Selamat Ulang Tahun!

Kisah Heroik Gerd Mueller di Piala Dunia 1974, Abadi di Memori Rakyat Jerman

"Striker terbaik Der Panzer sebelum rekornya dilewat Miroslav Klose, puluhan tahun kemudian."

Feature | 17 August 2021, 23:05
Kisah Heroik Gerd Mueller di Piala Dunia 1974, Abadi di Memori Rakyat Jerman

Libero.id - Dunia baru saja kehilangan Gerd Mueller. Legenda sepakbola Jerman dan Bayern Muenchen tersebut baru saja menghadap Sang Pencipta di usia 75 tahun. Kini, suporter hanya bisa mengenang kehebatannya. Salah satunya ada di Piala Dunia 1974. 

Empat tahun sebelum meninggal, Der Bomber menceritakan pengalaman membawa Jertman Barat menjuarai Piala Dunia. Meski main di kandang, Mueller mengaku semua punggawa Der Panzer sempat lemas ketika tahu lawan yang dihadapi, Belanda, memainkan sepakbola terbaik pada era tersebut.

Ketika itu, Belanda diasuh Rinus Michels, dengan tokoh utamanya, Johan Cruyff. Mereka memainkan "Total Football". De Oranje melenggang ke final setelah membongkar Brasil, Argentina, dan Uruguay dengan merek sepakbola yang belum pernah dilihat sebelumnya.

"Sehari sebelum final saya membaca di sebuah surat kabar bahwa seorang peramal telah melihat bola kristalnya dan meramalkan bahwa Belanda akan menang. Saya tidak percaya takhayul," kata Mueller pada 2017 dalam wawancara untuk buku "Goal!", dikutip The Sun.

"Tapi, saya hampir tidak bisa tidur karena saya terus memikirkan Belanda dan peramal itu. Tapi, saya juga berpikir ini (ramala) tidak mungkin benar," ucap Mueller

"Dan, orang Belanda bahkan mungkin percaya bahwa dia (peramal) benar. Tapi, kami berkata pada diri kami sendiri bahwa kami akan menghentikan peramal itu. Kami sedikit takut dengan Belanda dan kami langsung kebobolan penalti," tambah Mueller.

Tapi, setelah unggul cepat di awal babak pertama melalui penalti Johan Neeskens, Belanda melakukan kesalahan besar. Itu bukan tentang sepakbola lagi, melainkan bermuatan politik dan sejarah. Mereka lengah!

Belanda ternyata tidak hanya ingin mengalahkan Jerman dan menggondol Piala Dunia. Ternyata, De Oranje ingin mempermalukan Der Panzer. Ini terkait dengan sentimen terhadap Jerman yang masih berkobar akibat luka selama berkecamuknya Perang Dunia II.

Hal itu diakui langsung olah salah satu pemain Belanda yang tampil di final, Willem van Hanegem, dalam buku otobiografinya. "Saya tidak peduli dengan skornya. Kami anggap 1-0 sudah cukup, selama kami bisa mempermalukan mereka," ujar mantan gelandang Feyenoord itu.

"Saya membenci mereka. Mereka membunuh keluarga saya. Ayah saya, saudara perempuan saya, dua saudara laki-laki saya. Setiap kali saya menghadapi Jerman, saya merasa sangat cemas," tambah Van Hanegem.

Tapi, sepakbola memang bukan matematika. Skor 1-0 di menit kedua langsung dibalas Paul Breitner lewat penalti di menit 25. kemudian, Mueller mencetak gol kemenangan 2-1 Jerman di menit 43. Meski masih ada babak kedua, keputusan Belanda untuk bermain santai setelah memimpin 1-0 harus dibayar mahal.

"Saya harus mengatakan bahwa Belanda cukup terjebak dan berpikir bahwa level mereka berada di atas Jerman. Saya pikir itu (ketika Belanda mencetak gol) sudah berakhir, saya tidak percaya. Jadi, kami mencoba terus hingga akhirnya bisa mencetak dua gol," kata Mueller.

Gol ke gawang Jan Jongbloed adalah yang ke-14 dihasilkan Mueller di Piala Dunia dan yang ke-68 untuk Jermanm. Rekor itu kemudian akan dilampaui oleh Ronaldo dan Miroslav Klose, beberapa puluh tahun kemudian.

"(Rainer) Bonhoff dan (Juergen) Grabowski datang dari kanan dan di situlah saya berada. Saya akan maju, lalu kembali lagi. Saya beruntung. Tiga pemain Belanda semuanya maju ketika bola mengarah ke kaki kiri saya dan saya menendang bola ke sudut jauh, gol," ujar Mueller tentang gol krusialnya.

Tapi, dengan gol kemenangan yang terjadi pada babak pertama, segala hal masih bisa tercipta di paruh kedua. "Dan, (setelah gol) anda terus menengok jam untuk melihat berapa banyak waktu yang tersisa. Dan, waktu tidak berlalu, waktu tidak berlalu, dan anda terus melihat ke atas," tambah Mueller.

"Dan, ketika peluit akhir berbunyi, kami bersorak. Ketika saya bermain untuk tim nasional, saya mencetak 68 gol dalam 62 pertandingan internasional. Saya mencetak banyak gol penting, banyak di antaranya di final piala, ada begitu banyak. Tapi, Piala Dunia adalah yang paling penting," lanjut Mueller.

Sayang, seperti kebanyakan bintang, perayaan kemenangan, pujian yang datang bertubi-tubi, dan uang membuat mereka lengah. Setelah mengakhiri karier pada 1982, dia bangkrut dan menderita kecanduan alkohol. 

Namun, sahabat-sahabatnya di Bayern meyakinkan Mueller untuk menjalani rehabilitasi alkohol. Ketika sembuh, Bayern memberinya pekerjaan sebagai pelatih Bayern Muenchen II.  Dia juga mendapatkan uang dari koleksi pakaian yang dirilis oleh raksasa olahraga, Adidas, dengan nama "Gerd Mueller". Ini adalah bagian dari seri asli Adidas. 

Pada 6 Oktober 2015, diumumkan bahwa Mueller menderita penyakit Alzheimer. Sejak saat itu, dia berjuang dengan penyakitkan hingga menghembuskan napas terakhir pada 15 Agustus 2021.

(muhammad alkautsar/anda)




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=XA9cKdTvNb4

Artikel Pilihan