Selamat Ulang Tahun!

Momen Dahsyat Rebutan Gelar Juara di Pekan Terakhir Musim 1978

"Gladbach kalah selisih 10 gol dari Koln. Pada laga terakhir secara luar biasa Gladbach menang 12-0 VS Dortmund. Sayang, tetap saja gagal meraih gelar."

Feature | 30 March 2021, 09:14
Momen Dahsyat Rebutan Gelar Juara di Pekan Terakhir Musim 1978

Libero.id - Borussia Muenchengladbach adalah juara bertahan setelah memenangkan gelar Bundesliga di tiga musim sebelumnya. Namun, ada cerita heroik Gladbach ketika bersaing di Bundesliga musim 1977/1978.

Mereka sempat menempati peringkat kedua di pekan terakhir periode tersebut, tepatnya di belakang FC Koln. Selisih gol yang dimiliki keduanya tak memungkinkan Gladbach mengejar ketertinggalan saat itu.

Gladbach mengoleksi agresivitas 30 gol, berbanding 40 gol milik Koln. Situasi itu tentu memberatkan Gladbach dapat mengejar Koln yang tinggal selangkah lagi menjadi juara Bundesliga.

Tapi, sejarah mengingat satu pertandingan gila yang nyaris meruntuhkan dominasi Koln di puncak klasemen liga. Koln bukan satu-satunya klub di Bundesliga yang memiliki kualitas kelas satu dalam skuad saat itu, Gladbach juga memilikinya.

Maklum, Gladbach bukan hanya tim teratas di Jerman pada musim itu, tapi salah satu yang terbaik di Eropa. Mereka pernah mencapai final Piala Eropa (kini Liga Champions) sebelum bertekuk lutut usai dikalahkan Liverpool.

Gladbach ketika itu dipimpin oleh Udo Lattek yang kemudian dianggap sebagai sosok terhebat sepanjang masa. Lattek memenangkan 15 trofi utama sebagai pelatih Gladbach, Bayern Muenchen, dan Barcelona. Dia sudah memiliki tiga gelar Bundesliga atas namanya dan memenangkan Piala Eropa bersama Bayern pada 1974.

Gladbach juga memiliki nama-nama besar di lapangan dan skuad mereka dalam jajaran pemain internasional Jerman Barat, seperti Bertie Vogts, Rainer Bonhof, dan Jupp Heynckes, serta para Pemain Terbaik Eropa ketika itu seperti Allan Simonsen, pemain internasional Denmark.

Skuad mereka juga terdiri dari beberapa nama bintang seperti Toni Schumacher, Herbert Zimmermann, Heinz Flohe, dan Dieter Müller, semuanya adalah pemain internasional Jerman Barat.

Nah, komposisi ini yang diandalkan pada pertempuran terakhir di Bundesliga 1977/1978. Mereka berharap dapat menyingkirkan Koln dari posisi puncak dan berharap merebut gelar Bundesliga pertama mereka sejak 1964 dari gengaman Koln.

Sementara di kubu Koln, Hennes Weisweiler yang ditunjuk sebagai pelatih saat itu adalah mantan pelatih Gladbach. Dia pernah bertanggung jawab atas Gladbach hanya tiga tahun sebelum digantikan Lattek.

Weisweiler juga memiliki peran hebat layaknya Lattek. Dia pensiun dengan meraih 11 trofi atas namanya. Weisweiler juga seperti Lattek memiliki tiga gelar Bundesliga serta memenangkan Piala UEFA pada 1975.

Jelang akhir pekan terakhir musim kepemimpinannya, Koln berusaha keras untuk menang 2-1 dengan mengalahkan VfB Stuttgart. Sementara Gladbach mengalahkan Hamburg SV 6-2. Meskipun mereka berdua memasuki akhir pekan terakhir untuk memperebutkan gelar, namun posisi belum juga memperlihatkan perubahan.

Koln akhirnya keluar sebagai pemenang, meski memiliki poin sama dengan Gladbach (48 poin) yang puas sebagai runner-up. Itu adalah era yang kompetitif, di mana mereka begitu mendominasi Jerman.

