Kisah Tim Cahill, Terciptanya Legenda Australia Bermula Utang Rp 180 Juta

Biografi | 11 July 2020, 11:17
Kisah Tim Cahill, Terciptanya Legenda Australia Bermula Utang Rp 180 Juta

Dia sudah bermain di empat benua. Mengakhiri karier di India dan menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Australia.

Libero.id - Salah satu pemain dari anggota Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) yang memiliki kontribusi luar biasa untuk dunia dan khususnya Liga Premier, adalah Tim Cahill. Cahill memutuskan untuk pensiun pada tahun 2019 lalu dengan mengemas kurang lebih 707 pertandingan di semua level klub dan kompetisi serta mencetak lebih dari 600 gol.

Mantan pemain Everton dan New York Red Bulls itu juga merupakan bagian integral untuk timnas Australia dalam 14 tahun terakhir, terutama ketika membawa  The Socceroos menjuarai Piala Asia 2015 lalu.

Sekarang ayah dari 2 anak itu lebih banyak berperan di luar lapangan sebagai pengurus akademi klub dan terbaru sebagai brand ambassador Piala Dunia 2022 di Qatar.

PERJALANAN AWAL

Memulai karier sepakbolanya di usia 16 tahun, Cahill sudah bisa merasakan atmosfer Inggris bersama di tim muda Millwall FC selama satu musim.

Perjalanannya ke sana tidak mudah. Dia mengaku semasa muda mendapat cibiran karena posturnya yang kecil. Untuk itu, dia harus berlatih di trampoline demi mempercepat larinya. Begitu pula sit up dan push up sebelum tidur agar tenaganya bertambah.

Untuk ke Inggris, ayahnya harus berutang 10 ribu pounds atau Rp 180 juta demi membiayai kariernya. Ibunya mengaku selalu menangis setiap ditelepon Cahill mengingat mereka harus berpisah di usia semuda itu.

Pada akhir tahun 1998, dirinya mendapat panggilan ke tim utama klub berjuluk The Lions tersebut dan tak butuh waktu lama, Cahill langsug menjadi pemain kunci dengan membawa Millwall ke final Piala FA 2003/04.

Di musim 2004/2005, Cahill langsung didatangkan oleh Everton dengan mahar 1,5 juta Poundsterling. Di musim pertamanya berseragam The Toffees, Cahill lansung bisa nyetel dengan taktik yang diterapkan oleh David Moyes dan keluar sebagai top skor klub dengan raihan 12 gol serta membawa Everton maraih satu tiket ke kualifikasi Liga Champions.

JASA UNTUK EVERTON

Mungkin kalau berbicara soal Tim Cahill, masa terbaiknya ada di Goodison Park. Kualitasnya dalam membobol gawang serta selebrasi uniknya akan selalu dikenang oleh penggemar Liga Inggris. Bersama Everton, Cahill mengemas 226 penampilan dengan 56 gol yang berhasil ia ciptakan.

“Kami tidak bisa menjamin kamu akan bermain, tapi kami tahu kamu banyak membuat gol, kami tahu kamu berbahaya, dan kami tahu kamu juga punya energi,” ujar David Moyes ketika awal kedatangannya ke klub.

Hanya semusim setelah menjadi top skor klub, Cahill langsung masuk dalam nomiasi FIFA Ballon d’Or 2006 bersama dengan nama beken seperti Messi, Zidane, Ronaldinho dll.

Pada musim 2000-an awal, memang tim David Moyes juga banyak diperkuat oleh pemain-pemain yang cukup hebat untuk bersaing dengan tim-tim papan atas seperti Manchester United , Arsenal dan Chelsea. Ada nama Yakubu, Victor Anichebe, Louis Saha, Leighton Baines, Joleon Lescott, Phil Neville, Tim Howard, Marouane Fellaini, Mikel Arteta serta Cahill yang membuat The Toffees masuk dalam tim “Big Five” Liga Premier selama beberapa musim.

Kendati performanya sangat impresif, Cahill tetap lah pemain bola yang tak mungkin bisa menghindar dari cedera. Pada musim 2006/07, Cahill mengalami cedera parah yang harus membuatnya menepi selama satu musim penuh.

