Dimana Mereka Sekarang? Starting XI Indonesia vs Kuwait di Piala Asia 1996

Biografi | 31 December 2020, 12:42
Dimana Mereka Sekarang? Starting XI Indonesia vs Kuwait di Piala Asia 1996

"Skuad itu menghasilkan salah satu gol paling cantik di Piala Asia. Gol yang terus menerus diputar di saluran CNN sebagai momen terbaik hari itu."

Libero.id - Piala Asia 1996 tercatat dalam sejarah sebagai debut tim nasional Indonesia pada kompetisi antarnegara paling bergengsi di Asia tersebut. Meski baru pertama, tim Garuda justru menuai pujian, khususnya saat menahan imbang Kuwait 2-2 lewat sebuah gol salto Widodo Cahyono Putro.

Dilatih Danurwindo, Indonesia lolos ke turnamen di Uni Emirat Arab (UEA) setelah memuncaki klasemen akhir Grup 4 pada fase kualifikasi. Tim Merah-Putih bermain imbang 0-0 dengan Malaysia dan mambantai India 7-1. Sementara Harimau Malaya hanya sanggup unggul 5-2 ketika bertemu India.

Saat turnamen berlangsung, Danurwindo memanggil para pemain terbaik Indonesia. Dia menggabungkan beberapa alumnus PSSI Primavera dengan para pemain senior di sejumlah klub Liga Indonesia.

Menggunakan skema defensif 5-3-2 yang berubah menjadi 3-5-2 saat menyerang, Indonesia memulai turnamen dengan melawan Kuwait di Sheikh Zayed Stadium, Abu Dhabi. Pasukan Garuda langsung tampil menggebrak di babak pertama. Mereka mengejutkan Kuwait lewat gol salto Widodo dan sepakan canon ball Ronny Wabia. Indonesia mengakhiri babak pertama dengan kemenangan 2-0.

Sayang, pengalaman memang menjadi hal yang membedakan Indonesia dengan Kuwait. Pada babak kedua, Kuwait bangkit. Mereka membombardir gawang Kurnia Sandy dan Hendro Kartiko. Hasilnya, Hani Al-Saqer dan Badr Haji Al-Halabeej mampu menyamakan kedudukan.

Meski gagal menang dan kalah pada pertandingan berikutnya melawan Korea Selatan dan UEA, laga menghadapi Kuwait dikenang suporter serta para pemain Indonesia selama bertahun-tahun. Apalagi, gol cantik Widodo dinobatkan sebagai "Gol Terbaik Asia 1996".

Berikut ini kabar terbaru para pemain Indonesia yang ketika itu diberi kesempatan tampil melawan Kuwait pada 4 Desember 1996:
 
GK: Kurnia Sandy (Hendro Kartiko, 79)

Sandy adalah lulusan Primavera. Sementara Hendro adalah pemain produk kompetisi di Indonesia. Mereka sama-sama penjaga gawang tangguh pada masa itu. Yang membedakan hanyalah postur Sandy yang lebih tinggi dari Hendro. Sandy juga jago bola atas, sementara Hendro punya refleks jempolan.

Pada hari pertandingan, Sandy hanya mampu bermain hingga menit 79. Dia pingsan di lapangan setelah berbenturan dengan pemain Kuwait. Saat itu, gawang Indonesia sudah kemasukan 1 gol. Kemudian, Hendro masuk lapangan menggantikan Sandy. Beberapa menit berselang, Kuwait mencetak gol lewat titik penalti.

Saat ini, keduanya sudah pensiun. Baik Sandy maupun Hendro sama-sama beralih profesi menjadi pelatih kiper. Sandy bergabung dengan Rahmad Darmawan di Madura United. Sedangkan Hendro di PSM Makassar. Sebelumnya, Hendro sempat melatih di Arema, Sriwijaya FC, Madura, dan timnas U-23. Sementara  Sandy bergabung dengan Frenz United, T-Team (Malaysia), Sriwijaya, dan timnas senior.

