Kontroversi Gianni Infantino: Dugaan Pelanggaran Aturan FIFA Saat Bertemu Donald Trump

Kontroversi Gianni Infantino: Dugaan Pelanggaran Aturan FIFA Saat Bertemu Donald Trump

Ringkasan Berita

  • Gianni Infantino dituduh melanggar aturan FIFA saat bertemu Donald Trump, memicu kontroversi politik.

  • Infantino memberikan penghargaan FIFA kepada Trump, memuji upayanya dalam mempromosikan perdamaian.

  • Kontroversi topi MAGA Infantino menyoroti tantangan menjaga netralitas politik FIFA.

Gianni Infantino dituduh melanggar aturan FIFA dalam pertemuannya dengan Donald Trump, menimbulkan kontroversi di dunia sepak bola.

Hubungan Dekat Infantino dan Trump

Gianni Infantino, Presiden FIFA, baru-baru ini dituduh melanggar aturan ketat FIFA selama pertemuannya dengan Presiden AS, Donald Trump. Keduanya telah menjalin hubungan dekat dalam beberapa tahun terakhir, terutama menjelang Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Infantino sebelumnya memberikan penghargaan Peace Prize FIFA kepada Trump, memuji upayanya dalam mempromosikan perdamaian.

FIFA mengumumkan bahwa Trump diakui atas 'usaha tanpa lelahnya untuk mempromosikan perdamaian', dengan Infantino menambahkan bahwa 'inilah yang kami inginkan dari seorang pemimpin, seorang pemimpin yang peduli dengan rakyatnya'. Infantino menegaskan bahwa Trump layak mendapatkan penghargaan tersebut karena perannya dalam mengamankan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

Kontroversi Topi Merah

Namun, selama pertemuan Board of Peace di Washington, Infantino dituduh melanggar aturan FIFA dengan mengenakan topi merah bergaya MAGA yang bertuliskan 'U.S.A' dan angka '45-47', merujuk pada dua masa kepresidenan Trump. Tindakan ini menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk jurnalis terkemuka Duncan Castles yang mengutip Kode Etik FIFA yang menekankan pentingnya menjaga netralitas politik.

Mantan pemain Tottenham dan Swiss, Ramon Vega, juga mengkritik Infantino, menyebut tindakannya sebagai 'lelucon' dan merusak integritas sepak bola. Vega menegaskan bahwa aturan FIFA mengharuskan semua pihak untuk tetap netral secara politik dan tidak mencampurkan sepak bola dengan politik demi keuntungan pribadi.

Infantino, yang terus menunjukkan kesetiaan publik kepada Trump, tampaknya tidak terpengaruh oleh kritik tersebut. Dia bahkan diundang oleh Trump ke pertemuan pertama Dewan Perdamaian di Washington, yang dihadiri oleh perwakilan dari lebih dari 45 negara. Meski demikian, beberapa sekutu utama AS seperti Inggris, Jerman, dan Prancis menolak undangan tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, Trump bercanda bahwa 'hampir semua orang di sini adalah kepala negara, kecuali Gianni, tetapi dia adalah kepala sepak bola, jadi itu tidak terlalu buruk, kan Gianni? Saya suka pekerjaan Anda yang terbaik.'

Kontroversi ini menyoroti tantangan yang dihadapi Infantino dalam menjaga keseimbangan antara hubungan politik dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin FIFA. Banyak yang berpendapat bahwa tindakannya dapat merusak reputasi FIFA sebagai organisasi yang seharusnya netral secara politik.

Infantino telah berulang kali membela keputusannya untuk memberikan penghargaan kepada Trump, dengan alasan bahwa tindakan Trump telah menyelamatkan ribuan nyawa. Namun, kritik terus berdatangan, menyoroti potensi konflik kepentingan dan pelanggaran etika.

Dalam dunia sepak bola yang semakin terhubung dengan politik, tindakan Infantino ini menimbulkan pertanyaan tentang batasan yang seharusnya ada antara olahraga dan politik. Banyak yang berharap FIFA dapat mempertahankan integritasnya dan tidak terjebak dalam permainan politik.

Seiring dengan semakin dekatnya Piala Dunia 2026, hubungan antara Infantino dan Trump kemungkinan akan terus menjadi sorotan. Bagaimana FIFA menangani situasi ini akan menjadi ujian besar bagi organisasi tersebut dalam menjaga reputasi dan integritasnya di mata dunia.

Newsletter : 📩 Dapatkan update terkini seputar dunia sepak bola langsung ke email kamu — gratis!

Comments (0)

Tidak ada komentar, jadilah yang pertama!

You Might Also Like