Adapun beberapa rekor Cahill bersama Everton sebagai berikut ;

-Pemain Everton pertama sejak Neville Southall pada tahun 1988 yang mendapat nominasi untuk Ballon d'Or
-Pemain Everton pertama sejak Dixie Dean pada tahun 1931 yang berhasil mencetak gol dalam tiga derby Merseyside di Anfield
-Pemain Everton yang mencetak banyak gol dari pemain Everton lainnya dalam derby Merseyside

BERSAMA TIMNAS AUSTRALIA

“Ketika kamu memilih bermain untuk Australia dan Premier Legue, itu adalah resep untuk bencana. Kamu akan menyelesaikan permainan pada hari Sabtu, terbang Minggu, sampai di sana Senin malam dan berlatih Selasa, bermain pada hari Rabu, lalu terbang kembali saat Anda mendapat pertandingan pada hari Minggu. Saya melakukan itu berkali-kali dengan Everton – itu sebabnya kamu harus membuat keputusan yang lebih baik nanti dalam karier agar bisa terus bermain. Itu alasan besar mengapa saya meninggalkan Everton,” ujar Cahill.

Dirinya resmi meninggalkan Inggris pada musim 2011/12 dengan bergabung bersama tim MLS, New York Red Bulls, tim yang pernah dibela oleh Thierry Henry. Tiga musim bersama klub berjuluk The Metros itu, Cahill kemudian bergabung dengan klub asal China, Shanghai Shenhua dan Hangzhou Greentown.

Dirinya yang saat itu berada di usia 37 tahun memilih kampung halamannya, Australia sebagai pelabuhan selanjutnya dengan memakai seragam Melbourne City. Berpikir bahwa disana adalah akhir karirnya, Cahill justru bermain satu musim untuk Millwall pada musim 2018 sebelum akhirnya memutuskan pensiun di India bersama Jamshedpur usai mengemas 11 penampilan dan 2 gol.

Berbicara soal kariernya bersama timnas Australia, pemain kelahiran Sydney tersebut memang layak disebut sebagai legenda. Memulai debutnya bersama The Socceroos pada tahun 2004, Cahill menjadi pemegang caps terbanyak kedua setelah Mark Schwarzer dengan 108 caps. Dirinya juga merupakan pencetak gol terbanyak Australia dengan raihan 50 gol dan keikutsertaanya dalam 3 ajang Piala Dunia (2006, 2010, 2014) serta mencetak gol dalam 3 turnamen bergengsi tersebut, sulit rasanya untuk pemain Australia lainnya mengejar raihan individu seorang Tim Cahill.

BRAND AMBASSADOR

Sudah hampir satu tahun berlalu Cahill pensiun, dirinya menikmati masa pensiunnya dengan fokus menjadi aktor di luar lapangan hijau. Menjadi pengurus di akademi muda Everton, rasanya adalah hal yang tepat untuk Cahill dengan berbagai perjuangan dan pengalamannya. Di bulan Agustus 2019, Cahill menerima pinangan Everton.

Berkerja hingga 31 Maret 2020, Cahill kini menjadi ambassador Supreme Committee for Delivery & Legacy (SC) dalam pergelaran Piala Dunia 2022 mendatang di Qatar,

“Meskipun saya lebih suka berada di sana secara pribadi, saya tetap merasa terhormat dan bersemangat untuk ambil bagian secara virtual ketika penyelesaian Education City Stadium,” ujarnya kepada the-afc.com.

Pada peresmian Education City Stadium 15 Juni lalu, pemain yang dijuliki dengan nama “Tiny Timy” itu merasa unik dengan stadion tersebut,

“Saya telah berbicara sebelumnya tentang kekuatan olahraga untuk menyatukan kita dan membantu kita. Bagi saya, ini adalah salah satu alasan mengapa pembukaan Stadion ini begitu menarik, bukan hanya karena desain dan penampilan yang luar biasa, tetapi karena apa yang mewakili Kota Pendidikan, dan stadion itu sendiri, ” lanjut Cahill.

Selain itu, Cahill juga mengingatkan pentingnya untuk berlatih keras kepada anak-anak muda yang ada di Qatar,

“Stadion Education City mewakili crossover dari dua bidang yang saya sangat sukai - olahraga dan pendidikan. Setiap kali saya berbicara dengan anak-anak muda, saya selalu mengatakan kepada mereka untuk berlatih keras dan mengikuti impian mereka, tetapi saya juga memberitahu mereka untuk melakukan upaya yang sama di sekolah dan dengan pekerjaan rumah mereka.”






Artikel Terkait

Artikel Terpopuler