Selamat Ulang Tahun!

5 Pemain Terbaik di Era 90-an yang Seakan Terlupakan

"Siapa tidak kenal sepak terjang Dejan Savicevic bersama AC Milan. Kini Savicevic menjadi presiden Asosiasi Sepak bola Montenegro sejak 2004. Lima periode!"

Biografi | 16 December 2020, 00:17
5 Pemain Terbaik di Era 90-an yang Seakan Terlupakan

Libero.id - Tidak ada yang kekal, pun begitu dengan karier seorang pesepakbola. Paling terbaru adalah kabar mengenai Lionel Messi yang akan segera meninggalkan Barcelona. Itu artinya tidak ada lagi kisah romantis antara klub historis itu dengan La Pulga.

Tidak dapat dipungkiri bahwa, Messi adalah pemain yang hebat dan sangat jelas ia telah meninggalkan salah satu warisan terhebat sepanjang masa di Barcelona, dan dongeng mengenai kapten Argentina itu layak diceritakan kepada generasi berikutnya.

Namun, jauh sebelum Messi, sebenarnya ada banyak talenta hebat era 90-an yang saat ini telah terlupakan. Setidaknya ada 5 pemain yang paling menonjol pada era tersebut, siapa saja pemain tersebut? Berikut ulasannya:

1. Yordan Letchkov

Dengan rambut yang tipis di depan hingga kepala bagian belakang dan hanya menyisahkan rambut di kanan kiri sisinya, penampilan Letchkov itu mungkin sesuatu yang langka saat ini, bahkan karena rambutnya itu, ia lebih sering dianggap sebagai seorang akuntan daripada pesepakbola, tetapi pria yang dijuluki "The Magician" itu adalah pemain yang sangat berbakat.

Diberkati dengan visi dan kemampuan teknis yang hebat, dan dengan sedikit keras dalam bermain, kegemilangan Letchkov sayangnya dibayangi oleh rekan senegaranya, Hristo Stoichkov. Temperamen Letchkov bisa dibilang berkontribusi pada karier klubnya, termasuk masa-masa sulit di Hamburg dan Marseille. Letchkov hanya mengemas 45 caps bersama timnas Bulgaria, tetapi semuanya datang bersamaan ketika ia dan Hristo Stoichkov mencuri perhatian di Piala Dunia 1994.

Kini Letchkov memiliki serangkaian hotel mewah; ia memiliki karier politik yang sukses sebagai walikota di kota asalnya, Silven - meskipun, tampaknya karier politiknya sama kacau dengan karier sepak bolanya. Dan untuk waktu yang pendek, ia juga sempat menjadi wakil presiden dari Bulgarian Football Union.

2. Matthias Sammer

Sammer adalah pemain Jerman terakhir yang sukses memenangkan Ballon d'Or, tepatnya pada tahun 1996. Pada saat itu,  pria jebolan akademi Dynamo Dresden  itu telah beralih dari seorang gelandang menjadi peran libero - posisi penyapu yang dipopulerkan oleh rekan senegaranya seperti Franz Beckenbauer dan Lothar Matthaus.

Sammer menghabiskan awal kariernya dengan membintangi Dynamo Dresden di Jerman Timur, mencatat 23 caps untuk negara pecahan sebelum penyatuan. Karier emasnya berada saat ia membela Stuttgart dan Inter Milan, tapi di Borussia Dortmund, Sammer benar-benar membuat namanya menjadi besar. Tampil gemilang dalam balutan seragam kuning hitam, Sammer menjadi kapten Dortmund saat meraih gelar Liga Champions pada 1997 - setahun setelah memenangi Euro 96 bersama tim panser Jerman.

Usai pensiun, Sammer memiliki waktu singkat sebagai manajer, yakni saat menakhodai Dortmund dan Stuttgart. Baru-baru ini, ia bertindak sebagai konsultan untuk klub-klub di Jerman, menjadi penasihat bagi Bayern Munich dan Borussia Dortmund dalam periode yang berbeda.

3.Dejan Savicevic

Pemain kelahiran 15 September 1966  itu memiliki masa-masa indah bersama salah satu klub top Eropa, yakni AC Milan. Dipekerjakan sebagai penyerang kedua atau gelandang ofensif, Savicevic bukanlah pencetak gol yang produktif, tetapi ia adalah tipikal pemain yang penuh tipu daya dan menjadi bagian integral dari kesuksesan Milan di pertengahan 90-an, meskipun dalam perjalanannya Savicevic memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan Fabio Capello, manajer I Rossoneri saat itu.

Namun, yang sering terlewatkan dalam karier Savicevic adalah waktunya dihabiskan di Red Star Belgrade, dengan tim Yugoslavia itu memenangkan Piala Eropa 1991.

Kini Savicevic menjadi presiden Asosiasi Sepak bola Montenegro sejak 2004, dan baru saja mendapatkan masa jabatan kelima sebagai ketua.

4. Sonny Anderson

Libero.id

Kredit: asmonaco.com

Memang Anderson hanya mengemas 6 penampilan untuk timnas Brasil dan jika dilihat kembali, itu cukup beralasan karena ia muncul saat tim Samba dipenuhi oleh banyak pemain berbakat seperti Romario dan Bebeto, kemudian Rivaldo, Ronaldo dan Ronaldinho, yang kesemuanya bermain di lini depan.

Bagaimanapun,  Anderson adalah pemain yang sukses memenangkan gelar di mana pun ia berada; baik itu Liga Swiss, Ligue 1 atau La Liga. Tugas bersama Barcelona dan Lyon dikenang, tetapi  penampilan Anderson saat membela AS Monaco adalah yang terbaik, finis sebagai pencetak gol terbanyak di Ligue 1 saat klub mengamankan gelar liga pada tahun 1997.

Usai pensiun pada tahun 2007, Anderson sempat melatih Neuchatel Xamax di Swiss dan mengalami kegagalan di sana. Dalam kabar terbaru,  pemain yang kini berusia 50 tahun itu kini lebih sering menjadi komentator di ajang Liga Champions dan sepak bola Prancis dalam beberapa kesempatan.

5. Miguel Angel Nadal

Libero.id

Kredit: fcbarcelona.com

Selama 22 tahun berkarier di lapangan hijau,  Nadal hanya pernah membela dua tim, yakni Mallorca dan Barcelona. Pada tahun 2005, bek tangguh ini memutuskan pensiun usai membuat lebih dari 400 penampilan di La Liga.

Saat membela Blaugrana, Nadal masuk ke dalam "Tim Impian" tahun 1990-an - di mana ia memenangkan lima gelar La Liga dan Piala Eropa 1992. Pemain yang mendapat julukan "The Beast" itu telah  membuat 62 penampilan untuk Spanyol, dan salah satu momen yang paling menyakitkan dalam hidupnya adalah gagal mengeksekusi penalti melawan Inggris dalam adu penalti di babak perempat final Euro 96.

Dia adalah paman bintang tenis Rafael Nadal, dan sempat menjadi direktur olahraga Los Bermellones di pertengahan 2010-an.




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=HgyPUs_08U4

Artikel Pilihan