Selamat Ulang Tahun!

Kisah Unik Ketika Gabriel Batistuta Nyaris Gabung Ipswich Town

"Ini terjadi pada musim panas 1994 saat Batigol baru mengembalikan Fiorentina ke Serie A."

Biografi | 21 September 2021, 19:06
Kisah Unik Ketika Gabriel Batistuta Nyaris Gabung Ipswich Town

Libero.id - Pada 1990-an hingga awal 2000-an Gabriel Batistuta merupakan salah satu penyerang paling ditakuti di seantero Eropa, terutama di Serie A. Pemain asal Argentina itu menempati kedudukan yang terhormat bersama Fiorentina dan AS Roma.

Batigol sempat dikenal sebagai simbol loyalitas di sepakbola. Datang ke Fiorentina pada 1990, dia selalu menolak pindah ke klub yang lebih besar yang menjanjikan gaji besar dan jaminan trofi seperti Real Madrid, Manchester United, atau AC Milan. 

Dia baru pindah ke Roma pada 2000 ketika La Viola mengalami kesulitan finansial dan harus menjual bintang-bintangnya, termasuk Batistuta dan Rui Costa. Kepergian Batistuta ditangisi suporter Fiorentina. Bahkan, pantungnya di Stadio Artemio Franchi sempat dihancurkan, meski kemudian dipulihkan.

Saat bermain di Roma, Batistuta juga tidak melupakan jasa Fiorentina. Terbukti, pada pertandingan melawan La Viola dan mencetak gol, Batigol menolak melakukan selebrasi. Bahkan, air mata bercucuran dari matanya.  

Uniknya, sebelum pindah ke Roma, ternyata Batistuta pernah hampir bermain di klub medioker Inggris, Ipswich Town. Waktu itu, awal musim 1994/1995. Dilaporkan bahwa topskor sepanjang masa Argentina sebelum dipatahkan Lionel Messi itu mulai jenuh dengan kompetisi Italia yang "kotor".

Menurut sebuah laporan Trevor Haylett dari The Independent, Batistuta mengungkapkan ketidakbahagiaannya di Firenze. Kebetulan, Ipswich saat itu di bawah asuhan asuhan Mick McGiven mengakhiri musim 1993/1994 dengan 35 gol dalam 42 pertandingan. Itu jumlah terendah di seluruh divisi sehingga berpikir butuh striker baru untuk musim 1994/1995.

10 Foto Anna Lewandowska, Istri Robert Lewandowski Pemegang Sabuk Hitam Karate

10 Foto Anna Lewandowska, Istri Robert Lewandowski Pemegang Sabuk Hitam Karate

Dan, celah itulah yang dimanfaatkan pelatih baru Ipswich pengganti McGiven, John Lyall. Masalahnya jelas. Mereka membutuhkan lebih banyak gol dan itu ada pada sosok penyerang sekelas Batistuta.

Awalnya, dewan direksi menganggap Lyall bercanda. Tapi, ternyata serius. Bahkan, mereka langsung memulai proses negosiasi. Ipswich kemudian mengajukan tawaran gaji dengan nilai yang cukup menggiurkan pada masanya, 250.000 pounds per pekan untuk mengamankan jasa Batistuta ke Portman Road.

Tawaran spekulasi itu ternyata mendapatkan respons positif Batistuta. The Independent melaporkan bahwa agen Batistuta dan Ipswich telah bertemu dan menyepakati perjanjian prakontrak. Konon, transfernya akan berniali 2,9 juta pounds. Itu jumlah yang sangat besar di musim 1994/1995!

Namun, dalam prosesnya kesepakatan gagal dicapai setelah manajemen La Viola membaca proposal Ipswich dan terkejut dengan reaksi kubu Batigol. Mereka kemudian tersengat dan berbalik menawari Batistuta gaji selangit dan kontrak jangka panjang. Dan, selenjutnya seperti yang sudah tertulis dalam buku sejarah sepakbola.

Batistuta sendiri didatangkan oleh Fiorentina dari Boca Juniors pada 1991 setelah penampilan yang menarik perhatian selama Copa America. Batistuta kemudian mencetak 13 gol di musim debutnya di Serie A. 

Meski La Viola terdegradasi setahun kemudian, pemain Argentina itu tetap di Firenze. Dia membawa klub kembali ke Serie A untuk pertama kalinya dengan mencetak 16 gol selama musim 1993/1994.

Dalam satu kesempatan Batistuta pernah menyebut tidak merasa sebagai bintang. "Saya tidak pernah menikmati menjadi bintang karena begitu anda menjadi titik fokus tim, anda memikul beban dan tanggung jawab ekstra," ujar Batistuta.

"Saya menerima banyak tawaran. Ada dari Real Madrid, Manchester United, dan Milan. Tapi, saya lebih suka ketenangan bermain untuk Fiorentina. Bagi saya uang bukan yang utama. Saya bermain di Fiorentina karena saya bahagia. Karena saya senang dengan kotanya," ungkap Batigol.

Gagal dengan Batistuta, Ipswich pergi ke Amerika Latin lagi. Di sana, mereka menemukan seorang pria Uruguay yang bermain di Argentina bersama Estudiantes de La Plata, Adrian Paz. Konon, gaya rambut dan penampilan Paz lebih mirip Ivan Zamorano muda dibanding Batistuta, meski sama-sama berambut sebahu.

Ditransfer 1 juta pounds, dari Estudiantes, rumornya menyebut Lyall dan asisten pelatihnya tidak pernah benar-benar menonton Paz bermain secara langsung. Mereka hanya melihat rekaman video sang striker saat beraksi beraksi, yang kemungkinan besar sudah banyak diedit. 

Meski membuat sejarah sebagai pemain Uruguay pertama yang bermain di Liga Premier, orang-orang kemudian menjadi jelas bahwa Paz tidak sehebat harga mahalnya. Fisiknya lemah dan cuaca Inggris tampaknya kurang cocok dengan dirinya.

Hanya mencetak satu gol dari 18 pertandingan liga, Paz akhirnya dibuang. Dia pindah ke China untuk bermain di Shanghai Pudong. Kemudian, ke MLS dengan Columbus Crew dan Colorado Rapids. Kembali ke China dengan Tianjin Teda. Pulang ke Amerika Latin dengan Bella Vista. Dan, akhirnya pensiun di China bersama Qingdao Etsong pada 2000, tahun ketika Batigol pindah ke Roma.

(mochamad rahmatul haq/anda)




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=LDyrEvcaNwM

Artikel Pilihan