Kisah Unik Awal Karier Angel di Maria, Pernah Ditransfer dengan 35 Bola

Biografi | 01 March 2021, 17:47
Kisah Unik Awal Karier Angel di Maria, Pernah Ditransfer dengan 35 Bola
Angel di Maria. Kredit: instagram.com/angeldimariajm

"Dia pernah menyandang status pemain termahal di Inggris saat pindah dari Real Madrid ke MU. Dulunya dibeli dengan 35 bola."

Libero.id - Angel di Maria adalah pesepakbola top. Dia pernah menyandang status pemain termahal di Inggris saat pindah dari Real Madrid ke Manchester United pada 2014 dengan 59,7 juta pounds. Saat pindah ke Paris Saint-Germain pada 2014, dia juga dihargai 44 juta pounds. Tapi, dulu Di Maria pernah dinilai dengan 35 bola!

Sinar Di Maria di sepakbola Eropa dimulai ketika bergabung dengan Benfica. Pada 2007, mereka memindahkan pemuda Argentina itu ke Portugal dengan 6 juta euro plus 2 juta euro dari Rosario Central.  

Dalam waktu sekejap, Di Maria menjadi sosok populer di Benfica. Setelah debut yang sempurna, permainannya membuat suporter, rekan-rekan, maupun pelatihnya senang. Dia dianggap jauh lebih bagus dari Simao Sabrosa, yang pindah ke Atletico Madrid saat di Maria tiba di Estadio da Luz, Lisbon.

Penampilan Di Maria membantu Benfica menghasilkan sejumlah kemenangan membanggakan. Performanya membawa Benfica menjuarai Primeira Liga (2009/2010) dan Taca da Liga (2008/2009, 2009/2010).

Kesuksesan di Benfica membuat karier Di Maria cemerlang. Pada 28 Juni 2010, Madrid memposting di website resminya telah sepakat dengan Benfica untuk transfer Di Maria. Dia menandatangani kontrak 5 tahun untuk transfer 25 juta euro plus 11 juta euro insentif.

Di Maria tiba di Madrid pada 7 Juli 2010, langsung dari Buenos Aires. Setelah dinyatakan lulus tes kesehatan pada 8 Juli 2010, dia segera melakukan debut pada 4 Agustus 2010 pada laga uji coba pramusim versus Club America (Meksiko). Sementara debutnya di La Liga terjadi pada 29 Agustus 2010 melawan Real Mallorca, dan gol pertamanya lahir pada 18 September.

Selanjutnya, Di Maria bermain sangat bagus, meski pada saat bersamaan Barcelona sedang memiliki skuad jempolan. Tapi, dia masih sanggup membawa Los Blancos menjuarai La Liga (2011/2012), Copa del Rey (2010/2011, 2013/2014), Supercopa de Espana (2012), Liga Champions (2013/2014), hingga Piala Super Eropa (2014)

Puas bersama Madrid, Di Maria menerima pinangan MU. Harga transfernya tercatat sebagai yang paling besar di Inggris ketika itu. Rekor Di Maria dilewati Paul Pogba pada 2016 saat kembali ke MU dari Juventus dengan 89 juta pounds.

Sayang, penampilan di Old Trafford mengecewakan. Dia hanya bertahan 1 musim dengan kontribusi 23 pertandingan Liga Premier dengan hanya memproduksi 3 gol. Kutukan nomor punggung 7 membuat Di Maria harus meninggalkan Inggris untuk bergabung ke PSG.

Meski gagal di MU, PSG tetap membeli Di Maria dengan harga selangit. Mereka merogoh kocek hingga 44 juta pounds. Angka itu berarti Di Maria hanya kalah dari Neymar da Silva Santos Junior dengan 198 juta pounds, Kylian Mbappe (163 juta pounds), dan Edinson Cavani (55 juta pounds).

Sebelum menjadi pemain dengan harga selangit, Di Maria ternyata pernah punya cerita lucu terkait transfer uang dilakukan. Pada usia 4 tahun, Rosario Central membeli Di Maria dari klub lokal di lingkungan tempat tinggalnya, Torito, dengan memberikan 35 buah bola.

Kisah itu dimulai ketika Di Maria kecil tinggal bersama dua saudara lain hasil pernikahan Miguel dan Diana di di Perdriel, Provinsi Mendoza, Argentina Barat. Dia terobsesi dengan sepakbola dan menghabiskan setiap jamnya turun ke jalan bersama teman-teman di lingkungannya.

