Salah satu yang fenomenal adalah Paolo di Canio dan Emmanuel Adebayor.
Merayakan gol seharusnya menjadi hal yang menggembirakan. Tapi, terkadang kontroversi justru terjadi ketika pemain yang baru saja menjebol gawang musuh membuat orang lain marah karena ulahnya.

Untuk menghindari terjadinya masalah terkait selebrasi, FIFA sebenarnya sudah memiliki rambu dan aturan khusus yang membuat pemain respek kepada lawannya.  Hukuman kartu kuning atau merah dari wasit, serta hukuman denda dari asosiasi sepakbola yang menaungi sudah sering dijatuhkan.

Namun, di lapangan, khususnya pada pertandingan besar, para pemain sering hilang kendali. Mereka kerap merayakan gol dengan ekspresi berlebihan. Beberapa nama bahkan pernah membuat suporter maupun pemain lawannya marah. Sementara sejumlah nama lainnya tidak membuat FIFA terkesan.

Dalam sejarah pertandingan sepakbola, baik lokal maupun internasional, terdapat banyak selebrasi semacam itu. Ada yang tercipta di liga, pertandingan uji coba, maupun turnamen besar seperti Piala Eropa atau Piala Dunia.   

Berikut ini 13 selebrasi kontroversial yang pernah dilakukan sejumlah pemain terkenal, yang memicu perdebatan secara masif dan dikenang suporter hingga hari ini:


1. Robbie Fowler

Setelah membuka skor dalam kemenangan 3-2 atas rival Merseyside, Everton, Robbie Fowler menanggapi laporan penggunaan narkoba yang tidak berdasar dengan berlutut dan berpura-pura mengisap garis batas lapangan dengan hidungnya.

Atas ulahnya, mantan penyerang The Three Lions itu langsung diselidiki  FA. Hasilnya, dia diberi larangan enam pertandingan untuk dua insiden. Satu insiden lagi adalah peselisihan dengan Graeme Le Saux.


2. Nicolas Anelka

Setelah kembali dari dua bulan absen dalam periode singkat yang penuh gejolak di West Bromwich Albion, Nicolas Anelka mencetak dua gol untuk membuka rekeningnya bagi klub dalam pertandingan melawan West Ham United pada Desember.

Penyerang asal Prancis tersebut sangat senang dan merayakannya dengan melakukan gerakan "quenelle", yang dipopulerkan oleh seorang teman komedian, Dieudonne. Tapi, gerakan itu dianggap sebagai penghormatan Nazi terbalik dengan signifikansi antisemit yang kuat.

Anelka kemudian didenda 80.000 pounds dan larangan lima pertandingan oleh FA. Tapi, dia dipecat oleh West Brom karena kesalahan besar, yaitu mengumumkan niatnya untuk keluar dari klub melalui media sosial.


3. Emmanuel Adebayor

Bertahun-tahun, Emmanuel Adebayor menjadi idola Arsenal. Tiba-tiba, dia pindah ke Manchester City dan membuat fans The Gunners marah. Lalu, ketika The Citizens bertemu Arsenal dan pemain asal Togo tersebut mencetak gol, selebrasi gila dengan berlari 100 meter ke arah suporter lawan dilakukan.

"Saya dilecehkan oleh orang-orang ini (fans) enam bulan lalu dengan menyanyikan nama saya. Pelecehan itu tanpa alasan. Bukan salah saya aku pergi karena Arsene Wenger  yang ingin menerima tawaran itu," ujar Adebayor menjelaskan aksi tersebut setelah pertandingan.

"Mereka semua bertepuk tangan pada Kolo Toure. Tapi, mereka meneriakkan pelecehan pribadi kepada saya. Bahkan, sebelum pertandingan dimulai. Jika anda melecehkan seorang pria di jalan selama lebih dari satu jam, dia akan bereaksi dan itu akan menjadi reaksi yang lebih buruk daripada perayaan gol," tambah Adebayor.


4. Paul Gascoigne

Merayakan sebuah gol Glasgow Rangers dalam laga bertajuk Old Firm di Parkhead pada 1998, Paul Gascoigne berhasil mendapatkan ancaman kematian dari IRA (gerilyawan Irlandia Utara) setelah memainkan seruling imajiner, simbol supremasi Loyalis (kelompok kontra Inggris) yang provokatif.

"Penggemar Celtic mengganggu kami dan jadi saya melakukan hal itu, The Sash. Kemudian, saya mendapat surat dari IRA yang mengancam untuk pembunuhan. Polisi memberi saya sesuatu untuk diperiksa di bawah mobil saya untuk mencari bom dan menyuruh saya meminta keluarga untuk menutup rumah jika ada orang yang menembak melalui jendela," tulis Gazza di buku autobiografinya.

Dua tahun sebelumnya, pada Euro 1996, Gascoigne juga memicu kontroversi. Setelah mencetak gol melawan Skotlandia di pertandingan kedua turnamen di Inggris, Gascoigne melakukan selebrasi dengan gaya berbaring di lantai dan rekan satu timnya menyemprotkan minuman ke mulutnya.

"Saya melihat kembali insiden kursi dokter gigi sebelum Euro 96, dan cara kami dikecam oleh media karena itu, dan tersenyum. Itu konyol, tapi itu membuat kita lebih dekat," ujar Paul Ince.

Selebrasi itu merupakan jawaban dari kritik media tentang ulah skuad Inggris saat berpesta di sebuah bar di Hong Kong. Dalam kondisi mabuk berat dan lepas kendali, Gascoigne saat itu dia duduk di kursi dokter gigi.


5. Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri

Gol dari Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri membawa Swiss meraih kemenangan penting di Piala Dunia atas Serbia. Tapi, perayaan keduanya menjadi berita utama karena memberikan penghormatan kepada tanah air keluarga mereka, yaitu Kosovo. Shaqiri dan Xhaka sama-sama merayakannya dengan membuat isyarat "Elang Albania".

"Terus terang, lawan saya sama sekali tidak menarik minat saya. Itu untuk orang-orang saya, yang selalu mendukung saya. Bagi mereka yang tidak mengabaikan saya, di tanah air saya, tempat asal orang tua saya. Ini murni emosi murni," kata Xhaka seusai pertandingan.

Dengan menghadapi potensi larangan dua pertandingan untuk perayaan dengan pesan politik, Shaqiri dan Xhaka cukup beruntung. Mereka lolos skorsing berat dari FIFA dengan hanya mendapatkan denda uang.


6. Mick McCarthy

Di tengah banyak kritik dari pendukung Ipswich Town, Mick McCarthy merayakan dengan cara yang luar biasa ketika timnya memimpin dalam Derby East Anglian melawan Norwich City. McCarthy mengeluarkan kata-kata makian plus gerakan seperti menantang berkelahi.


7. David Norris

Luke McCormick kembali ke permainan setelah dipenjara karena menyebabkan kematian dua anak saat mengemudi dalam keadaan mabuk. Penjaga gawang itu dipenjara pada 2008. Lalu, Norris menunjukkan gerakan borgol setelah mencetak gol untuk Ipswich dalam kemenangan atas Blackpool. Norris didenda dalam jumlah yang tidak diungkapkan oleh klubnya, sebelum mengeluarkan permintaan maaf yang panjang.


8. Luis Suarez

Setelah dituduh David Moyes karena sering berpura-pura dalam pertandingan (diving), Luis Suarez hanya memikirkan satu hal ketika mencetak gol untuk Liverpool melawan Everton di Goodison Park. Dia berlari ke depan bench The Toffees  tempat Moyes berdiri dengan bingung. Lalu, dia menjatuhkan dirinya ke tanah dengan gerakan seolah-olah sedang diving.


9. Graeme Souness

Graeme Souness memasang bendera Galatasaray di lingkaran tengah lapangan musuh bebuyutan, Fenerbahce. Akibatnya, oleh fans Galatasaray, dia disamakan dengan pahlawan Pengepungan Konstantinopel oleh Turki Utsmani, Ulubalti Hasan. Itu terjadi ketika timnya menjuarai Piala Turki 1995/1996.

Tindakan berani itu hampir memicu kerusuhan di antara penonton yang marah setelah derby yang menegangkan, dengan Souness mengklaim dia termotivasi setelah wakil presiden Fenerbahce menyebutnya sebagai "orang cacat" di media setelah menjalani operasi jantung terbuka.

Pada tahun 2014, penggemar Galatarasary memberikan penghormatan atas momen ikonik tersebut. Hingga sekarang foto Souness masih tersimpan di museum resmi klub dan dikenang pendukung hingga hari ini.


10. Paul Tait

Pada tahun 1995, Paul Tait mencetak gol di final saat Birmingham mengangkat Auto Windscreen Shield dengan kemenangan melawan Carlisle di Wembley. Dia adalah seorang penggemar berat Birmingham. Saat itu, dia mengangkat bajunya untuk memperlihatkan kaus bertuliskan "kotoran di Aston Villa", jelas membuat marah penggemar The Villans. Dia didenda gaji dua minggu oleh klubnya.


11. Mark Aizlewood

Mark Aizlewood mencetak gol dalam pertandingan Divisi II (sekarang Championship Division) melawan Walsall. Setelah menyundul satu-satunya gol dalam pertandingan tersebut, Aizlewood mengumpat ke arah pendukung tuan rumah. Akibatnya, dia segera ditarik keluar oleh Howard Wilkinson. Gol tersebut membuktikan sentuhan terakhirnya pada bola dengan seragam The Whites.


12. Niklas Bendtner

Niklas Bendtner merayakan dua gol melawan Portugal di Euro 2012 dengan mengangkat bajunya untuk menampilkan sepasang "celana keberuntungan" bertuliskan nama rumah taruhan Paddy Power.

Segera setelahnya, aksi penyerang Denmark tersebut menuai kontroversi dari banyak kalangan. Apalagi, aturan FIFA dan UEFA menunjukkan pemain tidak boleh menampilkan logo sponsor di final turnamen besar. Akibatnya, mantan penyerang Arsenal itu dilarang untuk satu pertandingan dan didenda 80.000 pounds.


13. Paolo di Canio

Pada 2005, Paolo di Canio mencirikan pandangan politiknya dengan menyatakan bahwa dia "seorang fasis, bukan rasis". Penggunaan salut ala Romawi kepada pendukung Lazio, sikap yang diadopsi oleh fasis Italia di abad 20, telah menimbulkan kontroversi.

Penggunaan salut ala fasis itu dilakukan dalam pertandingan melawan rival berat Lazio, AS Roma dan Livorno, yang memiliki aliran politik kiri yang bertentangan dengan fasisme. Di Canio menerima larangan satu pertandingan dan denda 7.000 euro.

"Saya akan selalu memberi hormat seperti yang saya lakukan karena itu memberi saya rasa memiliki kepada orang-orang saya. Saya memberi hormat kepada orang-orang yang memegang nilai-nilai sejati, nilai-nilai kesopanan terhadap standarisasi yang diberlakukan oleh masyarakat ini pada kita," kata Di Canio saat itu, dilansir Daily Miror.

Meski dihukum, produk-produk dengan gambar Di Canio sedang melakukan salut ala fasis telah ditampilkan pada barang dagangan tidak resmi yang dijual di luar Stadio Olimpico selama bertahun-tahun kemudian hingga hari ini.