Selamat Ulang Tahun!

6 Negara Anggota FIFA yang Memutuskan Pindah Konfederasi

"Taiwan misalnya, pernah pindah ke zona Oecania. Israel juga hengkang dari Asia."

Feature | 17 December 2020, 13:05
6 Negara Anggota FIFA yang Memutuskan Pindah Konfederasi

Libero.id - Ketika didirikan pada 9 Juli 1916, Konfederasi Sepakbola Amerika Selatan (CONMEBOL) hanya mengakomodasi negara-negara di selatan Amerika yang berbahasa Spanyol dan Portugis. Akibatnya, Suriname, Guyana, dan Guyana Prancis harus bergabung dengan Konfederasi Sepakbola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF).

Secara geografis, seharusnya ketiga negara ini berkompetisi di CONMEBOL bersama Brasil, Argentina, Uruguay, Paraguay, Chile, Peru, Ekuador, Kolombia, Bolivia, dan Venezuela. Tapi, karena perbedaan sejarah, budaya, dan bahasa, Suriname, Guyana, dan Guyana Prancis harus terbuang.

Secara tim, Suriname, Guyana, dan Guyana Prancis memang tidak memiliki prestasi yang pantas dibanggakan. Mereka juga belum pernah tampil di Piala Dunia. Yang dikenal dari ketiga negara adalah diaspora mereka di Eropa yang menjadi pesepakbola hebat. Ruud Gullit, Clarence Seedorf, Patrick Kluivert, hingga Florent Malouda jadi beberapa contohnya.

Uniknya, kasus seperti Suriname, Guyana, dan Guyana Prancis tidak hanya terjadi di Amerika. Di Asia, Eropa, dan Oceania, terdapat beberapa negara yang tidak bermain sesuai wilayah geografisnya. Bedanya, negara-negara tersebut dengan sengaja meminta pindah konfederasi dengan alasan yang bervariasi.

Berikut ini 6 negara anggota FIFA di Asia, Eropa, dan Oceania, yang memutuskan pindah konfederasi:


1. Selandia Baru (AFC-OFC)

Ketika Konfederasi Sepakbola Oceania (OFC) belum dibentuk, Asosiasi Sepakbola Selandia Baru (NZF) memilih bergabung dengan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC). Mereka menjadi keluarga besar sepakbola Asia pada 1964.

Namun, kebersamaan Selandia Baru dengan AFC hanya berlangsung 2 tahun. Pada 1966, Selandia bersama Australia, Fiji, dan Papua New Guinea mempelopori pembentukan OFC. Bahkan, hingga hari ini Selandia Baru menyediakan Auckland sebagai tempat OFC berkantor. Selandia Baru juga penguasa tunggal OFC dengan rekor 5 Piala Oceania.

Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir ini terdapat usulan baru untuk mengeluarkan Selandia Baru dari OFC. Tujuannya bukan AFC, melainkan CONMEBOL yang terpisah lautan luas ribuan kilometer.


2. Israel (AFC-UEFA)

Libero.id

Kredit: instagram.com/israel_football_association

Asosiasi Sepakbola Israel (IFA) menjadi anggota AFC sejak 1954 atau 5 tahun setelah deklarasi kemerdekaan di tanah bekas Mandat Inggris di Palestina.  Klub-klub dan tim nasional Israel secara aktif bertanding menghadapi negara-negara anggota Asia lain, meski mendapatkan boikot dari tim-tim dari Arab atau negara Muslim seperti Indonesia dan Pakistan. Mereka termasuk salah satu pendiri AFC.

Prestasi Israel di AFC tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka pernah menjuarai Piala Asia 1964. Israel juga dua kali menjadi runner-up, yaitu 1956 dan 1960. Begitu pula dengan klub-klub Israel. Contohnya, Maccabi Tel Aviv yang juara Asian Club Championship 1969 dan 1971. Lalu, Hapoel Tel Aviv pada 1976 dan runner-up 1970.

Namun, perbedaan pandangan politik dan banyaknya boikot yang dilakukan tim-tim Arab dan Muslim membuat AFC dan FIFA pusing. Salah satu yang paling terkenal adalah pemboikotan massal pada Kualifikasi Piala Dunia 1958 Zona Asia. Saat itu, Israel menjalani play-off interzone melawan Wales tanpa bertanding karena semua lawan di AFC mundur.

Atas usul Kuwait dan dukungan sejumlah negara Arab maupun Muslim, pada 1974, AFC mengambil keputusan mengeluarkan Israel. Dalam rapat anggota secara terbuka, AFC menggelar voting bersejarah. Hasilnya, 17 negara anggota mendukung, 13 menolak, dan 6 abstein.

Sejak diusir dari AFC, Israel tetap menjadi anggota FIFA, tapi tidak memiliki afiliasi dengan konfederasi manapun. Saat Kualifikasi Piala Dunia dilaksanakan, Israel berpindah-pindah zona dari OFC, UEFA, hingga CONMEBOL.

