Klub ini unik karena dimiliki nama-nama terkenal di arena tenis, sepakbola, dan basket.
Sepakbola Spanyol memiliki cara mengelola klub yang berbeda dengan tempat lain. Dikelola layaknya negara, tim seperti Real Madrid atau Barcelona tidak dimiliki satu atau dua orang, melainkan ribuan anggota yang disebut "socios". Tapi, apakah semua klub melakukannya? 

Socios (jamak) atau socio (tunggal) bertindak semacam DPR di sebuah negara. Mereka memilih pemimpin klub dan menentukan arah kebijakan klub. Presiden klub bertanggung jawab kepada mereka dalam sebuah Sidang Umum yang dihadiri mayoritas anggota. 

Hampir semua klub di La Liga, Segunda Division, Segunda B, Tercera Division, maupun klub-klub level bawah di Negeri Matador menggunakan sistem tersebut; meski tidak semuanya.  Contohnya, Valencia, yang dimiliki Peter Lim dari Singapura. Ada lagi Espanyol dengan Rastar Group dari China. 

Tapi, dari sedikit klub yang tidak menggunakan sistem Socios, Real Mallorca yang paling menarik! 

Pada 2016, klub dari pulau terpencil Balearic tersebut terlilit hutang yang sangat besar saat bermain di Segunda Division. Lalu, sekelompok pebisnis dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, hingga Jerman datang membentuk sebuah konsorsium untuk menyelamatkan klub dari kebangkrutan. 



Mereka adalah Andy Kohlberg, Robert Sarver, Steve Nash, Graeme Le Saux, Utz Claassen. Siapa orang-orang ini?

Tiga diantara mereka adalah nama yang sangat populer di olahraga. Semua orang tahun Nash adalah legenda NBA asal Kanada. Dia menjadi bintang di Phoenix Suns, Dallas Mavericks, hingga Los Angeles Lakers. Kini, Nash sudah beralih profesi menjadi pelatih Brooklyn Nets.

Kemudian, Le Saux juga dikenal sebagai mantan pesepakbola Liga Premier. Full back kiri itu menjadi bintang di Blackburn Rovers dan Chelsea, serta memiliki 36 caps dan satu gol untuk The Three Lions. Sementara Kohlberg dikenal sebagai mantan petenis  profesional AS dengan spesialisasi di ganda putra.

Dua nama lain, Sarver dan Claassen, memang bukan olahragawan. Mereka adalah pebisnis dan eksekutif perusahaan. Tapi, reputasi mereka sangat bagus. Sarver adalah pengusaha perumahan yang tercatat sebagai pemilik Phoenix Suns. Sedangkan Claassen adalah orang yang membantu anak perusahaan Volkswagen di Spanyol, SEAT, sukses.

"Ini adalah pernyataan yang meremehkan jika mengatakan usaha kami akan sia-sia (menguasai Mallorca). Ini merupakan tantangan, dan kami telah mengatasinya. Sulit untuk merencanakan jangka panjang ketika anda tidak yakin akan berada di divisi apa tahun depan, dan semoga kami bisa membuat beberapa kemajuan," kata Kohlberg kepada BBC Sport.



Hanya tiga tahun setelah pengambilalihan itu, Mallorca mencapai La Liga. Tapi, hanya bertahan setahun untuk selanjutnya kembali ke Segunda Division. Musim ini, mereka kembali ke kasta tertinggi.

"Kohlberg bertekad untuk membentuk budaya kemenangan, dengan fokus pada akademi klub dan program pengembangan sambil meningkatkan skuad bermain melalui akuisisi cerdas. Dia meninggalkan bisnisnya (di AS) untuk fokus di sepakbola," kata Nash.

"Saya membawa perspektif berbeda. Saya tahu seperti apa mentalitas atlet papan atas dan saya menerapkan pengetahuan itu ke olahraga lain. Saya membawa pemahaman yang sedikit berbeda dari pria pebisnis biasa atau pemain sepakbola," tambah pebasket yang menghabiskan 17 tahun bersama Suns.