Bahkan, dominasi Bayern yang begitu superior dalam satu dekade terakhir tak diperhitungkan waktu itu. Tabel liga menunjukkan bahwa mereka adalah dua tim terbaik di negara Jerman, apalagi rival tersebut memiliki banyak nama bintang besar yang tidak dimiliki oleh klub lain.

Pada 29 April 1978, hari terakhir musim kala itu, Gladbach berada di kandang Borussia Dortmund. Meskipun stadion mereka sedang direnovasi, pertandingan itu tetap dimainkan di Rheinstadion Fortuna Dusseldorf. Sementara Koln berada jauh dari rumah, tepatnya di Hamburg melawan FC St Pauli. Kedua pertandingan dimulai pada pukul 15.30 waktu setempat dan tidak butuh waktu lama untuk mencetak gol, setidaknya bukan di Dusseldorf.

Pada pukul 15.52, Gladbach unggul 4-0 setelah periode pembukaan yang menakjubkan. Mereka sangat berusaha keras mendapatkan gelar itu, tapi Gladbach membutuhkan lebih banyak gol tambahan ketika Koln mencetak gol setelah 28 menit.

Gladbach sempat unggul cepat 1-0 berkat Jupp Heynckes yang telah menjadi bagian dari skuad pemenang Jerman Barat di Piala Dunia 1974. Dia mencetak gol dengan sundulan brilian. Heynckes kembali mencetak gol keduanya dengan tendangan rendah 12 menit kemudian. Sementara satu menit kemudian, Carsten Nielsen mencetak gol untuk menjadikan skor menjadi 3-0.

Kemudian pada menit ke-22, Karl Del'Haye, pemain sayap yang direkrut dari Alemannia Aachen tiga tahun sebelumnya mencetak gol keempat Gladbach. Dia mencetak gol melalui skenario cantik dengan berlari dengan bola dari bagian dalam pertahanan sebelum membingungkan beberapa pemain bertahan Dortmund. Del'Haye kemudian menembak bola ke gawang dari jarak dekat.

Permainan brilian Gladbach tidak selesai di sana. Mereka terus menggempur pertahanan lawan untuk menciptakan keunggulan 6-0 pada babak pertama. Heynckes menyelesaikan hat-trick dengan memasukkan bola ke gawang sebelum kemudian bola terobosan mengarah kepada Herbert Wimmer, kemudian mengeksekusi bola sehingga melewati kiper.

Dengan keunggulan Koln 1-0 atas lawannya kala itu, Gladbach perlu mencetak lebih banyak gol di babak kedua. Apalagi, mereka memiliki target merebut gelar juara di liga. Setelah itu, laga berubah menjadi permainan yang luar biasa mengagumkan, sebuah pertandingan dengan banjir gol.

Gol Gladbach berikutnya adalah Heynckes. Legenda Jerman ini tampak seperti hampir tidak menyentuh bola, walau menyundulnya cukup mengelabuhi kiper lawan. Menit ke-59, Gladbach akhirnya sukses unggul 7-0 dan tidak butuh waktu lama untuk menjadi 8-0 kemudian 9-0.

Nielson berbalik dan melepaskan tembakan sebelum Del'Haye mencetak gol keduanya dengan menjatuhkan bola ke gawang, walau tembakan pertamanya berhasil diselamatkan. Seperti diceritakan oleh pendukung yang melihat langsung di tribune ataupun mereka yang mengikuti acara di Hamburg melalui radio portabel, pada titik ini Koln telah meraih kesempatan kedua dalam pertandingan mereka. Koln masih menjadi favorit kuat untuk gelar tersebut, tapi Gladbach terus berupaya menggeser posisi Koln.

Heynckes kemudian mencetak gol kelimanya pada pertandingan tersebut, karena kiper yang memblok upaya pertamanya tidak cukup berhasil menjaga bola di depan garis hasil rebound tersebut. Namun, Koln mencetak gol keduanya di saat Gladbach telah unggul 10-0.

Koln sepertinya tidak diam begitu saja. Mereka sukses mencetak satu gol dan kemudian dua gol berikutnya, sehingga Koln sukses menggusur lawannya dengan skor telak 4-0. Namun, Gladbach belum menyerah.

