Bisakah Dzeko-Correa Gantikan Lukaku-Hakimi? Ini Analisisnya

Analisis | 12 September 2021, 06:08
Bisakah Dzeko-Correa Gantikan Lukaku-Hakimi? Ini Analisisnya
Joaquin Correa, Edin Dzeko

"Kepergian Conte, Lukaku, Hakimi, mulai bisa dilupakan Inter Milan. Setidaknya di awal musim."

Libero.id - Meski masih awal musim, Edin Dzeko dan Joaquin Correa telah membuktikan adanya kehidupan di Inter Milan setelah penjualan Romelu Lukaku dan Achraf Hakimi, serta kepergian Antonio Conte. Hasil pertandingan sebelum jeda internasional membuktikannya. 

Tidak harus menunggu sampai akhir musim bagi I Nerazzurri untuk dapat menilai apakah mereka bisa bangkit setelah hengkangnya beberapa pemain kunci dan pelatihnya, Conte. Kedatangan Dzeko dan Correa bersama Simone Inzaghi menunjukkan Inter tidak perlu terlalu lama meratapi kesialannya.

"Dzeko dan Lukaku adalah pemain yang berbeda. Tapi, mereka berdua sangat kuat. Saya yakin Edin akan membantu kami musim ini dengan mencetak banyak gol," kata Matteo Darmian, dilansir Football Italia.

Pernyataan Darmian mencerminkan apa yang dipikirkan banyak penggemar Inter. Tidak dapat disangkal bahwa pemain Belgia itu bukanlah kerugian besar. Dan, pendatang baru telah menunjukkan bahwa bahwa lini depan I Nerazzurri masih mematikan saat melawan Genoa dan Hellas Verona.

Dzeko telah mencatatkan gol pertamanya dan membuat satu assist. Sementara Correa menambahkan dua gol dalam debut menakjubkan saat melawan Verona. Saat itu, dia masuk sebagai pemain pengganti dan mencetak dua gol. Inter telah memproduksi tujuh gol dalam dua pertandingan pembukaan.

Mungkin para pendukung I Nerazzurri akan lebih menginginkan penggantinya untuk lebih sukses setelah komentar striker Belgia minggu ini. Pemain depan Chelsea itu mengatakan hal yang membuat banyak tifosi kecewa.

10 Foto Anna Lewandowska, Istri Robert Lewandowski Pemegang Sabuk Hitam Karate

10 Foto Anna Lewandowska, Istri Robert Lewandowski Pemegang Sabuk Hitam Karate

"Ketika tawaran ketiga Chelsea tiba, saya menemui Inzaghi untuk menemukan kesepakatan. Setelah latihan, saya pergi ke kantor Inzaghi. Saya tidak ingin merusak suasana karena saya tidak lagi berkepala dingin di Milan. Jadi, saya bertanya kepadanya untuk memukan kesepakatan (pindah)," kata Lukaku. 

Hal inilah yang memicu api bagi para penggemar karena banyak yang sudah mencapnya sebagai pengkhianat, meski membantu meraih Scudetto musim lalu. Mungkin saat ini para pendatang baru mulai bisa memberikan optimisme dan fokus yang positif dari pada melihat kembali ke masa lalu.

Namun, masih ada jalan panjang sebelum Dzeko atau Correa dapat dilihat sebagai keberhasilan atau kegagalan. Bukan hanya penampilan individu mereka yang memberi harapan baru, melainkan cara mereka memberi Inter rencana cadangan. 

Musim lalu, Conte dikritik sejak awal karena hanya memiliki satu cara bermain. Tapi, yang terlihat di dua game pembuka adalah betapa terkoneksinya Dzeko bagi Inzaghi. 

Hal ini memungkinkan I Nerazzurri untuk lebih memakai mereka dan memanfaatkan kehadirannya untuk duel udara. Itu sebagai titik sentral untuk menyebabkan kekacauan di kotak penalti lawan. Sebab, berkali-kali bola diarahkan ke pemain Bosnia-Herzegovina itu, baik dari bola dalam, umpan silang, atau lemparan jauh ke dalam.

Hal ini terlihat saat pertandingan melawan Verona. Saat Inter tertinggal, Dzeko menemukan celah untuk memberikan bola kepada Lautaro Martinez ketika menyamakan kedudukan. Inter tentu saja tidak mengubah gaya permainan ini. Tapi, itu memberi mereka pilihan ketika dalam kesulitan.

Namun, komentar masih keluar dan pertanyaan masih perlu dijawab. Akankah Inter bisa tampil di laga-laga besar dengan cara yang sama? Akankah Dzeko menggantikan jumlah gol yang dibuat Lukaku? Atau, akankah Correa bisa bergabung dengan Lautaro seperti yang diharapkan dan akankah dia benar-benar memberikan gol?

Dia tidak pernah mencetak lebih dari sembilan gol di musim domestik dan sangat sedikit gol yang tercetak dengan kepalanya. Itulah sebabnya dua gol dalam 16 menit (satu sundulan yang menyenangkan) seperti menawarkan harapan palsu.

Lukaku mungkin telah mencetak sebagian besar gol bagi I Nerazzurri musim lalu. Tapi, sekarang gol-gol tersebut dapat dibagi di antara pemain lain.

Contohnya, ada di klub lain. Ketika Gonzalo Higuain meninggalkan Napoli, Maurizio Sarri menugaskan pasukannya untuk menunjukkan pendekatan yang lebih bermanfaat. Itu berhasil karena mereka semua bertanggung jawab atas pekerjaan ofensif. Napoli kemudian menjelma menjadi tim dengan kolektivitas tinggi di lini depan.

Memilih Dzeko atau Correa untuk mengisi kekosongan bukanlah jawaban. Tapi, ini masih awal dan kita semua pasti berharap mereka bisa memberikan lebih banyak hal dari yang telah dilakukan oleh Lukaku.

(diaz alvioriki/anda)

  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Komentar

(500 Karakter Tersisa)

Foto

10 Foto Ada Hegerberg, Pemenang Ballon d'Or Wanita Pertama

Klasemen