Di sepakbola internasional, ada sejumlah nama populer yang masuk golongan kerbau. Sebut saja Ole Gunnar Solskjaer dan Marcus Rashford. Bagaimana Indonesia?
Hari ini, 12 Februari 2021, warga Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Dalam kalender mereka, 2021 adalah Tahun Kerbau Logam dan terjadi setiap 12 tahun sekali. Sebut saja 1961, 1973, 1985, 1997, dan 2009.

Dalam tradisi Tionghoa, kerbau adalah hewan yang kuat, yang sering digunakan untuk bekerja keras. Hewan ini juga setia, keras kepala, dan bertekad untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Kerbau juga berarti ketabahan, keteguhan hati, stabilitas keluarga, disiplin, dan terorganisasi. Paru-paru kerbau rentan sehingga berisiko lebih tinggi menderita penyakit pernapasan.

Kerbau menempati posisi kedua dalam astrologi China. Selain rajin, kepribadian kerbau dapat diandalkan, serta memiliki sifat jujur. Kerbau dikenal karena ketekunan, ketergantungan, kekuatan, dan tekad. Ini mencerminkan karakteristik konservatif tradisional.

Wanita kerbau adalah istri yang bisa menjadi ibu rumah tangga dan terkenal karena kesetiaannya. Mereka sangat mementingkan pendidikan anak-anak. Sementara pria kerbau dinilai sangat patriotik, memiliki cita-cita dan ambisi untuk hidup, serta  mementingkan keluarga dan pekerjaan.

Kerbau juga memiliki kesabaran yang tinggi dan keinginan untuk membuat kemajuan. Mereka dapat mencapai tujuan dengan usaha yang konsisten. Mereka tak banyak dipengaruhi orang lain atau lingkungan. Tapi, kerbau sanggup bertahan dalam melakukan sesuatu sesuai cita-cita dan kemampuan.

Saat bertindak, kerbau akan memiliki rencana pasti dengan langkah-langkah detail. Mereka menerapkan keyakinan dan kekuatan fisik yang kuat. Tapi, kerbau paling lemah dalam keterampilan komunikasi. Mereka sering menganggap tidak ada gunanya bertukar pikiran dengan orang lain. Kerbau keras kepala dan berpegang pada cara mereka sendiri.

Di sepakbola internasional, ada sejumlah nama populer yang masuk golongan kerbau. Sebut saja Ole Gunnar Solskjaer dan Marcus Rashford dari Manchester United. Lalu, Claude Makelele dan Lassana Diarra mewakili lulusan Real Madrid. Sedangkan yang paling terkenal adalah Cristiano Ronaldo, Luka Modric, hingga Lukas Podolski.

Bagaimana dengan pesepakbola aktif di Liga Indonesia? Tidak banyak data yang bisa dikumpulkan, selain starting line-up pemain tim nasional berikut ini, menggunakan skema 3-5-2:


GK: Nadeo Argawinata (Bali United)



Lahir di Kediri, 9 Maret 1997, Nadeo adalah kiper terbaik yang dimiliki Indonesia sekarang. Memukau bersama Borneo FC, Nadeo bersinar ketika membela timnas U-23 di SEA Games 2019. Meski gagal di final setelah dikalahkan Vietnam, karier penjaga gawang yang dianggap mirip Kepa Arrizabalaga itu semakin mengkilap.

Nadeo pindah ke Bali United pada akhir 2019 untuk bermain di Liga 1 2020. Tapi, kompetisi dihentikan dan suporter tidak bisa lagi menikmati penampilan memikat Nadeo. Sebelum kompetisi dihentikan, Nadeo membela Serdadu Tridatu pada 3 pertandingan fase grup Piala AFC 2020.


CB: Andy Setyo Nugroho (Persikabo 1973)

Andy lahir di Pati, 16 September 1997. Dia menjadi kapten ketika timnas U-23 bermain di SEA Games 2019. Karier profesionalnya dihabiskan di PS TNI, PS TIRA, TIRA-Persikabo, dan kini Persikabo 1973.

