Selamat Ulang Tahun!

10 Pemain Merangkap Pelatih Terbaik di Inggris

"Pemain merangkap pelatih alias player-coach sempat populer di sepakbola Inggris. Ruud Gullit dan Gianluca Vialli populer dengan posisi ini."

Feature | 25 February 2021, 07:44
10 Pemain Merangkap Pelatih Terbaik di Inggris

Libero.id - Pemain merangkap pelatih alias player-coach (player-manager) sempat menjadi posisi yang populer di sepakbola Inggris. Ada yang sukses, tapi tidak sedikit yang gagal. Jadi, bagaimana peringkatnya?

Biasanya, jabatan pemain-pelatih dimunculkan ketika seorang pelatih meninggalkan tim secara tiba-tiba, baik akibat pemecatan atau pengunduran diri sukarela. Untuk mengisi kekosongan, pemilik klub, presiden, atau CEO harus membuat keputusan cepat agar kapal tetap memiliki nakhoda.

Dalam situasi itu biasanya ada 2 opsi yang diambil. Pertama, menunjuk pelatih tim junior atau asisten pelatih sebagai pelatih sementara (caretaker). Kedua, salah satu pemain yang dianggap paling senior dan memiliki kemampuan melatih ditunjuk sebagai pemain-pelatih.

Jika pemain itu memperoleh hasil yang baik untuk tim selama bertugas, dia dapat ditunjuk sebagai pelatih definitif seiring waktu berjalan sehingga membuat statusnya menjadi "pemain-pelatih". Tapi, ada kalanya pemain-pelatih itu kembali ke posisinya jika hasilnya buruk dan klub sudah mendapatkan pelatih definitif.

Berikut ini peringkat 10 pemain-pelatih terbaik yang ada di sepakbola Inggris Raya (Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara), khususnya di kompetisi kasta tertinggi sejak era Divisi I hingga Liga Premier:


10. Attilio Lombardo (Crystal Palace, 1998)

Attilio Lombardo bergabung dengan Crystal Palace pada 1997 dari Juventus dan diangkat menjadi pemain-pelatih pada 1998 setelah Steve Coppell mengambil peran sebagai direktur sepakbola. Tapi, The Eagles harus terdegradasi pada akhir musim sehingga manajemen menunjuk Terry Venables.

Saat Venables datang, Lombardo kembali khittah sebagai pemain. Dia bermain 1 musim lagi sebelum kembali ke Italia pada 1999 untuk membela Lazio. Lombardo baru kembali ke Inggris pada 2010 sebagai asisten Roberto Mancini di Manchester City.


9. Dennis Wise (Millwall, 2003-2005)

Libero.id

Kredit: instagram.com/denniswise11

Dennis Wise diangkat sebagai pemain-pelatih pada 2003 ketika Mark McGhee meninggalkan klub. Dia memimpin Millwall ke final Piala FA 2003/2004. Saat itu, The Lions dikalahkan Manchester United. Tapi, mereka mencatat rekor bagus sebagai tim pertama di luar Liga Premier yang mencapai final sejak 1992.


8. Steve Gritt dan Alan Curbishley (Charlton Athletic, 1991-1995)

Steve Gritt dan Alan Curbishley ditunjuk sebagai pemain-pelatih bersama pada 1991 ketika Lennie Lawrence meninggalkan The Addicks. Ini unik karena biasanya klub hanya menunjuk 1 orang sebagai penanggung jawab tim, bukan langsung 2 orang yang statusnya sama-sama pemain.

Meski harus sering berdiskusi dengan tulus, pasangan ini ternyata mampu meletakkan pondasi untuk masa depan yang sukses untuk klub. Saat itu, mereka membawa pemain muda seperti Lee Bowyer, Richard Rufus, John Robinson, hingga Shaun Newton, yang kemudian menjadi bintang

Setelah berjalan 4 tahun, Gritt akhirnya mundur karena ingin mencari tantangan di Brighton and Hove Albion. Kemudian, Curbishley mengambil alih tanggung jawab tunggal. Dia membuat Charlton dipromosikan ke Liga Premier, dua kali, dan menetapkan Charlton sebagai kuda hitam kompetisi.


7. Gordon Strachan (Coventry City, 1996-2001)

Gordon Strachan tiba di Coventry City dari Leeds United pada 1995 sebagai pemain di bawah Ron Atkinson. Tapi, setelah Atkinson mengambil alih jabatan direktur sepakbola klub pada 1996, Strachan ditunjuk sebagai pemain-pelatih. Gelandang Skotlandia itu mengakhiri karier bermainnya pada 1997 dan segera bertugas sebagai pelatih hingga 2001 atau tidak lama setelah Coventry terdegradasi dari Liga Premier.


6. John Toshack (Swansea City, 1978-1984)

Setelah masalah kebugaran yang berkepanjangan mengakhiri kariernya di Liverpool, John Toshack turun ke Divisi IV untuk memimpin Swansea City dan menjadi pelatih termuda di liga pada usia 28 tahun. Saat itu, dia mengambil peran yang tidak biasa sebagai pemain-pelatih.

