Selamat Ulang Tahun!

Analisis 5 Alasan Kenapa Ole Gunnar Solskjaer Layak Dipecat

"Apakah Anda setuju jika Ole angkat koper?"

Analisis | 18 October 2021, 22:21
Analisis 5 Alasan Kenapa Ole Gunnar Solskjaer Layak Dipecat

Libero.id - Manchester United kembali meraih hasil buruk di Liga Premier musim  2021/22. 
Cristiano Ronaldo dan rekan-rekan kalah  2-4 dari Leicester City dalam laga yang berlangsung di King Power Stadium, pada Sabtu (16/10/2021) malam WIB.

Dan gagasan untuk memecat Ole Gunnar Solskjaer kini kembali menggema. Sejak ditunjuk menggantikan Jose Mourinho pada akhir tahun 2018 yang lalu, belum banyak yang bisa diberikan oleh Ole, belum ada trofi sama sekali, dan mentok hanya finish di urutan 4 besar klasemen Liga Premier dan jadi runner-up Liga Eropa.

Dan untuk itulah, kami mencoba untuk memaparkan alasan mengapa sebenarnya Ole Gunnar Solskjaer layak dipecat oleh Manchester United --- sejalan dengan suara hati para pemain penggemar. Simak alasannya berikut ini :

1) Man United Sering Kalah dari Tim yang Lebih Lemah

Musim ini saja, Manchester United telah kehilangan poin melawan klub-klub yang notabene bisa diatasi, sebutlah  seperti Southampton, Aston Villa, dan Everton. 
Tradisi menang mudah ketika berhadapan dengan klub-klub model diatas pelan-pelan mulai rontok di era Ole.

Kehilangan poin dari klub yang kualitas skuadnya di bawah mereka tentu sangat tak bisa diterima oleh para penggemar.

10 Foto Ada Hegerberg, Pemenang Ballon d'Or Wanita Pertama

10 Foto Ada Hegerberg, Pemenang Ballon d'Or Wanita Pertama

2) Solskjaer Sering Keliru dalam Memilih Pemain

Ole bisa dikatakan beruntung, sebab ia punya sejumlah pemain fantastis di skuad Manchester United. Namun, justru karena itu juga tanpaknya ia kesulitan memilih komposisi yang tepat untuk beberapa pertandingan. 


Salah satu contohnya ialah tidak menurunkan Cristiano Ronaldo sebagai starter saat melawan Everton. Dan akibatnya telah ditanggung sendiri.

3) Belum Bisa Mengoptimalkan Potensi Pemain

Kelanjutan dari yang di atas, Ole masih dirasa belum bisa memanfaatkan pemain berkualitas yang ada di skuad United. Dalam hal ini, contohnya mengarah pada seorang Donny van de Beek. Ia adalah gelandang muda kreatif yang direkrut dari Ajax yang seharusnya difungsikan untuk membantu lebih banyak dalam serangan. 

Tetapi faktanya, pemain asal Belanda itu cuma jadi penghangat bangku cadangan.
Kasus Jadon Sancho beda lagi, tetapi irisan nya ialah, Sancho masih belum tampak optimal.

4) Ole Cendrung Mengandalkan Kehebatan Individu Pemain

Kehadiran Cristiano Ronaldo tampak membuat Manchester United terlalu bergantung padanya di lini depan. Dan pada musim-musim sebelumnya, pelatih asal Norwegia itu cenderung terlalu mengandalkan Marcus Rashford atau Bruno Fernandes.

Sementara di lini belakang, David De Gea masih terus jadi tembok penyelamat. Musim ini saja, kiper asal Spanyol itu melakukan beberapa penyelamatan untuk menggagalkan gol lawan-lawan.

Kalau tidak Manchester United akan selalu kebobolan lebih banyak ketika menghadapi Wolves dan West Ham United, juga Villarreal di Liga Champions.

5) Man United Tidak Begitu Berkembang  dari Segi Taktikal

Masih ada kaitannya dengan point sebelumnya. Ole tampak juga terlalu mengandalkan pemain bintang di satu lini aja karena tak mampu menemukan taktik yang bisa memadukan setiap potensi pemain.

Ole seperti tidak memiliki rencana lain. Satu-satunya rencana permainan yang diketahuinya adalah menciptakan ruang di sayap dan melakukan umpan silang atau bermain ke kotak penalti, yang dapat diprediksi dan seringkali mudah digagalkan oleh lawan.

(gigih imanadi darma/mag)




Hasil Pertandingan Manchester United


  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=uZiDnSmspvE

Artikel Pilihan