Beroperasi sebagai bek tengah, Andy juga ikut bermain di SEA Games 2017. Pertandingan debutnya terjadi pada 22 Agustus 2017 melawan Vietnam. Lalu, pada 25 November 2017, dia mendapatkan kesempatan menjalani pertandingan pertama bersama tim senior. Saat itu, Andy menjadi pemain pengganti di laga uji coba menghadapi Guyana.


CB: Victor Igbonefo (Persib Bandung)

Lahir di Enugu, Nigeria, 10 Oktober 1985, Igbonefo adalah pemain naturalisasi Indonesia. Paspor berlogo Garuda didapatkan pada 10 Oktober 2011, tapi baru menjalani debut di pertandingan resmi untuk Indonesia pada 23 Maret 2013 melawan Arab Saudi pada Kualifikasi Piala Asia 2015.

Bek tengah yang sekarang terdaftar sebagai anggota Persib Bandung itu punya jam terbang yang tinggai di Liga Indonesia. Dia pernah membela Persipura Jayapura, Pelita Jaya, hingga Arema. Igbonefo juga pernah menjuarai Liga Indonesia bersama Mutiara Hitam 3 kali (2005, 2008/2009, 2010/2011).

Kehebatan Igbonefo tidak hanya diakui di Indonesia. Dia juga sempat berkelana ke luar negeri. Bek berpostur 185 cm itu pernah tinggal di Thailand untuk membela sejumlah klub. Sebut saja Chiangrai United, Osotspa Samut Prakan, Royal Navy FC, Nakhon Ratchasima, hingga PTT Rayong.


CB: Bagas Adi Nugroho (Arema)



Lahir di Yogyakarta, 8 Maret 1997, Bagas bisa bermain sebagai bek tengah maupun bek kiri sama baiknya. Bagas sudah bermain untuk Indonesia sejak U-16, U-19, U-23, hingga senior. Dia merupakan salah satu pemain lulusan Deportivo Indonesia. Bagas juga ikut saat timnas U-22 juara Piala AFF U-22 2019 dan saat timnas U-23 meraih perak SEA Games 2019.


RW: Yakob Sayuri (PSM Makassar)

Pria asal Papua itu lahir di Yapen, 9 September 1997, dan mencuri perhatian ketika membela Barito Putera pada Liga 1 2019. Sebagai pemain sayap, Yakob sangat cepat, mobile, dan memiliki umpan bagus. Buktinya, pada 2020 dia dikontrak PSM Makassar.

Penampilan bagus juga membuat Yakob dipanggil untuk proyeksi timnas U-23 asuhan Shin Tae-yong untuk SEA Games 2021. Itu bukan pengalaman pertama. Pasalnya, pada 2019 dia juga sempat dipanggil untuk mengikuti sebuah turnamen junior di Singapura, Merlion Cup. Yakob tampil melawan Thailand dan Filipina.


MF: Ahmad Bustomi (Persela Lamongan)

Tidak banyak pilihan pemain dengan shio kerbau yang tersedia di lini tengah. Beruntung, Bustomi, yang lahir di Jombang, 13 Juli 1985, itu masih aktif bermain. Pada 2020, dia tercatat sebagai pemain Persela Lamongan setelah sebelumnya membela Mitra Kukar.

Dari sudut pandang pengalaman, jam terbang Bustomi sangat panjang. Dia sudah bermain di timnas sejak era Ivan Kolev. Pada masanya, Bustomi dianggap sebagai gelandang terbaik yang dimiliki Indonesia karena visi bermain dan penguasaan bola jempolan.


DM: Hariono (Bali United)

Hariono adalah pemain seangkatan Bustomi. Lahir di Sidoarjo, 2 Oktober 1985, Mas Har dikenal selama bertahun-tahun sebagai gelandang brutal milik Persib Bandung yang tidak sungkan melakukan pelanggaran keras kepada lawan mainnya. Tapi, beberapa kali, dia juga diberi kesempatan membela timnas. Sedangkan pada Liga 1 2020, Hariono dikontrak Bali United.