Ketika pemandu bakat dari Rosario Central pertama kali melihatnya, ada masalah kecil karena dia sudah berkomitmen untuk bermain untuk Torito. Di Maria menolak Tapi, Rosario Central bersikeras membawanya ke kota yang lebih besar, Rosario, untuk dididik menjadi pemain hebat.

"Mereka melakukan tawar-menawar yang keras untuk membebaskan saya. Biaya transfer adalah 35 bola. Itu terbukti menentukan di mana saya berada setelah itu dan berapa banyak yang dibutuhkan untuk mendapatkan saya. Ingat, saya masih sangat muda, sekitar 4 tahun. Jadi, saya tidak yakin itu benar-benar penting," kata Di Maria pada 2015, dilansir The Independent.

Seperti kebanyakan keluarga miskin di Argentina, kehidupan masa kecil Di Maria tidak mudah. Sebagai anak yang hiperaktif, Di Maria nyaris meninggal di usia 1 atau 2 tahun. Saat itu, keluarganya pindah ke rumah baru yang berantakan. Di Maria terjatuh di sebuah sumur di taman.

"Ibu saya selalu mengingat cerita itu. Saya berumur 1 tahun dan sedang menggunakan baby walker. Saat pergi keluar saya jatuh ke sumur. Saya beruntung karena mereka menyelamatkan saya tepat waktu. Jika tidak, saya tidak akan berada di sini untuk membicarakannya," tambah Di Maria.

Di Maria balita adalah bocah yang selalu bergerak. Dia tidak pernah diam di satu tempat untuk waktu yang lama. Rumahnya selalu berantakan karena Di Maria melakukan apa saja yang disukainya.

"Ibu saya lelah karena saya merusak semua yang ada di rumah. Jadi, dia membawa saya ke dokter ketika saya berumur 3 tahun. Saya berlarian di ruang pemeriksaan, melanggar segalanya. Dokter hanya berkata 'daftarkan dia untuk olahraga'. Itulah karier saya dimulai," ungkap Di Maria.

Tumbuh dalam kemiskinan telah mengajari Di Maria untuk menghargai hal-hal yang lebih baik dalam hidup. "Kami tidak memiliki banyak uang. Rumah kami kecil dan saya berbagi kamar dengan saudara perempuan saya. Nilai-nilai saya berasal dari asuhan orang tua. Kerendahan hati untuk menjadi seseorang dalam hidup. Masa kecil saya adalah tentang memiliki cukup makanan, memiliki kebutuhan pokok," ujar Di Maria.

"Ayah saya bekerja di pangkalan batu bara bersama ibu saya. Itu adalah kehidupan yang mengerikan dan ketika cuaca buruk yang mereka miliki hanyalah atap logam di atas kepala mereka. Saya dan saudara perempuan saya bekerja di tempat batu bara juga. Saya mulai menua dan saat berusia 15 tahun, saya membantu pengiriman. Itu kerja keras," beber Di Maria.

"Saya sering berpikir betapa beruntungnya saya memiliki sepak bola. Saya adalah siswa yang buruk. Jika saya tidak memiliki sepakbola, saya akan terus bekerja di pangkalan batu bara. Apa lagi yang akan saya lakukan?" kata Di Maria.

Pelan dan pasti, kehidupan Di Maria dan keluarganya berubah 180 derajat. Semuanya karena permainan bagus bersama Rosario Central, yang membuat banyak pemandu bakat Eropa datang ke rumahnya.

"Ayah saya bekerja di pangkalan batu bara itu selama 16 tahun sampai saya membuatnya berhenti bekerja. Ketika itu, saya akan bergabung dengan Benfica. Senang rasanya berada dalam posisi untuk dapat melakukan itu dan berkata 'ayah, kamu tidak harus melakukan ini lagi'. Itu membanggakan," ungkap Di Maria.

Selain memberikan rumah mewah untuk ayah dan saudara-saudaranya, Di Maria juga tidak lupa membuatkan ayahnya beberapa supermarket dan pompa bensin untuk dikelola. Setiap kali mendapatkan piala bersama klub, Di Maria akan mendedikasikannya untuk keluarga. Sebab, hanya itu yang bisa dilakukan untuk berterima kasih.

"Ketika saya mulai bermain untuk Rosario Central, ketika saya berusia 6 tahun, kami membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke tempat latihan. Ibu membawa saya naik sepeda. Kami bertiga. Saya duduk di belakang dan adik perempuan saya di kursi di setang. Sulit selama musim dingin. Percayakah anda? Kami melakukannya selama 7 tahun," jelas Di Maria.

"Saya selalu berpikir bahwa saya harus memberikan kembali kepada keluarga saya. Saya membelikan mereka rumah dan hadiah. Mudah-mudahan saya bisa terus melakukan itu sampai karier saya berakhir," pungkas Di Maria.