Semua penderitaan Israel berakhir pada 1992. Israel mengajukan proposal untuk menjadi anggota tetap UEFA. Permohonan itu baru dikabulkan 2 tahun kemudian. Tapi, sejak 1992-1994, klub-klub dan timnas Israel diizinkan berkompetisi di tanah Eropa. Sayangnya Israel belum pernah tampil di Piala Eropa. Hanya Piala Dunia 1970 yang pernah mereka ikuti.


3. Taiwan (AFC-OFC-AFC)

Kasus Taiwan mirip dengan Israel. Awalnya, China Beijing dan China Taipei adalah satu negara. Akibat perang saudara antara Komunis dengan Nasionalis, China pecah menjadi dua negara. Yang di Beijing menggunakan nama Republik Rakyat China, sementara yang ada di Taipei menggunakan label Republik China.

Pada 7 Mei 1954, ketika AFC didirikan di Manila, Filipina, Taiwan yang menjadi representasi China. Negara lain yang ikut mendirikan AFC adalah Afghanistan, Burma (Myanmar), Hong Kong, Iran, India, Israel, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Pakistan, Filipina, Singapura, dan Vietnam Selatan.

Namun, ketika FIFA mengakui Asosiasi Sepakbola China (CFA) sebagai wakil resmi Negeri Tirai Bambu pada 1974, Taiwan memutuskan meninggalkan AFC. Mereka menjadi anggota tidak tetap OFC pada 1975 dan diterima pada 1976.

Sayang, kebersamaan Taiwan dengan OFC tidak berlangsung lama. Pada 1978, OFC memutuskan membekukan status Taiwan karena nama yang sama dengan China. Setelah melalui perdebatan dan dimediasi FIFA, pada 1981 diputuskan Taiwan mengubah nama asosiasinya menjadi Asosiasi Sepakbola China Taipei (CTFA), sedangan China tetap CFA.

Segera setelah itu, status Taiwan di OFC diaktifkan kembali pada 1982. Tapi, 7 tahun kemudian, Taiwan memutuskan kembali ke AFC. Alasan yang diungkapkan adalag letak geografis Taiwan yang ada di Asia sehingga lebih mudah dalam hal transportasi ketika menggelar pertandingan tandang.


4. Kazakhstan (AFC-UEFA)

Setelah Uni Soviet bubar dan berdiri banyak negara merdeka, Kazakhstan memutuskan bergabung dengan AFC pada 1994. Dasar pertimbangan mereka adalah wilayah yang 90% berada di daratan Asia. Budaya dan transportasi juga lebih dekat ke Asia dibanding Eropa.

Namun, pada 2000, mereka memutuskan pindah ke UEFA. Alasannya, kualitas UEFA lebih baik dari AFC. Keputusan yang mendapatkan dukungan banyak orang Kazakhstan dan terbukti tepat. Meski belum pernah tampil di Piala Eropa atau Piala Dunia, klub-klub Kazakhstan bisa mendapatkan pengalaman tampil di Liga Champions atau Liga Eropa.


5. Australia (OFC-AFC-OFC-AFC)

Australia dua kali meninggalkan OFC untuk bergabung dengan AFC. Yang pertama pada 1972. Saat itu mereka meninggalkan OFC karena merasa tidak mendapatkan lawan yang sepadan. Tapi, setelah mendapatkan tiket Piala Dunia 1974 lewat AFC,  Australia memutuskan kembali ke OFC pada 1978.

Setelah bertahun-tahun bermain di Oceania dan tidak memiliki lawan sepadan, Australia memutuskan kembali ke AFC pada 2006. Keputusan pindah ke AFC untuk kedua kalinya didasarkan pada momen kemenangan 31-0 atas Samoa Amerika pada Kualifikasi Piala Dunia 2002 Zona Oceania pada 2001. Kemenangan itu menuai kecaman dari seluruh dunia.

Lalu, Australia memutuskan kembali AFC sejak 2006. Sejak saat itu, tim Kanguru berhak mengikuti kompetisi tingkat Asia. Begitu pula klub-klub A-League yang mendapatkan tiket ke Liga Champions Asia (LCA). Prestasi terbaik Australia di AFC adalah menjuarai Piala Asia 2015.


6. Mariana Utara (OFC-AFC)

Mariana Utara adalah negeri kepulauan kecil yang merupakan protektorat Amerika Serikat di Pasifik Utara. Asosiasi Sepakbola Mariana Utara (NMIFA) bergabung dengan OFC pada 1998. Lalu, keluar pada 2009. Mereka diterima menjadi anggota AFC pada 2020 setelah sejak 2008 bergabung dengan Federasi Sepakbola Asia Timur (EAFF).




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=3HhTsB9sW4g

Artikel Pilihan