Inilah Prediksi Deloitte Tentang Kondisi Keuangan Klub Eropa Musim 2021/2022

Analisis | 01 August 2021, 05:58
Inilah Prediksi Deloitte Tentang Kondisi Keuangan Klub Eropa Musim 2021/2022
Stadion kosong akibat pendemi Covid-19.

"Pandemi benar-benar memukul semua orang sehingga banyak yang berharap situasi segera normal."

Libero.id - Deloitte menyatakan klub dapat bangkit kembali menjadi lebih baik ke depan setelah krisis akibat pandemi Virus Corona berlangsung. Lembaga keuangan ternama dunia itu termasuk kategori pihak yang optimistis. 

Temuan-temuan utama dari Review Tahunan ke-30 perusahaan keuangan tentang Football Finance, yang diterbitkan Juli 2021 mengungkapkan bahwa kondisi pasar sepakbola di lima besar liga top Eropa mengalami kontraksi sebesar 13% pada 2019/2020. Turun menjadi 25,2 miliar euro (446 triliun).

Menurut Dan Jones dari Deloitte, klub sepakbola tetap bisa berkembang menjadi lebih baik dan berkelanjutan dalam jangka panjang, meski ada dampak finansial dari pandemi yang sempat membuat keuangan klub dalam kondisi sekarat.

"Klub sepakbola kini dapat berharap lebih optimistis untuk segera bangkit dari dampak krisis finansial akibat pandemi, menjadi berkembang lebih berkelanjutan dalam jangka panjang," ujar Jones, dilansir Sky Sports.

Klub sepakbola di seluruh Benua Biru diklaim tetap akan bertahan. Bahkan, mampu mengembangkan dirinya lebih baik meski data terbaru dari Deloitte menunjukkan pengurangan pendapatan sebesar 3,7 miliar euro (Rp68 triliun) di seluruh Eropa.

Temuan-temuan utama dari Review Tahunan ke-30 perusahaan keuangan tentang Football Finance, yang diterbitkan pada hari Kamis (29/7/2021) itu, mengungkapkan pasar sepakbola gabungan di seluruh lima besar liga top Eropa memang telah mengalami kontraksi sebesar 13% pada 2019/2020.

10 Foto Valentina Giraldo, Pepanah Cantik yang Curi Perhatian di Olimpiade Tokyo

10 Foto Valentina Giraldo, Pepanah Cantik yang Curi Perhatian di Olimpiade Tokyo

Seperti yang awalnya dilaporkan oleh Deloitte pada Juni 2021, bahwa pendapatan klub Liga Premier juga mengalami penurunan dari nilai keseluruhan sebesar 5,2 miliar pounds (Rp105 triliun) pada 2018/2019 menjadi 4,5 miliar pounds (Rp90 triliun) selama 2019/2020. 

Ini merupakan pengurangan terbesar pendapatan untuk pertama kalinya dalam sejarah karena kurangnya penonton dalam setiap pertandingan. Itu juga ditambah dengan potongan harga dan penundaan dari beberapa pendapatan siaran langsung.

Dampak pandemi membuat sepakbola ditutup dari Maret 2020 hingga "Project Restart" Liga Premier secara tertutup pada Juni tahun lalu menghasilkan rekor kerugian sebelum pajak gabungan klub sebesar 966 juta pounds (Rp20 triliun).

Itu masih ditambah dengan kerugian akibat pengurangan pendapatan sebesar 648 juta pounds (Rp13 triliun) dan diperburuk oleh tuntutan kenaikan gaji yang menelan biaya sebesar 126 juta pounds (Rp2,5 triliun).

Namun, biaya upah klub Liga Premier mengalami peningkatan terkecil sejak 2004/2005. Kemudian, naik sebesar 4% menjadi 3,3 miliar pounds (Rp66 triliun) pada 2019/2020. Sementara total agregat gaji pemain sebagian besar tetap datar, meski telah melalui kompetisi papan atas Eropa selevel Liga Champions.

