10 Pemain Hebat yang Tidak Pernah Memenangkan Trofi Bergengsi

"Dunia mengakui kehebatan mereka sebagai legenda, tetapi karier mereka tidak pernah berhiaskan trofi. Ajaib."

Feature | 14 October 2020, 01:42
10 Pemain Hebat yang Tidak Pernah Memenangkan Trofi Bergengsi

Libero.id - Di sepakbola, untuk menjadi pemain hebat, tidak cukup bakat dan talenta yang dimiliki. Seorang pemenang membutuhkan gelar juara kompetisi bergengsi seperti liga, piala domestik, hingga turnamen antarnegara.

Sepanjang sejarah sudah banyak pemain hebat yang memenangkan berbagai trofi yang disediakan, baik level klub maupun negara. Tidak sedikit pula pemain biasa-biasa saja yang beruntung mengangkat piala karena dikelilingi sejumlah pesepakbola hebat sehingga tidak perlu bekerja keras.

Namun, ada juga pemain-pemain hebat yang kurang beruntung. Pesepakbola dalam kategori ini adalah mereka-mereka yang menjadi tulang punggung klub maupun timnas, tapi tidak ditopang rekan-rekan yang mumpuni. Akibatnya, mereka seperti kesulitan mendapatkan gelar juara.

Pemain dengan kategori seperti itu sangat banyak di masa lalu. Ada yang bermain bagus untuk klub. Tapi, tidak sedikit yang bersinar dengan tim nasional. Masalahnya, keberuntungan sangat jauh dari mereka. Pemain-pemain itu hanya dikenal hebat secara individu. Bukan tim.

Berikut ini 10 pemain hebat masa lalu yang tidak pernah memenangkan trofi bergengsi di level klub maupun negara:

1. Antonio di Natale

Libero.id

Kredit: fifa.com

Antonio di Natale pemain yang luar biasa. Buktinya, tidak ada pemain seperti Di Natale untuk yang mampu mempengaruhi banyak orang di eranya. Tidak melakukan debut di kompetisi papan atas hingga usia 25 tahun, Di Natale hanya mencetak 47 gol di Serie A sebelum berusia 30 tahun.

Setelah itu, segalanya menjadi sedikit konyol. Dalam lima musim antara 2009-2014 (dan dalam usia 31-36), Di Natale mencetak 120 gol di Serie A. "Itu adalah pilihan hidup saya," ujar Di Natale tentang alasan setiap bersama Udinese selama bertahun-tahun, meski sebenarnya bisa pindah ke Juventus atau Inter Milan.

"Saya merasa sangat baik di sini di Udinese. Keluarga presiden selalu membuat saya merasa seperti saya adalah salah satu dari mereka. Beberapa hal lebih berharga daripada uang," tambah Di Natale, dilansir Planet Football.

2. Giuseppe Signori

Libero.id

Kredit: twtter.com/officialsslazio

Giuseppe Signori sebenarnya memiliki trofi. Tapi, Piala Intertoto bukanlah kompetisi yang pantas dibanggakan. Pasalnya, turnamen di musim panas sebelum kompetisi dimulai tersebut merupakan babak kualifikasi pramusim yang efektif untuk ambil bagian di Piala UEFA.

Artinya, Signori benar-benar menjadi pemain hebat yang kurang beruntung. Dia memang telah mencetak 283 gol di liga sepanjang kariernya. Dia juga mencetak 12 gol untuk negaranya dan bermain dalam enam dari tujuh pertandingan Italia di Piala Dunia 1994. Tapi, dia benar-benar tidak pernah memenangkan trofi.

Rekor individu Signori sangat mengesankan. Dia memenangkan penghargaan Capocannoniere untuk pencetak gol terbanyak di Serie A selama tiga dari empat musim di awal 1990-an. Dia juga pencetak gol terbanyak di Coppa Italia dua kali.

Sayang, menghabiskan sebagian besar karier di Lazio dan Bologna menghambat peluang Signori untuk meraih kejayaan domestik. Lazio memenangkan Coppa Italia, Piala Winners, Piala Super UEFA, dan  Serie A dalam tiga tahun setelah dia pergi. Padahal, jika mau Signori bisa bermain di AC Milan, Real Madrid, atau Manchester United.

3. Bernd Schneider

Libero.id

Kredit: fifa.com

Bernd Schneider adalah tipe pemain yang tidak beruntung. Meski memiliki 81 caps untuk Jerman, dia tidak pernah memenangkan trofi di tingkat domestik dan internasional bersama klub maupun timnas. Dia hanya sanggup menjadi runner-up Bundesliga (1999/2000, 2001/2002), DFB-Pokal (2001/2002, 2008/2009), Liga Champions (2001/2002), dan Piala Dunia (2002). Dia jauh lebih sial dari sahabatnya satu negara, Michael Ballack.

