Kisah Mauro Bressan, Dari Cetak Gol Indah Liga Champions Jadi Pelaku Match Fixing

"Mauro Bressan adalah pemain kontroversial pada masanya. Masih ingat?"

Biografi | 13 November 2022, 03:03
Kisah Mauro Bressan, Dari Cetak Gol Indah Liga Champions Jadi Pelaku Match Fixing

Libero.id - Mauro Bressan akan selalu dikenang sebagai pencetak gol ajaib. Ketika gelandang itu masuk dalam line-up Fiorentina untuk pertandingan penyisihan grup Liga Champions melawan Barcelona pada November 1999, hanya sedikit yang bisa memperkirakan dia akan mencetak salah satu gol paling ikonik dalam sejarah kompetisi.

Sebenarnya, Mauro Bressan adalah seorang pekerja harian. Dia dipromosikan dari ketidakjelasan klub Serie B, Como, setelah menarik perhatian pelatih legendaris Foggia, Zdenek Zeman.

Dalam waktu satu tahun, Mauro Bressan memiliki langkah terang tampil di Serie A. Pertama, dengan Cagliari. Kedua, bersama Bari. Saat itu, dia menjadi foil ideal untuk sederet talenta muda yang menarik di klub, termasuk Nicola Ventola, Gianluca Zambrotta, dan Antonio Cassano.

Mauro Bressan mengguncang Fiorentina dua tahun kemudian. Saat itu, dia berusia 28 tahun dan sedang berada di puncak kekuatannya. Dia bekerja dengan pelatih legendaris Italia yang terkenal, Giovanni Trapattoni. Dia bagian dari tim yang diperkuat Manuel Rui Costa dan Gabriel Batistuta.

Mauro Bressan menambahkan kedalaman skuad dan memberikan ketenangan serta organisasi yang sangat dibutuhkan untuk tim yang sudah lama berada di bawah tekanan. Saat itu, La Viola barus melewatkan kesempatan meraih Scudetto pertama dalam 30 tahun.

Terlepas dari kekecewaan itu, Fiorentina masih bisa finish di posisi ketiga. Itu membuat mereka lolos ke Liga Champions.

Musim yang dinanti tiba. Kemudian, Fiorentina mendapatkan kesempatan berhadapan dengan Barcelona. Mereka bertemu di Stadio Artemio Franchi, Firenze, setelah Barcelona menang 4-2 di Camp Nou. Tapi, La Viola sudah dipastikan lolos dari fase grup berkat kemenangan 1-0 atas Arsenal di Wembley melalui gol Gabriel Batistuta yang menggelegar, sepekan sebelumnya.

Menghadapi pertandingan di Firenze, Barcelona tampil dengan orang-orang seperti Luis Figo, Pep Guardiola, Patrick Kluivert, atau Rivaldo. Ada lagi bintang-bintang baru seperti Xavi Hernandez dan Carles Puyol.

Terlepas dari berbagai bakat di kedua tim, itu akan menjadi malam untuk Mauro Bressan menunjukkan sinarnya. Gelandang Italia itu tidak pernah menjadi pencetak gol reguler.Tapi, hasi itu, dia membuat 15 menit bermainnya menjadi lebih luar biasa.

Tidak diragukan lagi, ada unsur keberuntungan dalam cara bola datang ke Mauro Bressan di tepi kotak penalti Barcelona. Pep Guardiola melakukan clearance yang terburu-buru, beberapa kesalahan kontrol oleh Jorg Heinrich dari Fiorentina, dan upaya sundulan dari Rivaldo yang gagal menjadi gol.

Kemudian, Mauro Bressan membelakangi gawang saat bola memantul di depannya. Menggantung di udara cukup lama untuk memungkinkan dia menyesuaikan posisinya dan mengeksekusi tendangan salto yang menakjubkan dari jarak 25 meter menembus gawang Francesc Arnau.

Kiper asal Katalunya itu tidak berdaya mencegah bola yang terbang ke sudut kanan atas mistar. Francesc Arnau dengan putus asa meluncur ke belakang dalam upaya penyelamatan yang sia-sia hingga membentur tiang dan akhirnya tersangkut di jaringnya sendiri.

Itu adalah gol yang menakjubkan. Tidak hanya dalam teknik yang tidak lazim, melainkan juga fakta bahwa gol itu dicetak oleh pemain yang tidak dikenal. "Mungkin terlihat agak gila pada saat itu. Tapi, saya ingin mencobanya karena saya telah mencoba beberapa kali dalam sesi latihan, dan tidak berhasil," kata Mauro Bressan kepada FourFourTwo.

"Semuanya bermuara pada cara saya menendangnya. Dan, itu terjadi melalui koordinasi. Kemudian, terhubung dengan bersih bola. Ketika saya kembali berdiri, saya baru saja mulai berteriak," tambah Mauro Bressan.

Bagi Mauro Bressan, pertandingan itu memiliki kesan yang lebih berarti. Ini terbukti menjadi satu-satunya penampilan 90 menit yang dia jalani di Liga Champions. Apalagi, setelah itu, dia menjalani kehidupan nomaden. Dia menghabiskan satu musim di Venezia dan Genoa. Di sana, dia tampil mengagumkan sebelum kembali ke tempat asalnya, Como.

Mauro Bressan juga sempat menjalani satu petualangan terakhir di Swiss bersama FC Lugano dan FC Chiasso. Di sana, dia terus bermain secara reguler sebelum gantung sepatu di usia 38 tahun pada 2009.

Dan, seandainya cerita kariernya berakhir di Swiss, maka Mauro Bressan akan lebih dikenang sebagai pahlawan. Tapi, takdir memang berkata lain. Pada 2011, dia menjadi salah satu dari 16 orang yang ditangkap karena dicurigai mengatur pertandingan di liga-liga bawah Italia.

Diantara mereka yang juga terlibat adalah mantan kapten Lazio dan ikon sepakbola Italia pada 1990-an, Giuseppe Signori. Ada pula mantan kapten Atalanta Bergamo dan pemain nasional Italia, Cristiano Doni.

Penangkapan tersebut merupakan puncak dari penyelidikan enam bulan Polisi Italia. Mereka menemukan bukti penting dan meyakinkan, yang menunjukkan bahwa mereka yang ditangkap adalah bagian dari organisasi kriminal, yang diduga memanipulasi hasil pertandingan Serie B dan Serie C.

Setahun kemudian pada Agustus 2012, Komite Disiplin (Komdis) Asosiasi Sepakbola Italia (FIGC), melarang Mauro Bressan beraktivitas dari sepakbola selama 3,5 tahun. Tuduhan dan skandal pengaturan pertandingan menjadi noda abadi yang lebih dikenal orang dibanding gol indah melawan Barcelona di Liga Champions.

(diaz alvioriki/anda)

Baca Berita yang lain di Google News




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Opini

(500 Karakter Tersisa)

Artikel Pilihan


Daun Media Network