilan Federal Italia yang menjatuhkan hukuman pengurangan 15 poin kepada Juventus. Hukuman tersebut jauh lebih keras dari tuntutan Jaksa penuntut FIGC yang hanya meminta pengurangan 9 poin.

Hukuman itu disertai larangan kepada sejumlah petinggi La Vecchia Signora. Contohnya, Andrea Agnelli, yang kena skorsing 24 bulan. Lalu, Pavel Nedved 8 bulan. Kemudian, Direktur olahraga Tottenham Hotspur saat ini, Fabio Paratici, 30 bulan.

Pertanyaannya, kasus apakah itu? Beda dengan Calciopoli 2006 yang berujung degradasi paksa ke Serie B, kali ini Juventus terjerat kasus Plusvalenza (keuntungan modal). Ini bukan suap menyuap pejabat seperti yang banyak dipahami orang-orang maupun media.

Plusvalenza pada dasarnya adalah keuntungan yang diperoleh dari penjualan pemain dari satu klub menuju ke klub lain, dengan cara yang tidak benar.

Otoritas yang berwenang di Italia merasa curiga dan tersinggung dengan beberapa transfer aneh Juventus dalam beberapa tahun terakhir. Itu termasuk kesepakatan pertukaran yang melibatkan gelandang Arthur Melo dan Miralem Pjanic dengan Barcelona.

Saat transfer dilakukan, Arthur Melo pergi dari Camp Nou menuju Turin. Sementara Miralem Pjanic dari Turin ke Camp Nou. Ini adalah barter yang tidak jujur karena sangat menguntungkan Juventus. Meski Arthur Melo gagal di Barcelona, harga pasarnya lebih tinggi dari Miralem Pjanic.

Nah, dari 62 transfer mencurigakan yang diselidiki, 42 di antaranya melibatkan Juventus secara langsung.

Klub-klub lain yang  diselidiki adalah Sampdoria, Pro Vercelli, Genoa, Parma, Pisa, Empoli, Novara, dan Pescara. Kecuali La Vecchia Signora, semuanya telah dibebaskan dari tuntunan karena tidak terbukti bersalah.



Apa yang menimpa delapan klub Serie A dan Serie B itu berbeda dengan Juventus. La Vecchia Signora juga disebut telah berbuat curang dengan menghemat hingga 90 juta euro berkat pengurangan gaji pada 2020 akibat pandemi Covid-19.

"Perusahaan menunggu publikasi alasan dan mengumumkan banding ke Sports Guarantee College dalam hal Kode Keadilan Olahraga," bunyi pernyataan resmi Juventus setelah keputusan dibacakan akhir pekan lalu.

Pengurangan 15 poin makin memperparah kondisi klub. Keuangan mereka morat-marit, dan kini juga telah kehilangan kesempatan untuk berlaga di Liga Champions. Juventus juga terancam ditinggal para pemain bintang seperti yang pernah terjadi pada Calciopoli 2006.