Liga Sepakbola Inggris (EFL) melaporkan pengurangan pendapatan gabungan sebesar 13 persen menjadi 943 juta pounds (Rp20 triliun) pada 2019/2020, dengan neraca biaya sebesar 1,1 miliar pounds (Rp22 triliun) pada 2018/19 di tiga tingkatan devisi.

Periode yang dicakup oleh laporan Deloitte terbaru hanya melewati bagian awal pandemi dengan musim 2020/2021 yang dimainkan oleh klub. Tapi, untuk beberapa pertandingan, sebagian besar secara tertutup karena pembatasan sosial bersekala besar akibat Virus Corona dan tindakan karantina nasional yang kembali harus diperpanjang.

Klub-klub Liga Premier, diperkirakan akan melihat rebound dalam angka-angka untuk 2020/2021 sebelumnya. Jika para pendukung kembali diizinkan untuk hadir sesuai rencana, itu akan mendorong kembali kondisi finansial yang sehat di musim baru 2021/2022.

"Ini akan merangkum segala bentuk aktivitas klub dari tahap awal pandemi. Bahkan, tindakan sejak tanda-tanda pertama krisis keuangan mereka. Ini adalah pertama kalinya pendapatan turun di Liga Premier dan ada kontraksi (finansial) serupa di seluruh Eropa. Pengecualian besar adalah Jerman, yang bangkit, dan bahkan berlari sebelum orang lain sempat bangun," ungkap Jones.

"Ini pada dasarnya mengambil dua hal, penutupan gerbang, dengan pertandingan berlangsung secara tertutup, dan jadwal ditunda. Jadi, dalam beberapa kasus, uang TV untuk permainan itu mengalir ke tahun anggaran berikutnya (2020/2021). Juga tentu ada potongan harga untuk penyiar yang berdampak pada tahun ini," tambah Jones.

"Jika anda bertanya kepada kami kali ini tahun lalu apa yang kami perkirakan akan menjadi rekor sepanjang masa di tahun keuangan itu karena anda akan memiliki musim baru dan pendapatan tambahan yang ditahan dari 2019/2020. Jelas, kali ini tahun lalu kami tidak mengharapkan seluruh musim akan dimainkan secara tertutup. Saya tidak berpikir ada yang membayangkan itu," ungkap Jones.

"Kemudian, untuk musim 2021/2022 yang akan datang, sepertinya tidak akan ada batasan (dengan pendukung di stadion). Jadi, mungkin ini akan menjadi tahun semuanya akan kembali normal," beber Jones.

Tim Bridge, Direktur Deloitte Sports Business Group, mengatakan industri sepakbola harus bersedia melakukan sejumlah perubahan untuk pulih dari kerusakan finansial akibat pandemi. 

"Jika itu berlanjut ketika semuanya kembali ke urutan kerja penuh lagi, anda benar-benar dapat melihat klub, setelah kejutan keuangan yang sangat buruk selama 18 bulan terakhir. Ini semacam keluar dari ini dalam posisi yang lebih kuat untuk masa depan karena anda telah berhasil menghentikan inflasi upah itu," ujar Bridge.

"Klub-klub telah menunjukkan sejauh ini. Jika mereka dapat membangunnya, mereka dapat membuat diri mereka jauh lebih berkelanjutan daripada yang mungkin terlihat 18 bulan lalu," tambah Bridge.

"Dukungan dan semangat jelas di luar sana untuk klub di semua level di negara ini. Jadi, jika itu berarti kami mendapatkan posisi yang lebih berkelanjutan mulai dari sini, maka itu akan menjadi hasil yang bagus," pungkas Bridge.

(muhammad alkautsar/anda)

  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Komentar

(500 Karakter Tersisa)

Foto

10 Foto Anna Lewandowska, Istri Robert Lewandowski Pemegang Sabuk Hitam Karate

Klasemen