MF: Hanif Sjahbandi (Arema)



Lahir di Bandung, 7 April 1997, Hanif dikenal selama bertahun-tahun sebagai gelandang tangguh Arema. Biasanya, dia bermain di tengah. Tapi, tidak jarang ditempatkan di sayap. Bahkan, Hanif juga sempat menjadi bek. Intinya, dia pesepakbola serba bisa dan selalu tampil total.

Bersama Arema, Hanif menjuarai Piala Presiden 2017 dan 2019. Sementara dengan timnas U-23, Hanif ikut saat mendapatkan medali perunggu SEA Games 2017. Dia juga hadir ketika timnas U-22 menjuarai Piala AFF U-22 2019.


LW: Osvaldo Haay (Persija Jakarta)

Lahir dari pasangan Banyuwangi-Papua, 17 Mei 1997, Osvaldo memulai karier sebagai bek sayap. Pelan dan pasti didorong sebagai gelandang sayap. Kemudian, bermain sebagai penyerang. Meski beroperasi di depan, Osvaldo sangat senang mencari ruang hingga ke sisi lapangan.

Osvaldo pertama kali menjadi pusat pembicaraan orang ketika membela klub di kampung halamannya, Persipura Jayapura. Setelah 2 musim, Osvaldo menerima pinangan Persebaya Surabaya. Sejak 2020, dirinya tercatat sebagai anggota Persija Jakarta.

Karier Osvaldo bersama timnas juga layak mendapatkan acungan jempol. Dia ikut bermain saat timnas U-23 meraih medali perunggu SEA Games 2017 dan perak SEA Games 2019. Dia juga hadir ketika timnas U-22 mendapatkan Piala AFF U-22 2019. Untuk SEA Games 2021, nama Osvaldo kembali dipanggil Shin Tae-yong untuk mengikuti TC.


FW: Ezra Walian (PSM Makassar)



Lahir di Amsterdam, 22 Oktober 1997, dari ayah asal Manado dan ibu Belanda, Ezra menjadi pemain naturalisasi yang paling tidak beruntung. Meski ikut SEA Games 2017 dan sempat menjalani pertandingan uji coba timnas senior melawan Myanmar, status Ezra sebagai WNI belum diakui FIFA.

Masalahnya, Ezra dianggap pernah bermain di pertandingan resmi bersama Belanda U-17. Itu terjadi pada 19 Oktober 2013 saat Kualifikasi Euro U-17 2014 melawan San Marino. Di pertandingan tersebut, Ezra mencetak 5 gol.

Ketika Ezra akan tampil pada ajang resmi bersama Indonesia, yaitu di Kualifikasi Piala Asia U-23 2019, Asosiasi Sepakbola Belanda (KNVB) mengirim memorandum ke AFC yang menjelaskan bahwa Ezra pernah tampil di laga resmi. Akibatnya, Ezra tidak bisa dianggap sebagai pemain Indonesia, meski secara hukum di Indonesia sudah sah menjadi WNI.

Dampak dari hal itu membuat Ezra tidak bisa membela PSM di Piala AFC 2019 sebagai pemain lokal. Alasannya, ketika didaftarkan ke AFC, nama Ezra ditolak karena administrasi perpindahan dari KNVB ke PSSI belum beres. Kemungkinan terkait status kewarganegaraan.

Terlepas dari hal itu, Ezra tetap pemain yang bagus. Pengalaman bersama Jong Ajax tetap dibutuhkan PSM maupun timnas. Dengan postur 182, Ezra adalah penyerang yang kuat saat berduel.


FW: Marinus Wanewar (Persipura Jayapura)

Lahir di Sarmi, 24 Februari 1997, Marinus menjadi bintang ketika timnas U-23 tampil di SEA Games 2017 dan saat timnas U-22 memenangkan Piala AFF U-22 2019. Sejumlah provokasi pemain lawan direspons dingin pemain Persipura Jayapura tersebut. Sementar debut senior mantan pemain Bhayangkara FC itu terjadi pada 8 Juni 2017 melawan Kamboja.