Dia seperti menciptakan roket yang membobol gawang Arsenal.
Cristiano Ronaldo memiliki segudang gol terbaik di Liga Champions, karena dia adalah pencetak gol terbanyak di kompetisi paling prestisius di Benua Biru tersebut.

Pemain berjuluk CR7 itu mencatat 134 gol, atau 14 gol lebih banyak dari pesaing terdekatnya, Lionel Messi. Tapi, dari jumlah torehan itu, gol melalui tendangan bebas jarak jauh kontra Arsenal di semifinal Liga Champions 2009 layak diangkat ke permukaan.

Tepat 12 tahun silam, megabintang asal Portugal itu membuat sejumlah gol spektakuler. Pemain yang kini membela Juventus itu memiliki dua gol brilian yang layak dipilih.

Gol briliannya melawan mantan timnya, Sporting, cukup berkesan. Tapi, gol melawan Arsenal pada leg kedua semifinal 2009 adalah sesuatu yang istimewa.

Dalam 11 menit pembukaan yang sensasional, tendangan bebas Ronaldo dari jarak 40 yard memberi Setan Merah keunggulan 2-0 pada malam melawan rival besar mereka di Liga Premier tersebut.

 


 
Setan Merah, yang berusaha menjadi tim pertama dalam sejarah Liga Champions memenangkan gelar berturut-turut, memenangkan leg pertama di Old Trafford 1-0. Mereka berhasil menang berkat gol tunggal John O'Shea di babak pertama.

The Gunners memiliki keunggulan sebagai tuan rumah pada leg kedua, tapi keuntungan itu tak berlaku ketika MU mencetak gol tandang setelah hanya delapan menit.

Park Ji-sung berhasil menghentikan Kieran Gibb di dalam kotak penalti dan menyelipkan bola melewati Manuel Almunia, yang berarti Arsenal membutuhkan setidaknya tiga gol untuk mencapai final Liga Champions kedua mereka.

Tendangan bebas brilian Ronaldo tercipta hanya tiga menit kemudian, tapi beberapa pihak mengatakan itu bukan gol terbaik dalam permainan tersebut.

Gol CR7 tercipta setelah Nemanja Vidic menyundul bola kemudian diteruskan kepada Park. Mantan pemain Korea Selatan itu memberikan umpan cantik kepada Wayne Rooney di sisi kiri kemudian diteruskan kembali ke CR7 hingga kembali melewati Almunia.

 


 
Arsenal berhasil mendapat gol hiburan melalui gol penalti Robin van Persie. The Gunners mendapatkan itu setelah Darren Fletcher mendapat kartu merah, walau MU tak bisa protes karena belum ada VAR saat itu.

Ternyata, kartu merah pemain Skotlandia itu menjadi pukulan bagi tim asuhan Sir Alex Ferguson. MU berhasil dikalahkan Barcelona yang dilatih Pep Guardiola saat kedua tim bermain di Roma.