Ajax Amsterdam paling menyedihkan.
Bursa transfer telah terbukti menjadi tempat yang tak kenal ampun sepanjang sejarah sepakbola. Ini adalah arena di mana klub-klub terbesar di dunia begitu dominan dan itu mengakibatkan sejumlah tim ikonik terpecah dari tahun ke tahun.

Jika sebuah skuad berhasil mencapai kesuksesan yang tak terduga di salah satu liga, itu cukup untuk membuat tim dari liga lain melakukan segala cara untuk mendapatkan pemain bintangnya hijrah.
Marca menyebutkan ada 10 tim legendaris yang dihancurkan oleh bursa transfer.

Ajax adalah klub yang terkenal karena selalu sukses mempromosikan pemain muda mereka dan menjualnya dengan harga yang sangat besar.

Mari kita lihat pemain-pemain dari 10 tim yang menjadi sumber kehancuran klub asalnya.

#AS Monaco

2017: Kylian Mbappe (Paris Saint-Germain), Benjamin Mendy (Manchester City), Bernardo Silva (Manchester City), Tiemoue Bakayoko (Chelsea)

2018:  Thomas Lemar (Atletico Madrid), Fabinho (Liverpool), Joao Moutinho (Wolverhampton Wanderers)

Monaco berhasil mengalahkan Paris Saint-Germain dalam perebutan gelar Ligue 1 pada musim 2016/2017 dan mencapai semifinal Liga Champions pada musim yang sama.

Pada awal musim 2018/2019, tim ini dikenal sebagai tim yang menggemparkan sepakbola Eropa. Namun, tidak berdayanya Monaco menahan para bintangnya membuat prestasi mereka turun drastis.

#Ajax era Johan Cruyff

1973:  Johan Cruyff (Barcelona)

1974:  Johan Neeskens (Barcelona)

1975:  Johnny Rep (Valencia), Horst Blankenburg (Hamburg), Arie Haan (Anderlecht)

Ketika Cruyff hijrah ke Barcelona setelah memenangkan Piala Eropa ketiga untuk Ajax pada 1973, sejumlah nama bintang klub lainnya mengikuti. Kepindahan beberapa pemain bintang itu membuat ini adalah kehancuran pertama klub asal Amsterdam.

#Borussia Dortmund

1997:  Paulo Sousa (Inter Milan), Paul Lambert (Celtic), Karl-Heinz Riedle (Liverpool)

1998:  Stefan Klos (Rangers), Steffen Freund (Tottenham), Jorg Heinrich (Fiorentina)

Dortmund mengalahkan Juventus yang di dalamnya ada Zinedine Zidane di final Liga Champions 1997 untuk memenangkan kompetisi untuk pertama dan satu-satunya dalam sejarah mereka.

Meskipun klub Jerman masih berhasil mencapai semifinal kompetisi terbesar Eropa musim berikutnya, namun sejak saat itu Dortmund sulit berprestasi lagi.

#Marseille

1993: Marcel Desailly (AC Milan), Abedi Pele (Lyon), Alen Boksic (Lazio), Franck Sauzee (Atalanta)

1994: Didier Deschamps (Juventus), Rudi Voller (Bayer Leverkusen), Basile Boli (Rangers)

Marseille adalah pemenang pertama Liga Champions setelah berganti nama. Namun, nama-nama besar pergi dari klub setelah memenangkan UCL tersebut. Tak hanya membuat Marseille gagal berprestasi, terlebih klub itu terdegradasi ke Ligue 2 pada 1994 karena skandal suap.

#Porto

2004: Ricardo Carvalho (Chelsea), Paulo Ferreira (Chelsea), Deco (Barcelona), Pedro Mendes (Tottenham), Carlos Alberto (Corinthians), Derlei (Dynamo Moscow)

Setelah menentang semua rintangan dan memenangkan Liga Champions pada tahun 2004, tim Porto yang berprestasi dicabik-cabik oleh beberapa tim elit Eropa lain.

Sebagian besar pemain terbaik pergi sebelum awal musim 2004/2005. Seperti yang dilakukan Mourinho, yang bergabung dengan Carvalho dan Fereira di Chelsea.

#Lazio

2000: Alen Boksic (Middlesbrough), Matias Almeyda (Parma), Sergio Conceicao (Parma)

2001: Juan Sebastian Veron (Manchester United), Pavel Nedved (Juventus), Marcelo Salas (Juventus)

2002: Alessandro Nesta (AC Milan), Hernan Crespo (Inter Milan)

Melihat nama-nama itu sangat tidak mengherankan jika Lazio dengan mudah memenangkan Scudetto pada 1999/2000.

Penjualan sebagian besar pemain kunci pada tahun 2000 dan 2002 membuat mereka menghasilkan banyak uang, tetapi mereka tidak pernah mendekati kesuksesan sama sejak saat itu.

#Palmeiras

1994: Mazinho (Valencia), Zinho (Yokohama), Cesar Sampaio (Yokohama)

1995: Antonio Carlos Zago (Kashiwa), Roberto Carlos (Inter Milan)

1996: Rivaldo (Deportivo La Coruna), Flavio Conceicao (Deportivo La Coruna

1997: Djalminha (Deportivo La Coruna)

Tim Brasil itu menunjukkan penampilan yang mengesankan melawan Real Madrid pada 1994. Setelah itu, seluruh dunia memperhatikannya.

Namun, pada 1997, sebagian besar pemain kunci pergi dengan tiga dari mereka bergabung dengan Deportivo yang kemudian memenangkan gelar Liga Spanyol pada 1999/2000.

#Ajax era Marco van Basten

1987: Marco van Basten (AC Milan), Frank Rjikaard (Sporting Lisbon), Sonny Silooy (Racing Paris)

Tim Ajax kedua yang menjadi korban pasar transfer yang kejam terjadi pada era Van Basten. Cruyff adalah manajer tim raksasa Belanda itu pada 1987 dan dia harus menyaksikan para pemain bintangnya memulai petualangan baru di tim Eropa lainnya.

Kemudian pada 1988, Cruyff sendiri meninggalkan Amsterdam untuk menjadi manajer Barcelona.

#Red Star Belgrade

1991: Robert Prosinecki (Real Madrid)

1992: Dejan Savicevic (AC Milan), Vladimir Jugovic (Sampdoria), Darko Pancev (Inter Milan), Sinisa Mihajlovic (AS Roma), Miodrag Belodedici (Valencia)

Red Star mengalahkan Marseille melalui adu penalti di final Piala Eropa 1991 dan sejumlah pemain berkualitas. Namun pada  1992, klub-klub Spanyol dan Italia datang memanggil yang membuat mereka tidak bisa menolak tawaran.

#Ajax era Kluivert

1995: Clarence Seedorf (Sampdoria)

1996: Edgar Davids (AC Milan), Michael Reiziger (AC Milan), Nwankwo Kanu (Inter Milan), Finidi George (Real Betis)

1997: Marc Overmars (Arsenal), Patrick Kluivert (AC Milan)

Tim Ajax ketiga dan terakhir yang dihancurkan oleh bursa transfer bisa dibilang yang paling menyedihkan.

Meskipun berhasil mengalahkan AC Milan di final Liga Champions 1995, banyak pemain terbaik Belanda termasuk Kluivert yang menjadi pencetak satu-satunya gol di final memilih untuk bergabung dengan tim Italia.