Mengapa Sebastian Haller Moncer di Ajax Setelah Tinggalkan West Ham? Ini Analisisnya

"Koleksi golnya di Liga Champions musim ini lebih banyak dari Robert Lewandowski."

Analisis | 25 February 2022, 21:19
Mengapa Sebastian Haller Moncer di Ajax Setelah Tinggalkan West Ham? Ini Analisisnya

Libero.id - Sebastian Haller sedang menjadi pembicaraan di Liga Champions 2021/2022. Penyerang Pantai Gading itu bersinar bersama Ajax Amsterdam dengan menjadi pencetak gol terbanyak sementara mengalahkan nama-nama populer seperti Robert Lewandowski, Mohamed Salah, Cristiano Ronaldo, Kylian Mbappe, hingga Lionel Messi. 

Haller mencetak gol di enam pertandingan penyisihan grup saat Ajax melaju dengan rekor sempurna dan mengatur pertemuan di babak 16 besar dengan Benfica. Sementara di leg pertama fase knock-out, dia mencetak satu gol dan bunuh diri saat skor 2-2 tercipta di Lisbon.

Jika ditotal, Haller telah mencetak 11 gol dan satu bunuh diri untuk kokoh di puncak daftar topskor sementara. "Saya menjalani mimpi itu," kata Haller tentang pencapaian yang mengesankan dalam mencetak gol di Liga Champions musim ini, dilansir Goal.

Sang penyerang telah membuat sejarah dengan mencetak 10 gol dalam enam pertandingan untuk membawa Ajax ke babak 16 besar. Dia adalah pemain pertama yang mencetak gol dalam enam pertandingan pertamanya di kompetisi. Tidak ada lain yang mencapai angka ganda di Liga Champions lebih cepat dari Haller.

Haller juga menjadi orang pertama yang mencetak empat gol dalam debutnya di Liga Champions sejak legenda Ajax, Marco van Basten, melakukannya pada 1992 untuk AC Milan. Eks penyerang West Ham United itu melakukannya saat timnya meraih kemenangan 5-1 melawan Sporting Lisbon.

Sporting, Besiktas, dan Borussia Dortmund, semuanya gagal membuat pemain Pantai Gading berhenti menimbulkan ancaman saat Ajax tampil memukau sepanjang babak penyisihan grup dengan rekor sempurna. Haller on fire sejak bergabung dengan Ajax pada jendela transfer Januari 2021. Dia telah mencetak total 41 gol dalam 52 penampilan. 

Catatan itu luar biasa jika dibanding ketika berkarier di Inggris. Meski menjadi rekor transfer West Ham, dia hanya berhasil mencetak 14 gol dalam 54 pertandingan.

Jadi, apa masalahnya? Selain reputasi The Hammers sebagai klub papan tengah ke bawah, pergantian pelatih yang sering terjadi membuat bakat Haller sia-sia. Dia jarang digunakan Manuel Pellegrini. Sialnya, ketika pelatih asal Chile digantikan David Moyes, Haller justru semakin terasingkan.

"Saya tidak ingin menyalahkan David. Terkadang, gaya permainan pemain tidak cocok untuk seorang pelatih dan saya bukanlah striker yang dia butuhkan," kata Haller kepada The Guardian. 

Salah satu penampilan memalukan Haller di Inggris terjadi dalam pertandingan West Ham melawan Manchester United. Saat itu, The Hammers memimpin 1-0 dan Haller mendapatkan bola untuk menyerbu ke gawang MU. Dia berhasil melewati Dean Henderson dan tampak ditakdirkan untuk mencetak go. Tapi, dia ragu-ragu dan akhirnya tergelincir sehingga membuat peluang emas itu menguap.

Laga memalukan itu bisa dipulihkan beberapa minggu kemudian saat West Ham menghadapi Crystal Palace. Saat itu, Haller melepaskan tendangan overhead yang bagus untuk menutup hasil imbang 1-1.

Tapi, pada jendela transfer musim dingin, West Ham memutuskan menjual Haller ke Ajax. Itu hanya 18 bulan setelah klub London Timur tersebut mengontraknya.