  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Tag Terkait

Komentar

Libero Video

Klasemen

POIN
1
Manchester City FC
74
2
Manchester United FC
63
3
Leicester City FC
56
4
West Ham United FC
55
5
Chelsea FC
54
6
Liverpool FC
52
7
Tottenham Hotspur FC
50
8
Everton FC
49
9
Arsenal FC
45
10
Leeds United FC
45
11
Aston Villa FC
44
12
Wolverhampton Wanderers FC
38
13
Crystal Palace FC
38
14
Southampton FC
36
15
Brighton & Hove Albion FC
33
16
Burnley FC
33
17
Newcastle United FC
32
18
Fulham FC
26
19
West Bromwich Albion FC
24
20
Sheffield United FC
14
POIN
1
Club Atlético de Madrid
67
2
Real Madrid CF
66
3
FC Barcelona
65
4
Sevilla FC
61
5
Real Sociedad de Fútbol
47
6
Real Betis Balompié
47
7
Villarreal CF
46
8
Granada CF
39
9
Levante UD
38
10
RC Celta de Vigo
37
11
Athletic Club
37
12
Cádiz CF
35
13
Valencia CF
34
14
CA Osasuna
34
15
Getafe CF
30
16
SD Huesca
27
17
Real Valladolid CF
27
18
Elche CF
26
19
Deportivo Alavés
24
20
SD Eibar
23
POIN
1
FC Internazionale Milano
74
2
AC Milan
63
3
Juventus FC
62
4
Atalanta BC
61
5
SSC Napoli
59
6
SS Lazio
55
7
AS Roma
54
8
US Sassuolo Calcio
43
9
Hellas Verona FC
41
10
UC Sampdoria
36
11
Bologna FC 1909
34
12
Udinese Calcio
33
13
Genoa CFC
32
14
Spezia Calcio
32
15
ACF Fiorentina
30
16
Benevento Calcio
30
17
Torino FC
27
18
Cagliari Calcio
22
19
Parma Calcio 1913
20
20
FC Crotone
15
POIN
1
Sporting Clube de Portugal
69
2
FC Porto
60
3
Sport Lisboa e Benfica
57
4
Sporting Clube de Braga
54
5
FC Paços de Ferreira
44
6
Vitória SC
35
7
CD Santa Clara
35
8
Moreirense FC
34
9
Portimonense SC
29
10
Gil Vicente FC
28
11
CD Tondela
28
12
Rio Ave FC
28
13
Boavista FC
28
14
FC Famalicão
27
15
Os Belenenses Futebol
27
16
CS Marítimo
24
17
SC Farense
22
18
CD Nacional
21
POIN
1
FC Bayern München
65
2
RB Leipzig
61
3
VfL Wolfsburg
54
4
Eintracht Frankfurt
53
5
Borussia Dortmund
46
6
Bayer 04 Leverkusen
44
7
1. FC Union Berlin
40
8
Borussia Mönchengladbach
40
9
VfB Stuttgart
39
10
SC Freiburg
37
11
TSG 1899 Hoffenheim
32
12
FC Augsburg
32
13
SV Werder Bremen
30
14
1. FSV Mainz 05
28
15
Hertha BSC
26
16
Arminia Bielefeld
26
17
1. FC Köln
23
18
FC Schalke 04
13
POIN
1
AFC Ajax
72
2
PSV
61
3
AZ
61
4
SBV Vitesse
56
5
Feyenoord Rotterdam
54
6
FC Groningen
46
7
FC Utrecht
43
8
Heracles Almelo
39
9
FC Twente '65
37
10
SC Heerenveen
37
11
Sparta Rotterdam
34
12
Fortuna Sittard
34
13
PEC Zwolle
32
14
RKC Waalwijk
26
15
Willem II Tilburg
22
16
VVV Venlo
22
17
FC Emmen
21
18
ADO Den Haag
16
POIN
1
Lille OSC
70
2
Paris Saint-Germain FC
66
3
AS Monaco FC
65
4
Olympique Lyonnais
64
5
Racing Club de Lens
52
6
Olympique de Marseille
49
7
Stade Rennais FC 1901
48
8
Montpellier HSC
47
9
OGC Nice
43
10
FC Metz
42
11
Angers SCO
41
12
Stade de Reims
40
13
AS Saint-Étienne
39
14
RC Strasbourg Alsace
36
15
FC Girondins de Bordeaux
36
16
Stade Brestois 29
36
17
FC Lorient
32
18
Nîmes Olympique
30
19
FC Nantes
28
20
Dijon Football Côte d'Or
15