Cerita yang selama ini tersembunyi....
Kita tarik garis waktu mundur ke tahun 1964, adalah tahun ketika Ken Monkou lahir, ia tak lain merupakan seorang pria berkebangsaan Suriname, yang kelak akan membela Chelsea.

Monkou kecil dibesarkan di Belanda oleh orang tuanya dan memulai karier sepak bola bersama RK-VVP, selain itu sewaktu remaja ia juga pernah bersama Feyenoord, yang sekaligus menjadi anak tangga dalam karier profesional Monkou sebagai seorang bek andal.

Setelah tiga tahun berkarier di Feyenoord, ia memutuskan untuk hijrah ke Inggris. Tak tanggung-tanggung, klub pertama yang tertarik pada bakatnya adalah Chelsea, ia datang di Stamford Bridge dengan bakat dan tekad yang besar pada Maret 1989.

Terhitung sejak saat itu, 3 tahun ia habiskan di London dengan total 86 penampilan dan sumbangan masing-masing 2 gol serta 2 assist.



Ia juga sempat berkelana ke klub Liga Premier lain, diantaranya Southampton dan Huddersfield sebelum akhirnya kembali ke Chelsea pada musim 2002/03 dan akhirnya memutuskan gantung sepatu.

“Saya tidak berpikir banyak orang menyadari bahwa saya mengakhiri karier saya di Chelsea," ucap Monkou kepada Four Four Two.

Bahkan Monkou masih ingat persis waktunya di Stamford Bridge.

"Saya kembali sebagai pemain cadangan di bawah asuhan Claudio Ranieri pada 2003. Saya melakukan debut kedua saya pada usia 38 tahun melawan Aston Villa, tetapi betis saya cedera dan sebagai gantinya Robert Huth melakukan debutnya. Itu menjadi pertandingan terakhir saya," tambahnya.

Memilih Berkecimpung di Dunia Bisnis

Selepas gantung sepatu, Monkou kembali ke Belanda dan membeli rumah kecil dan alih-alih meneruskan karier sebagai pelatih, ia memilih memulai bisnis kuliner.

"Kembali ke Belanda, orang tua saya menjalankan bar dan saya selalu ingin memulai sesuatu seperti itu ketika saya pensiun, kedai kopi atau teh. Jadi, saya pergi ke pemilik rumah pancake tua yang biasa saya kunjungi saat berusia 16 tahun," tuturnya.

"Saya bertanya apakah bisa berkeliling dan mendapatkan pengalaman baru. Dia berkata, 'Kapan saja, Ken, tapi apa kau tahu tempat ini dijual?'.  Delapan bulan kemudian saya adalah pemiliknya," jelas Monkou tentang awal mula dari bisnis tersebut.



Tempat itu disebut 'Old Town Pancake House' dan berada di sebuah bangunan yang sudah ada dari tahun 1682 di Delft, dekat daerah Rotterdam. Ia kemudian merenovasi beberapa bagian dari rumah itu dan dengan mantap ia menjalankan bisnis miliknya sendiri.

Dengan lucu, Monkou menceritakan pengalamannya saat memulai bisnis.

"Cukup jauh perbedaannya, dari bermain [sepak bola] hingga berdiri di belakang kompor sambil membalik pancake. Itu bagus dan bagi saya itu olahraga. Karena hanya ada Anda berdua di dapur ketika mencoba membuat 150 pancake sehari. Saya rasa tidak ada pesepakbola saat ini yang akan melakukannya!" terang Monkou.

Uniknya tak jarang beberapa dari pelanggannya mengenali Monkou.

"Cukup lucu melihat wajah mereka ketika datang. 'Saya kenal dia dari suatu tempat,' tiru Monkou.

"Kami memiliki beberapa penggemar Chelsea karena seseorang mengambil foto saya di sana dan mereka menyimpannya. Jadi, saya yakin rekan satu tim lama saya akan mulai datang untuk mendapatkan pancake gratis juga," candanya.

“Saya memiliki dapur terbuka, antara tengah hari dan jam 2 siang kami memiliki sekitar 150 pelanggan yang semuanya akan melihat saya membuat pancake," imbuhnya.



Namun sayangnya, bisnis Monkou itu tak bertahan lama. "Kami memulainya pada 2007 dan selesai pada 2009. Kami tidak dapat mempertahankannya karena saya bepergian antara Inggris dan Belanda, tetapi itu bisnis yang cukup bagus," 

Dan kini, Monkou kembali aktif bekerja sebagai bagian dari Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional (PFA) di Inggris. Selain itu, ia juga kerap mengisi beberapa acara di media Belanda dan Chelsea TV.

“Saya telah melakukan cukup banyak pekerjaan di Chelsea, sedikit TV dan radio, saya juga seorang duta untuk PFA,” ucap pria yang sebentar lagi menginjak usia 57 tahun.