Ewald Lienen, dalam dua musim pertamanya di klub, membuatnya menjadi 11 gol dengan kontrol bolanya yang spektakuker. Dia menembakkan bola ke gawang lawan dengan tendangan setengah voli sebelum injury time.

Gladbach terus melakukan terobosan melalui Christian Kulik. Dia berlari dari luar kotak pertahanan sebelum akhirnya melepaskan tembakan dari jarak hampir 15 yard untuk menyelesaikan laga dengan skor 12-0. Gladbach mencoba membalikkan defisit sepuluh gol dari Koln, yang menang 5-0 di akhir laga.

Hasil pertandingan itu membuat Koln keluar sebagai pemenang dengan keunggulan agresivitas (tiga) gol. “Kami lebih suka mencetak selusin gol daripada kalah dari Koln di St. Pauli,” kata striker Gladbach di pagi hari pertandingan.

Mereka memang berhasil melakukannya, tapi sayangnya kemenangan besar atas Dortmund masih belum cukup membawa Gladbach mengangkat trofi juara.

Meski kalah dalam perburuan gelar, pendukung Gladbach sangat terkesan dengan kinerja tim mereka. Mereka tak peduli dengan tuduhan pengaturan skor yang sempat menyeruak. Maklum, mereka dapat meraih kemenangan dengan selusin gol.

Tentu saja, semua yang terlibat membantahnya, terutama para pemain Dortmund. Mereka tidak melakukannya dengan sengaja agar semua orang percaya walau Amand Theis mengakui tentang kinerja buruk timnya. "Rasa malu telah menemani kami selama bertahun-tahun."

Tidak ada yang pernah terbukti dan secara umum diterima akhir-akhir ini bahwa pertandingan dimainkan secara adil. Jika pertandingan itu memalukan bagi Dortmund, maka tidak lebih dari penjaga gawang mereka Peter Endrulat.

Bermain menggantikan kiper pilihan pertama yang cedera, Horst Bertram, permainan itu jelas merupakan awal sekaligus akhir bagi pemain berusia 23 tahun itu. Dia akhirnya tak diperpanjang setelah itu. Karier yang singkat membuatnya hanya bermain sebanyak 60 penampilan di Bundesliga di Nord Tennis Borussia Berlin.

Endrulat bukan satu-satunya pemain yang meninggalkan Dortmund pasca bencana 12-0, karena pelatih Otto Rehhagel juga dipecat sehari setelah pertandingan. Dia kemudian mengelola berbagai klub lain di seluruh Jerman sebelum melatih tim nasional Yunani untuk mengejutkan kejayaan di Piala Eropa 2004.

Sementara pemain lain yang tidak dipecat oleh Dortmund tak dibebaskan tanpa hukuman. Karena kinerja buruk setelah dibantai Gladbach, mereka dihargai dengan denda DM 2.000 untuk setiap pemain.

Cerita lain dialami Heynckes selaku pahlawan Gladbach. Dia mengumumkan pensiun setelah karier yang luar biasa, baik bersama klub maupun Jerman Barat. Dia melanjutkan karier sebagai pelatih hampir sesukses mentornya, Lattek. Dia memulai petualangan dimulai dari Gladbach.

Mengingat, seperti yang telah disebutkan, tidak ada pihak yang memenangkan gelar selanjutnya. Kejadian bersejarah pada April 1978 merupakan momen terakhir bagi Gladbach dan Koln mengakhiri masa sengit rivalitas mereka. Dan, untuk kemenangan 12-0, itu masih merupakan bagian dari kemenangan terbesar dalam sejarah Bundesliga.

Pertandingan itu juga terdaftar di urutan ke-43 dalam 11  pertandingan terbesar majalah Freunde sepanjang masa. Skor yang benar-benar gila yang menampilkan salah satu perebutan gelar hari terakhir paling nyata dalam sejarah sepak bola.




Hasil Pertandingan Borussia Monchengladbach


  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=uZiDnSmspvE

Artikel Pilihan