Tidak Seperti Pratama Arhan, Mayoritas Pesepakbola Sangat Rawan Gagal Jika Melakukan Lemparan ke Dalam, Kenapa?

"Melakukan lemparan ke dalam membutuhkan kreativitas hingga psikologi yang baik."

Analisis | 26 May 2023, 22:58
Tidak Seperti Pratama Arhan, Mayoritas Pesepakbola Sangat Rawan Gagal Jika Melakukan Lemparan ke Dalam, Kenapa?

Libero.id - Dalam beberapa pekan terakhir nama Pratama Arhan menjadi sorotan karena lemparan ke dalamnya.

Jauh sebelum bermain untuk Tokyo Verdy, Pratama Arhan memang sudah dikenal pecinta sepakbola Tanah Air dengan lemparan ke dalamnya.

Selama bermain untuk PSIS Semarang, Pratama Arhan kerap kali membantu Laskar Joko Tingkir mencetak gol melalui lemparan ke dalam.

Namun tahukah kamu bahwa rupanya mayoritas pemain sepak bola sangat buruk dalam melakukan lemparan ke dalam?

Yap seperti dilansir dari The Guardian, dalam pertandingan sepak bola mana pun, tingkat kegagalan lemparan ke dalam sangat tinggi.

Dan dalam sebuah studi yang dilakukan oleh media kenamaan asal Inggris tersebut, ada lima alasan kenapa pemain sepak bola sangat buruk dalam melakukan lemparan ke dalam.

1.Ambisi yang Berlebihan

Terkadang pesepakbola yang terlalu bersemangat dalam melakukan lemparan ke dalam justru tidak tepat sasaran ke rekan setimnya.

Para pemain seperti ini dengan sesuka hatinya mengangkat bola ke arah yang diinginkannya dan tim musuh jelas sangat menyukai hal tersebut.

2.Rekan Setim Tidak Pandai Mencari Celah

Pelempar ke dalam mungkin siap untuk melakukan sesuatu yang masuk akal, tetapi rekan satu timnya tidak memberinya kesempatan.

Mereka hanya berdiri di sekitar lawan dan biasanya terlalu jauh bagi sang pelempar untuk memberikan bola ke arah mereka.

Dengan batasan waktu yang sangat singkat, sulit bagi pelempar ke dalam melakukan tugasnya jika rekan setim tidak mampu mencari celah, akhirnya bola dilemparkan secara semi-acak ke lapangan.

3.Tidak Bisa Berpikir Jernih

Kadang-kadang pelempar tidak bisa membuat keputusan, baik karena ambisinya sendiri atau dalam beberapa kasus, cacat psikis yang mendalam, mungkin disebabkan oleh pengalaman hidupnya.

Gejala di sini termasuk gerakan spasmodik dan tidak dapat dipahami dengan satu tangan, saat tangan lainnya mencengkeram bola; memutar leher dengan cepat dan panik, disertai dengan mata melotot dan akhirnya bola dilemparkan secara semi-acak ke lapangan, dll.

(muflih miftahul kamal/muf)

Baca Berita yang lain di Google News




  • 0% Suka
  • 0% Lucu
  • 0% Sedih
  • 0% Kaget

Opini

(500 Karakter Tersisa)

Artikel Pilihan


Daun Media Network