DF: Aples Tecuari

Aples sempat menjadi bek paling tangguh di sepakbola Indonesia. Pemain asal Papua itu juga lulusan Primavera dan menjadi anggota timnas senior untuk waktu yang sangat lama. Setelah gantung sepatu, Aples mengabdikan dirinya untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Papua Barat. Dia sempat menjadi pelatih tim PON Papua Barat di fase kualifikasi untuk PON 2012. 

DF: Sudirman

Biasa disapa Jenderal Sudirman, pria kelahiran 24 April 1969 tersebut adalah kapten timnas saat melawan Kuwait. Bermain di lini belakang, Sudirman tampil sangat bagus melindungi pertahanan tim Merah-Putih hingga 2 gol Kuwait datang. Itu bukan kesalahan Sudirman seorang, melainkan semua pemain.

Saat Piala Asia 1996, Sudirman masuk kategori pemain senior. Sebelumnya, dia turut menyumbang medali emas SEA Games 1991 di Manila dan perunggu SEA Games 1993 di Singapura.

Setelah pensiun, Sudirman meneruskan kariernya dengan menjadi pelatih. Dia sempat menjadi salah satu asisten pelatih timnas. Sudirman juga sempat menjadi asisten dan caretaker Persija Jakarta. Setelah Sergio Farias mundur dari Macan Kemayoran, Sudirman kini menjadi pelatih kepala.

DF: Marzuki Badriawan

Marzuki dikenal sebagai legenda Mitra Surabaya dan Persebaya Surabaya. Performa bagus di klub Kota Pahlawan itulah yang mengantarkan dirinya membela timnas. Setelah pensiun dari lapangan hijau, Marzuki tidak jauh dari sepakbola. Dia mendirikan dan mengelola sekolah sepakbola yang diberi nama Indonesian Soccer Academy Marzuki Badriawan (ISA MB).

WB: Agung Setyabudi

Agung adalah legenda Arseto Solo dan PSIS Semarang. Dia menghabiskan sebagian karier profesionalnya untuk membela klub dari Jawa Tengah tersebut. Dia adalah pemain yang ikut membantu Laskar Mahesa Jenar menjuarai Liga Indonesia 1998/1999 dan Divisi I 2001. Agung juga sempat membela Persebaya Surabaya dan Persis Solo.

Performa bagus di PSIS membuat Agung mendapatkan panggilan secara reguler ke timnas. Dia ambil bagian di banyak kompetisi regional yang dijalani tim Garuda. Selain Piala Asia 1996, Agung juga menjadi bek sayap saat Indonesia tampil di Piala Asia 2004 maupun Piala AFF 2002.

Setelah pensiun, Agung bekerja di PDAM Kota Solo. Dia juga sempat melatih Persis di Divisi Utama 2013-2016. Agung juga sempat membawa tim sepakbola Kota Solo meraih medali perunggu pada Pekan Olahraga Provinsi Jateng 2018.

WB: Yeyen Tumena

Libero.id

Kredit: instagram.com/yeyen_tumena

Yeyen menjadi salah satu anggota PSSI Primavera. Sekembalinya dari Italia, Yeyen berkarier dengan sejumlah klub Liga Indonesia. Sebut saja PSM Makassar, Persikota Tangerang, Perseden Denpasar, Persebaya Surabaya, PSMS Medan, Persija Jakarta, hingga Persma Manado.

Setelah pensiun Yeyen tidak jauh dari sepakbola. Dia sempat menjadi komentator pertandingan di televisi sekaligus pelatih. Yeyen membantu Simon McMenemy di Bhayangkara FC maupun timnas. Saat itu, dia adalah ketua Asosiasi Pelatih Sepakbola Seluruh Indonesia (APSSI).

MF: Bima Sakti

Libero.id

Kredit: pssi.org

Bima menjadi pemain jangkar saat Indonesia tampil di Piala Asia 1996. Dia terus memerankan posisi itu selama bertahun-tahun hingga cedera parah patah kaki menimpanya beberapa tahun kemudian dalam sebuah turnamen tidak resmi di Vietnam. Saat itu, dia mendapatkan tekel brutal pemain India, Baichung Bhutia.