Toshack bekerja dengan hasil bagus dua promosi berturut-turut. Promosi kedua bahkan diraih berkat gol Toshack sendiri. Kemudian, setelah musim konsolidasi dia membawa Swansea ke kompetisi kasta atas untuk pertama kalinya dalam sejarah pada 1981. Swansea bertahan 2 musim sebelum menderita degradasi dan Toshack berangkat untuk bekerja di Sporting Lisbon.


5. Peter Reid (Manchester City, 1990-1993)

Peter Reid diangkat sebagai pelatih-pemain ketika Howard Kendall kembali ke Everton. Dia membimbing Man City tampil bagus dengan salah satu musim finish di atas rival abadi, Manchester United. Sayangnya dalam kampanye perdana Liga Premier, Man City merosot ke posisi 9 dan dia dipecat pada musim berikutnya setelah awal yang buruk.


4. Ruud Gullit (Chelsea, 1996-1998)

Libero.id

Kredit: instagram.com/ruudgullit

Ruud Gullit adalah orang Belanda yang hebat. Dia merupakan pilihan yang tepat untuk menggantikan Glenn Hoddle sebagai di Chelsea. Saat itu, Gullit adalah pemain yang memiliki pengalaman meraih kesuksesan di AC Milan, Sampdoria, hingga tim nasional Belanda.

Gullit membimbing Chelsea meraih kesuksesan Piala FA 1996/1997. Itu trofi pertama mereka selama 26 tahun. Gullit menjadi pelatih asing pertama yang memenangkan salah satu trofi utama di sepakbola Inggris. Sayangnya dia pergi pada 1998 setelah berselisih dengan ketua klub, Ken Bates.


3. Gianluca Vialli (Chelsea, 1996-1999)

Libero.id

Kredit: twitter.com/chelseafc

Entah paket hemat atau malas mencari pelatih, ketika Ruud Gullit hengkang pada 1998, Chelsea melanjutkan kebiasaan barunya dengan memberikan pemain senior jabatan teratas sebagai pemain-pelatih. Sosok yang beruntung adalah Gianluca Vialli. Padahal, dia baru pindah ke London Barat dengan status bebas transfer dari Juventus pada Mei 1996.

Pria asal Italia itu membawa Chelsea meraih sukses ganda pada 1997/1998 saat memenangkan Piala Liga dan Piala Winners. Kemudian, Piala FA 1999/2000 ketika dia secara resmi sudah melepaskan status sebagai pemain. Tapi, Vialli dipecat tak lama setelah dimulainya musim 2000/2001, meski memenangkan Charity Shield dan Piala Super Eropa.


2. Graeme Souness (Glasgow Rangers, 1986-1991)

Glasgow Rangers membawa pulang Graeme Souness ke Inggris Raya setelah bermukim 2 tahun bersama Sampdoria. Dia ditunjuk sebagai pemain-pelatih. Pemain Skotlandia itu langsung merevolusi sepakbola di tanah kelahirannya dengan beberapa rekrutan terkenal seperti Terry Butcher dan Trevor Steven.

Souness memenangkan gelar Liga Premier Skotlandia tiga kali pada 1986/1987, 1988/1989, dan 1989/1990, serta Piala Liga 1986/1987, 1987/1988, 1988/1989, dan 1990/1991. Lalu, dia pergi untuk menggantikan Kenny Dalglish di Liverpool pada 1991. Souness mengakhiri karier bermainnya setelah mengambil pekerjaan di Anfield.


1. Kenny Dalglish (Liverpool, 1985-1987)

King Kenny adalah julukan yang diberikan suporter Liverpool kepada Kenny Dalglish. Dia sudah menjadi salah satu pemain terhebat yang mengenakan seragam Liverpool setelah tiba di klub sebagai pengganti Kevin Keegan pada 1977. Tapi, pada 1985 status pahlawannya mengambil dimensi baru ketika menerima tantangan untuk mengelola klub. Itu terjadi setelah Tragedi Heysel.

Dalam musim penuh pertamanya sebagai pemain-pelatih, Dalglish memenangkan gelar Divisi I dan Piala FA. Bahkan, dia memantapkan diri dengan status sebagai pemain kunci dengan mencetak gol untuk memenangkan gelar melawan Chelsea di Stamford Bridge.

Dalglish tetap bertahan di Liverpool setelah gantung sepatu pada 1987 dan memimpin The Reds meraih gelar liga pada 1987/1988 dan 1989/1990 serta Piala FA 1988/1989. Dia mengumumkan pengunduran dirinya yang mengejutkan pada 1991. Tapi, kembali sebagai pelatih Liverpool pada 2011/2012 dengan hasil yang tidak sebaik masa lalu.




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=3HhTsB9sW4g

Artikel Pilihan