Sempat Jadi Raja Asia, Guangzhou Terancam Kolaps Setelah Evergrande Krisis

"Setelah Jiangsu Suning, kini giliran Guangzhou FC yang diambang kebangkrutan."

Biografi | 25 September 2021, 01:32
Sempat Jadi Raja Asia, Guangzhou Terancam Kolaps Setelah Evergrande Krisis

Libero.id - Dulu namanya Guangzhou Evergrande. Sekarang, Guangzhou FC. Tapi, keduanya entitas yang sama, yang hanya berganti nama karena regulasi di Liga Super China. Klub ini juga dikenal sebagai yang terbaik di China dan pernah menjadi raja di Liga Champions Asia dengan pelatih serta pemain kelas dunia.

Dalam sejarah sepakbola China, Guangzhou adalah klub paling sukses. Mereka punya delapan trofi Liga Super China, dua Liga Champions Asia, dan pernah dilatih Marcello Lippi serta diperkuat orang-orang seperti Alberto Gilardino, Alessandro Diamanti, Paulinho, Jackson Martinez, Robinho, hingga Lucas Barrios.

Sekarang, Guangzhou dilatih pemenang Ballon d'Or 2006, Fabio Cannavaro, yang dibantu adiknya, Paolo, sebagai salah satu dari 14 asistennya.

Saat ini, Guangzhou berada di ambang kehancuran dan sedang mencari dana talangan dari pemerintah. Klub ini dimiliki oleh perusahaan pengembang perumahan raksasa Asia, China Evergrande Group, yang sedang dililit hutang dan terancam bangkrut. Mereka dikabarkan telah melelang pemainnya untuk mengumpulkan uang  demi mencegah inflasi internal klub.

Menurut Bloomberg, pemerintah Guangdong sedang mencari cara untuk mengambil alih 10 sampai 15 persen saham di klub tersebut setelah kepala asosiasi sepakbola di provinsi itu meminta bantuan pemerintah. Menurut laporan itu, sebuah perusahaan milik negara dikabarkan akan mengakuisisi klub.

Situasi itu terjadi karena perusahaan induknya memiliki utang yang nyaris mencapai 2 triliun yuan (USD309 miliar) pada pembukuannya pada Juli 2021. Ditambah utang lain yang tidak tercatat dengan jumlah yang belum diketahui, banyak lembaga percaya mereka ada di ambang kebangkrutan.

Kebangkrutan tersebut berpotensi menjadi tsunami finansial, atau seperti yang dikatakan beberapa analis, "Lehman Brothers China", yaitu runtuhnya bank investasi raksasa Amerika Serikat pada 2008 yang memicu krisis keuangan global.

Itu karena Evergrande merupakan salah satu dari tiga pengembang terbesar di China, dengan jejak yang cukup signifikan. Liabilitas perusahaan setara dengan 2% dari PDB China dengan lebih dari 200.000 karyawan. Perusahaan memiliki lebih dari 800 proyek yang sedang dibangun. Kini, lebih dari setengahnya dihentikan karena kas yang tidak mencukupi.

Ada ribuan perusahaan dari hulu ke hilir yang mengandalkan Evergrande untuk bisnis, menciptakan lebih dari 3,8 juta pekerjaan setiap tahun, yang akan berdampak, termasuk Cannavaro dan pasukannya.

Banyak pemain bintang bergaji tinggi yang sedang mencari jalan keluar dari Guangzhou. Banyak yang ingin meninggalkan China dan Liga Super China setelah gaji mereka tidak dibayar bulan lalu. Cannavaro juga dikabarkan akan meninggalkan China, mengingat dia adalah salah satu pelatih dengan bayaran tertinggi di dunia.


Mirip Chelsea atau Man City di Inggris

Cara Guangzhou membangun klub mirip dengan Roman Abramovich di Chelsea atau Sheikh Mansour di Manchester City. Evergrande membeli klub Guangzhou seharga USD15,5 juta (Rp220 miliar) pada 2010 dan mengubah klub medioker yang hanya punya prestasi terbaik dua kali runner-up Liga China versi lama menjadi raksasa.  

Dengan kekuatan uang tak terbatas, Guangzhou telah berada mendominasi busra transfer di sepakbola China selama satu dekade. Dilaporkan kerugian klub saat ini antara USD155 juta-USD310 juta(Rp2,2-4,4 triliun) per tahun.

Klub tersebut menjadi berita utama internasional pada 2011 setelah terungkap bahwa mereka membayar pemain Argentina U-20, Dario Conca, dengan gaji tertinggi ketiga di dunia, di belakang Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Tahun lalu, klub memulai pembangunan stadion berkapasitas 100.000 kursi dan akan menjadi yang terbesar di dunia. Tidak jelas apakah proyek itu akan selesai tahun depan dan sesuai jadwal atau akan mangkrak karena kondisi perusahaan yang terancam gulung tikar. 

Klub ini juga telah mempelopori upaya China untuk menaturalisasi pemain demi meningkatkan prestasi tim nasional yang lesu dengan bintang-bintang seperti pemain Brasil, Elkeson, Aliosio, dan Alan Carvalho, serta pemain Inggris, Ty Browning. Tak satu pun dari pemain ini akan tinggal bersama klub. 

Meski tidak ada yang pasti tentang nasib Evergrande, pengeluaran pasti akan dibatasi. Ini mengikuti langkah klub kaya lain yang hampir bangkrut, Jiangsu Suning. Mereka adalah juara Liga Super China musim lalu yang perusahaan induknya, Suning Group, juga memiliki saham Inter Milan.

(diaz alvioriki/anda)

Baca Berita yang lain di Google News




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Opini

(500 Karakter Tersisa)

Artikel Pilihan


Daun Media Network