Meski tidak lagi menjadi pemain yang berpengaruh, Bima tetap melanjutkan karier sebagai pemain sebelum beralih profesi menjadi pelatih. Saat ini, pria asal Balikpapan tersebut berstatus pelatih timnas U-16.

MF: Chris Yarangga

Yarangga menghabiskan seluruh karier profesional bersama klub di kampung halamannya, Persipura Jayapura. Performa bagus bersama Mutiara Hitam itulah yang membuat dirinya dipanggil ke timnas. Yarangga juga sempat mendapatkan kesempatan bergabung dengan PSSI Primavera di Italia.

Saat ini, Yarangga sudah pensiun dan beralih profesi menjadi pekerja kantoran. Dia bergabung dengan Bank Papua. Tapi, bukan berarti Yarangga meninggalkan sepakbola. Dia masih membina sekolah sepakbola yang ada di Jayapura, yaitu SSB Nafri.

MF: Supriyono (Suwandi, 55)

Saat pertandingan berlangsung, Supriyono hanya bermain 55 menit sebelum digantikan Suwandi. Keduanya pemain yang sangat bagus pada masa itu. Yang membedakan hanyalah Supriyono merupakan jebolan PSSI Primavera, sementara Suwandi produk klub-klub Liga Indonesia.

Saat gantung sepatu, Supriyono dan Suwandi mengambil jalur berbeda. Selain berbisnis kuliner, Supriyono juga menjadi komentator pertandingan di salah satu stasiun televisi. Sementara Suwandi memilih konsisten di jalur sepakbola. Saat ini, dia merupakan asisten pelatih PSS Sleman. Dia bekerja bersama Mladen Dodic untuk membantu Dejan Antonic.

FW: Widodo Cahyono Putro

Libero.id

Kredit: pssi.org

Di Indonesia, tidak ada suporter sepakbola yang tidak mengenal Widodo. Di masanya, dia adalah pemain paling terkenal. Widodo punya segudang prestasi yang layak dibanggakan. Baik bersama klub maupun timnas, legenda Petrokimia Putra itu selalu menunjukkan penampilan yang membanggakan.

Setelah puas sebagai pemain, Widodo banting stir menjadi pelatih. Dia memulainya sebagai asisten pelatih timnas. Lalu, menukangi Indonesia U-21. Kemudian, Gresik United, asisten timnas lagi, Persepam Madura Utama, Sriwijaya FC, Bali United, dan Persita Tangerang. Widodo adalah pelatih mengembalikan Pendekar Cisadane ke kasta tertinggi kompetisi Indonesia.

FW: Ronny Wabia

Widodo-Ronny adalah duet yang sangat kompak di lini depan timnas saat Piala Asia 1996. Keduanya seperti ikatan batin yang bagus. Saat Ronny di kanan, Widodo di kiri. Begitu pula sebaliknya. Keduanya saling mengisi ruang kosong dan bersama-sama melakukan tekanan kepada lawan saat kehilangan bola. Bukti kolaborasi mereka adalah kedua gol Indonesia melawan Kuwait.

Sayang, tidak seperti Widodo yang berbakti untuk sepakbola, Ronny justru menepi. Saat ini, salah satu legenda Persipura Jayapura itu memilih hidup normal sebagai pegawai kantoran. Ronny tercatat sebagai karyawan Bank Papua.