Dengan La Liga yang sekarang memperbolehkan 100% kehadiran penonton lagi dan pembatasan perjalanan berkurang, keterlibatan penggemar juga menjadi agenda utama. Selain pizza yang lezat di stadion, Mallorca juga menawarkan "klub terowongan" pertama di Spanyol. 

Itu adalah dinding kaca satu arah berbentuk terowongan. Fans bisa berada di sana saat para pemain menuju ruang ganti atau bisa ikut menyaksikan sesi konferensi pers langsung. Itu dikombinasikan dengan tribun VIP mini yang akan memanjakan penggemar. Ha-hal itu mirip yang ada di NBA.

"Kuncinya adalah membawa mentalitas Amerika (dalam bisnis olahraga). Kami memiliki strategi yang sangat jelas untuk menangani kepentingan dua jenis penggemar. Kami memiliki pendukung inti kami, tapi kami juga memiliki 13 juta turis yang datang ke pulau ini setiap tahunnya," ujar Kohlberg.

Untuk menarik perhatian penggemar internasional, Mallorca tidak lupa mendatangkan pemain-pemain asing dari enam konfederasi anggofa FIFA. Bahkan, untuk menarik wisatan Jepang mereka mempekerjakan Takefusa Kubo. Ada pula Lee Kang-in dari Korea Selatan.

Mallorca memproduksi konten mereka sendiri untuk penonton klub Jepang dan Korea dengan barang-barang dagangan yang mudah diakses. Hasilnya, Mallorca menjadi klub ketiga di Spanyol setelah Madrid dan Barcelona dengan penonton Youtube terbanyak di Spanyol. Tentu saja itu karena dua pemain Asia.

"Ya, pertama-tama kita membuat keputusan sepakbola. Apakah mereka pemain yang tepat, nilai yang tepat, apakah mereka cocok? Itu kewenangan pelatih kami dan itu (aspek teknis) keputusan utama," kata Kohlberg.

"Fakta bahwa kami bisa mendapatkan keuntungan dan melakukan beberapa hal serupa dengan apa yang kami lakukan dengan Kubo di Jepang atau Kang-in di Korea, atau Matthew Hoppe di AS. Ini menjadi semacam lapisan gula pada kue yang menjadi daya tarik tambahan," tambah Kohlberg.



Kohlberg percaya jika skuad mereka memiliki perpaduan produktif antara pemain muda dan berpengalaman. Itu karena Luis Garcia Plaza selaku pelatih menaruh kepercayaan pada anak muda untuk mempertahankan identitas klub.

"Mereka (Mallorca) terbuka untuk memainkan pemain muda jika mereka cukup bagus. Mereka bersedia memberi mereka kesempatan dan bertaruh, membantu mereka maju dan membawa permainan mereka ke level berikutnya," kata Hoppe.

"Latihannya sangat intens, pergerakan bolanya sangat cepat, satu, dua sentuhan, berbeda dengan di Jerman. Ini jauh lebih cepat. Dia adalah pelatih yang suka menjaga bola, suka mendominasi permainan, dan membuat rencana dengan penyerang. Terkadang dia ingin kami berlari ke belakang untuk memanfaatkan ruang atau mengeksploitasi pemain bertahan tertentu atau mengincar bola," ungkap Hoppe.

Hoppe juga mengetahui bahwa Garcia memiliki persentase besar dalam menjaga lemak di tubuh pemain dan memastikan para pemainnya dalam kondisi terbaik. "Ini budaya yang sama sekali berbeda dari Jerman," tambah pemain yang didatangkan dari Schalke 04 itu.

"Ini adalah tempat yang bagus, dengan makanan yang luar biasa dan pulau yang menakjubkan. Ini jelas salah satu tempat terbaik di dunia untuk bermain sepakbola," pungkas Hoppe.