Kedatangan Haller ternyata sempat memunculkan kejadian yang memalukan saat dirinya tidak terdaftar di fase knoc-out Liga Europa 2020/2021. "Tidak pernah ada momen yang membosankan di Amsterdam. Tentu saja, itu bukan bahan tertawaan. Ini sangat menjengkelkan. Itu kesalahan administrasi. Dia tidak dilupakan," kata  Erik ten Hag saat itu.

Tanpa kecakapan Haller dalam mencetak gol di Liga Europa, Ajax berakhir dengan kekalahan tipis dari AS Roma di perempat final.

Namun, Haller membuat dampak besar di dalam negeri. Dia menyelesaikan musim dengan 13 gol dan tujuh assist dari 23 pertandingan. Dia membantu Ajax memenangkan Eredivisie dan KNVB Beker. Dan, itu berlanjut hingga musim ini ketika Haller rata-rata mencetak gol per pertandingan dengan 29 gol dalam 29 pertandingan di semua kompetisi.

Menjadi produktif di Eredivisie bersama Ajax yang dominan adalah satu hal yang bagus. Tapi, mentransfer permainan bagusnya ke Liga Champions membuat Haller layak mendapat acungan dua jempol.

Uniknya, Ten Hag selalu memiliki rasa percaya pada Haller. Kerja sama mereka dimulai pada 2015 ketika sang pelatih mengambil alih FC Utrecht. Dengan cepat, saat itu dia memantapkan dirinya sebagai pelatih paling menjanjikan di Belanda.

Utrecht adalah tim yang efisien, bertujuan untuk mendapatkan bola ke penyerang di tengah kotak dengan serangan yang lebih sentral daripada kebanyakan tim Belanda. Di musim pertamanya di bawah Ten Hag, Haller mencetak 17 gol dalam 33 pertandingan Eredivisie.

"Dulu saya marah ketika saya tidak mendapatkan bola selama 10 menit. Saya kehilangan fokus dan jika ada kesempatan, saya melewatkannya. Pelatih mengajari saya bagaimana menghadapinya dengan lebih baik, dia sudah melakukannya di Utrecht," kata Haller.

"Dia menunjukkan kepada saya cuplikan dari peluang yang hilang karena saya tidak fokus. Dia berkata, 'Tetap fokus karena itu membuat perbedaan'. Dia benarp-benar membimbing saya dengan baik," tambah Haller.

Haller telah berubah semakin tangguh sejak reuni dengan Ten Hag. Kemampuannya untuk tetap fokus di momen-momen penting, serta hubungannya dengan kapten tim, Dusan Tadic, telah memungkinkan dirinya untuk membuat perbedaan dalam pertandingan-pertandingan besar.

Selain empat golnya yang luar biasa melawan Sporting, dia juga menjadi arsitek kemenangan luar biasa dalam kemenangan 4-0 melawan Dortmund. Saat itu, dia membuat dua assist sebelum mencetak satu golnya sendiri. Kemudian, di pertandingan kedua, dia muncul dengan gol penting di menit 83 untuk mengembalikan keunggulan mereka sebelum Davy Klaassen mengubah skor menjadi 3-1 di waktu tambahan.

Intervensinya terhadap Besiktas juga tidak boleh diabaikan. Saat timnya tertinggal 0-1 di Turki, Haller masuk sebagai pemain pengganti di babak pertama dan menyamakan kedudukan setelah sembilan menit bermain sebelum melepaskan tembakan kemenangan.

"Saya sering berada di tempat yang tepat, saya pikir itu juga berkaitan dengan pengalaman. Jika saya mengatakan saya terkejut [tentang rekor gol saya], saya akan meragukan diri saya sendiri. Tapi saya tidak mengharapkan ini, itu akan menunjukkan banyak kepercayaan diri," kata Haller kepada Voetbal International setelah mengalahkan Besiktas pada November 2021.

(diaz alvioriki/anda)

Baca Berita yang lain di Google News




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Opini

(500 Karakter Tersisa)

Artikel Pilihan


Daun Media Network