  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Komentar

(500 Karakter Tersisa)

Libero Video

Klasemen

POIN
1
Manchester City FC
83
2
Manchester United FC
70
3
Leicester City FC
66
4
Chelsea FC
64
5
Liverpool FC
60
6
West Ham United FC
59
7
Tottenham Hotspur FC
56
8
Everton FC
56
9
Arsenal FC
55
10
Leeds United FC
53
11
Aston Villa FC
52
12
Wolverhampton Wanderers FC
45
13
Southampton FC
43
14
Crystal Palace FC
41
15
Burnley FC
39
16
Newcastle United FC
39
17
Brighton & Hove Albion FC
38
18
Fulham FC
27
19
West Bromwich Albion FC
26
20
Sheffield United FC
17
POIN
1
Club Atlético de Madrid
80
2
Real Madrid CF
78
3
FC Barcelona
76
4
Sevilla FC
74
5
Real Sociedad de Fútbol
56
6
Villarreal CF
55
7
Real Betis Balompié
55
8
RC Celta de Vigo
50
9
Athletic Club
46
10
Granada CF
45
11
CA Osasuna
44
12
Cádiz CF
43
13
Levante UD
40
14
Valencia CF
39
15
Deportivo Alavés
35
16
Getafe CF
34
17
SD Huesca
33
18
Real Valladolid CF
31
19
SD Eibar
30
20
Elche CF
30
POIN
1
FC Internazionale Milano
88
2
Atalanta BC
78
3
Juventus FC
75
4
AC Milan
75
5
SSC Napoli
74
6
SS Lazio
67
7
AS Roma
61
8
US Sassuolo Calcio
56
9
UC Sampdoria
46
10
Hellas Verona FC
43
11
ACF Fiorentina
40
12
Bologna FC 1909
40
13
Udinese Calcio
40
14
Genoa CFC
39
15
Spezia Calcio
38
16
Cagliari Calcio
36
17
Torino FC
35
18
Benevento Calcio
31
19
FC Crotone
21
20
Parma Calcio 1913
20
POIN
1
Sporting Clube de Portugal
82
2
FC Porto
77
3
Sport Lisboa e Benfica
73
4
Sporting Clube de Braga
63
5
FC Paços de Ferreira
50
6
Vitória SC
42
7
CD Santa Clara
40
8
Os Belenenses Futebol
40
9
Moreirense FC
40
10
Gil Vicente FC
39
11
FC Famalicão
37
12
CD Tondela
36
13
Portimonense SC
34
14
CS Marítimo
34
15
Boavista FC
33
16
SC Farense
31
17
Rio Ave FC
31
18
CD Nacional
25
POIN
1
FC Bayern München
71
2
RB Leipzig
64
3
VfL Wolfsburg
57
4
Eintracht Frankfurt
56
5
Borussia Dortmund
55
6
Bayer 04 Leverkusen
50
7
Borussia Mönchengladbach
46
8
1. FC Union Berlin
46
9
SC Freiburg
41
10
VfB Stuttgart
39
11
TSG 1899 Hoffenheim
36
12
1. FSV Mainz 05
34
13
FC Augsburg
33
14
SV Werder Bremen
30
15
Arminia Bielefeld
30
16
1. FC Köln
29
17
Hertha BSC
26
18
FC Schalke 04
13
POIN
1
AFC Ajax
76
2
PSV
64
3
AZ
61
4
SBV Vitesse
57
5
Feyenoord Rotterdam
55
6
FC Utrecht
47
7
FC Groningen
46
8
Heracles Almelo
39
9
FC Twente '65
37
10
SC Heerenveen
37
11
Sparta Rotterdam
37
12
Fortuna Sittard
37
13
PEC Zwolle
35
14
RKC Waalwijk
26
15
Willem II Tilburg
25
16
FC Emmen
24
17
VVV Venlo
22
18
ADO Den Haag
16
POIN
1
Lille OSC
73
2
Paris Saint-Germain FC
72
3
AS Monaco FC
71
4
Olympique Lyonnais
67
5
Racing Club de Lens
56
6
Olympique de Marseille
55
7
Stade Rennais FC 1901
54
8
Montpellier HSC
47
9
OGC Nice
46
10
FC Metz
43
11
Stade de Reims
41
12
Angers SCO
41
13
Stade Brestois 29
40
14
AS Saint-Étienne
39
15
RC Strasbourg Alsace
37
16
FC Girondins de Bordeaux
36
17
FC Lorient
35
18
FC Nantes
31
19
Nîmes Olympique
31
20
Dijon Football Côte d'Or
18