Pernah melawan Ronaldinho dkk dengan baju timnas Vietnam. Hidupnya dipukul sebuah kecelakaan menyedihkan.
Tiga tahun sebelum PSSI menaturalisasi Cristian Gonzales, Asosiasi Sepakbola Vietnam (VFF) telah lebih dulu memberi kewarganegaraan kepada kiper asal Brasil, Fabio dos Santos. Tapi, tidak seperti El Loco, pria yang berganti nama menjadi Phan Van Santos itu kini hidup susah.

Pada 2001, seorang kiper berusia 24 tahun tiba di Vietnam. Pria bernama Fabio dos Santos itu  bergabung dengan Dong Tam Long An. Tanpa disadari, dia menghabiskan waktu yang sangat lama di klub yang kini berkompetisi di V League 2 tersebut.

Selama 10 musim, Santos telah memberikan kontribusi yang besar. Dia membantu klubnya menjuarai V League 1 dua musim berturut-turut pada 2005 dan 2006, serta memenangkan Piala Vietnam 2005 dan Piala Super Vietnam 2006.

Sebagai kiper, Santos memiliki postur tinggi 198 cm. Dia juga refleksif. Santos tidak hanya unggul dalam melindungi jaring timnya dari gempuran lawan, melainkan juga melancarkan serangan yang sangat bagus dengan bola-bola panjang yang akurat. Santos sering membantu timnya mengatasi kebuntuan berkat gol tendangan bebas yang bagus layaknya Rogerio Ceni atau Jose Luis Chilavert.

Sama seperti kasus Gonzales di Indonesia, penampilan Santos saat ini membuat rakyat Vietnam senang. Mereka mendesak VFF untuk menaturalisasi pria kelahiran Rio de Janeiro, 30 September 1977, tersebut.

Setelah menjadi warga negara Vietnam pada akhir 2007 sebagai Phan Van Santos, panggilan membela tim nasional datang.  Dia dipanggil pelatih asal Portugal, Henrique Calisto, untuk persiapan Piala AFF 2008.

Pertandingan persahabatan melawan Brasil U-23 di My Dinh National Stadium, Hanoi, 1 Agustus 2008 adalah pertama kalinya Santos bermain. Dia menjadi pemain naturalisasi pertama Vietnam. Saat itu, Ronaldinho ikut bermain dan menjadi salah satu pemain senior yang akan bertanding di Olimpiade Beijing 2008.

"Saya sangat bangga bisa bermain untuk Vietnam melawan tim kampung halaman saya. Di ruang ganti sebelum pertandingan, pelatih (Calisto) berkata bahwa kami harus bangga bermain melawan juara Piala Dunia. Setelah pertandingan, pemain-pemain Brasil mendatangi saya dan mengucapkan selamat," ujar Santos pada akhir tahun lalu, dalam wawancara dengan Tuoi Tre Online. 

Tapi, bulan madu Santos dengan VFF berakhir setelah 5 pertandingan persahabatan. Kesalahan yang dilakukan Santos saat Vietnam kalah 2-3 dari Turkmenistan pada Ho Chi Minh City International Cup 2008 tidak termaafkan. Meski hanya turnamen tidak resmi, Santos dikecam habis-habisan.

Tidak terima dengan hujatan yang diterima, Santos mengundurkan diri setelah hanya memiliki 8 caps untuk Vietnam. Saat Piala AFF 2008 akan digelar, Calisto sebenarnya sudah membujuk Santos untuk kembali. Tapi, dia sudah terlanjur marah sehingga gagal bermain. Uniknya, tahun itu Vietnam justru juara setelah mengalahkan Thailand di final.

Meski mundur dari timnas, Santos tetap bermain di level klub. Pada 2010, dia bergabung dengan Navibank Saigon. Tapi, berat badan yang tidak ideal membuat Santos harus pindah ke Becamex Binh Duong sebelum pensiun sebagai pemain Hung Vuong An Giang di V League 2 pada 2014.

Tetap tinggal di Vietnam dan kerja serabutan

Setelah pensiun, Santos memilih menetap di Vietnam. Dia bermukim di Ho Chi Minh City, tinggal di sebuah rumah sederhana yang dibeli dengan uang tabungan selama bermain sepakbola. Santos  tidak ingin kembali ke Brasil karena mengaku tidak memiliki banyak keluarga. Dia juga mengaku lebih nyaman tinggal di Vietnam daripada Brasil.

"Ayah saya meninggal ketika saya berusia 3 tahun. Ibu saya meninggal 3 tahun lalu. Jadi, saya tidak memiliki banyak kerabat yang tersisa di Brasil. Saya juga tidak ingin kembali ke Brasil karena bagi saya Vietnam itu indah dan damai," kata Santos.

Untuk mengisi waktu luang setelah tidak bermain, Santos menggemari hobi memasak. Di waktu luang, dia pergi ke pasar untuk memasak masakan kampung halamannya dan mengajak teman-temannya asal Brasil yang bermukim di Vietnam untuk makan. Semua orang memujinya. Jadi, Santos berpikir untuk memasak makanan Brasil dan dijual online atau mengirimkannya sendiri.

"Saya menjual terutama kepada komunitas Brasil dan penduduk asing di Distrik 2 dan Distrik 7 (di Ho Chi Minh City). Tapi, saya tidak punya pilihan selain mencari penghasilan sambil menunggu pekerjaan yang berhubungan dengan sepakbola," kata Santos.

Di penghujung 2016, Santos sebenarnya mendapat undangan untuk bekerja sebagai pelatih junior di Becamex. Dia menerima penawaran itu dengan sukacita dan penuh semangat menjalani aktivitas barunya.

Untuk menjadi pelatih, Santos rela harus pergi ke Binh Duong dari Ho Chi Minh City setiap hari menggunakan motor. Itu berjalan 2 tahun sampai kecelakaan lalu lintas dengan motor kesayangan pada Juli 2018 mengubah hidupnya. Teman dan rekan Santos harus mengumpulkan uang untuknya untuk mengobati cedera di kepala.

Setelah pulih, Santos tidak dapat bekerja di Becamex lagi karena terlalu takut untuk bepergian jarak jauh. Sebagai gantinya, Santos menghubungi sekolah internasional di Distrik 7 untuk mengajar sepakbola paruh waktu agar dirinya tetap memiliki penghasilan.

Santos juga mendirikan tim amatir bernama Santos Saigon FC. Tim itu berisi orang-orang asing dari berbagai negara yang tinggal di Ho Chi Minh City. Secara reguler, Santos menggelar laga eksebisi dengan perusahaan atau klub amatir lain dengan imbalan sejumlah uang.



"Sepakbola adalah hasrat saya. Kegembiraan saya setiap kali saya melatih pemain muda dan melihat mereka tumbuh. Karena saya tidak memiliki sertifikat pelatih, saya tidak bisa bergabung dengan klub profesional," beber Santos.

Saat ini, Santos juga mengajar sepakbola anak-anak di sebuah kota kecil di Ben Luc, Provinsi Long An, yang berbatasan dengan Ho Chi Minh City. "Jika ada yang membiayai saya untuk mengambil lisensi (pelatih) saya akan senang. Mimpi saya adalah mengajari kiper di klub untuk menjadi penendang bebas yang baik," pungkas Santos.