Selamat Ulang Tahun!

Boleh Pilih Tim Wanita atau Pria, Jerman Izinkan Pemain Transgender

"Jangan dikaitkan dengan keyakinan. Ini bisa dijelaskan secara ilmiah.."

Analisis | 24 June 2022, 13:31
Boleh Pilih Tim Wanita atau Pria, Jerman Izinkan Pemain Transgender

Libero.id - Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB) berencana membuat aturan yang revolusioner. Lembaga yang bertanggung jawab mengawasi Bundesliga itu akan mengizinkan transgender bermain sepakbola secara bebas. Bahkan, sang pemain bisa memilih apakah ingin membela tim pria atau wanita.

Selain Prancis, Inggris, Italia, atau Belanda, DFB menjadi salah satu asosiasi anggota FIFA dan UEFA yang rajin melakukan eksperimen. Kali ini, mereka sedang berusaha bereksperimen dengan batasan gender.

Nantinya, DFB tidak lagi mengisyaratkan data identitas diri seperti akta kelahiran atau jenis kelamin bagi pemain-pemain sepakbola yang ingin terlibat di Bundesliga, Bundesliga 2, 3.Liga, hingga Regionaliga. DFB mengeluarkan peraturan baru untuk pemain dengan status "beragam" atau "tidak ditentukan".

Maksudnya, pemain dengan jenis kelamin yang telah berubah tidak lagi dipermasalah. Mereka bebas memilih tim mana yang ingin diperkuat. "Pemain transgender dapat beralih pada waktu yang ditentukan sendiri atau tetap berada di tim tempat mereka bermain sebelumnya," tulis pernyataan resmi DFB.

"Selama aktivitas olahraga tidak mempengaruhi kesehatan saat mereka minum obat, orang tersebut dapat mengambil bagian dalam permainan. Itulah sebabnya peraturan baru mengecualikan relevansi doping," bunyi lanjutan pernyataan itu.

Aturan ini telah diuji di tingkat negara bagian oleh Asosiasi Sepakbola (Asprov) Berlin sejak 2019. Hasilnya dianggap cukup adil sehingga akan mulai berlaku secara nasional pada awal musim baru 2022/2023. Tapi, untuk tahap pertama akan diberlakukan di sepakbola junior, futsal, dan amatir.

10 Foto Selebrasi Gelar Perdana Eropa bagi AS Roma

10 Foto Selebrasi Gelar Perdana Eropa bagi AS Roma

"Pengalaman telah menunjukkan, ini tidak membahayakan integritas kompetisi. Sebab, semua orang memiliki kekuatan dan kemampuan fisik yang berbeda, yang hanya mengarah pada kesuksesan bersama dalam sebuah tim, terlepas dari jenis kelaminnya," tulis DFB.

Pendekatan yang dilakukan DFB ini sangat kontras dengan badan-badan olahraga lainnya, baik di Jerman maupun internasional.

Federasi Renang Internasional (FINA) misalnya, justru memperketat aturan transgender yang bersaing dalam olahraga wanita. Baru-baru ini mereka memutuskan melarang transgender dari kompetisi elite wanita jika telah mengalami bagian dari pubertas pria.

Hal sama tampaknya akan diterapkan di atletik dan rugby. Sementara bulutangkis, hoki, thriatlon, dan kano sedang melakukan kajian. "Itu (yang dilakukan FINA) demi kepentingan terbaik olahraga. Kemungkinan kami akan mengikuti mereka," kata Presiden Federasi Atletik Internasional (IAAF), Sebastian Coe.

Masalah atlet transgender sudah lama muncul dan menjadi isu global. Ini bukan terkait ajaran agama atau budaya sebuah komunitas. Ini murni ilmiah. 

Penelitian menunjukkan, atlet transgender yang masuk dalam kategori olahraga wanita dianggap tidak fair. Pasalnya, ada hormon pria yang yang masih ada, yang tidak dimiliki wanita tulen. Itu membuat mereka memiliki kekuatan yang lebih dari atlet wanita.

(diaz alvioriki/anda)




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Opini

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=L58V31TpE44

Artikel Pilihan


Daun Media Network