4. Matthew Le Tissier

Libero.id

Kredit: southamptonfc.com

Matthew Le Tissier bukan hanya pahlawan Southampton, melainkan seluruh negeri. Dia menjadi simbol kesetiaan di sepakbola Inggris. Punya kemampuan hebat dalam mencetak gol, Le Tissier setia membela Soton di Liga Premier maupun kasta kedua. Dia mengabaikan kesempatan membela klub-klub besar seperti Arsenal dan Manchester United.

"Saya memainkan permainan seperti yang saya inginkan. Jika saya pergi ke klub yang lebih besar, saya tidak akan bisa melakukan itu. Saya tahu saya mungkin tidak akan memenangkan penghargaan apa pun. Tapi. ketika anda berada di klub sebesar itu, bertahan di Liga Premier selama 16 tahun memberi saya kesenangan yang sama seperti memenangkan medali jika saya pergi ke tempat lain," ungkap Le Tissier.

5. Yildiray Basturk

Libero.id

Kredit: bayer04.de

Setelah meninggalkan VfL Bochum ke Bayer Leverkusen pada 2001, Yildiray Basturk adalah bagian dari salah satu "tim nyaris terbaik dalam sejarah". Pasukan Klaus Toppmoeller saat itu menyelesaikan 1 poin di belakang Borussia Dortmund sehingga gagal merebut gelar Bundesliga. Padahal, mereka sempat memimpin 5 poin di tiga pertandingan tersisa.

Leverkusen juga kalah di final DFB-Pokal, meski unggul 1-0 di babak pertama saat menghadapi Schalke 04. Empat hari kemudian, mereka kalah di final Liga Champions karena tendangan voli ajaib Zinedine Zidane di Hampden Park, Glasgow. Itu adalah era ketika Basturk bermain bersama Bernd Schneider dan Michael Ballack di Bay Arena.

Masih ada lagi? Tentu saja. Kesialan Basturk bertambah saat memperkuat timnas. Dia menjadi bagian Turki yang finish di posisi 3 di Piala Dunia 2002, setelah dikalahkan Brasil di semifinal.

6. Rob Lee

Libero.id

Kredit: nufc.co.uk

Banyak pendukung Newcastle United memiliki tempat khusus di hati mereka yang disediakan untuk Rob Lee. Dia adalah pemain yang luar biasa untuk ditonton di St James' Park. Dia terampil, tapi dengan semangat dan upaya untuk mengesankan setiap pendukung klubnya.

Dia dua kali finish sebagai runner-up di Liga Premier dan dua kali menjadi finalis di Piala FA. Semuanya dalam periode tiga tahun antara 1996-1999. Satu-satunya penghargaan yang dia menangkan adalah juara Divisi II bersama Newcastle pada 1993 dan Le Tournoi pada 1997. Tapi, tetap saja itu tidak dihitung karena bukan kompetisi bergengsi.

7. Stan Collymore

Libero.id

Kredit: twitter.com/lfc

Ada banyak pendukung Nottingham Forest dan Liverpool yang akan berbicara sampai larut malam tentang bakat alami Stan Collymore. Tapi, perpindahan ke budaya Liverpool dan Spice Boys (julukan untuk pria-pria yang berpacaran dengan personel Spice Girls) dari Nottingham benar-benar membuat karier Collymore terpuruk. Penyerang yang sangat berbakat itu akhirnya pensiun pada usia 30 tahun tanpa trofi.

8. Luigi di Biagio


Libero.id

Kredit: inter.it

Runner-up Serie A 2002/2003. Runner-up Coppa Italia 1999/2000. Runner-up Suppercoppa Italia 2000. Runner-up Euro 2000. Tampil di semifinal Liga Champions dan Piala UEFA. Itulah kesimpulan karier panjang Luigi di Biagio di sepakbola profesional.

Di Biagio bermain 31 kali untuk Italia. Dia ermain lebih dari 300 pertandingan untuk Inter Milan dan AS Roma pada saat kedua klub dibanjiri pemain-pemain hebat. Tapi, entah bagaimana dia tidak pernah memenangkan trofi.

9. Steve Bull

Libero.id

Kredit: wolves.co.uk

Steve Bull punya 13 caps untuk Inggris, termasuk empat penampilan di Piala Dunia 1990. Di klub, dia mencetak 306 gol dalam 561 pertandingan untuk Wolverhampton Wanderers. Tapi, dia hanya memenangkan gelar di Divisi IV dan Divisi III. Padahal, jika beruntung, Bull bisa saja membela Liverpool, Leeds United, atau Arsenal, yang pada masa itu sedang mengumpulkan banyak piala.

10. Cristiano Doni

Cristiano Doni pernah menjadi salah satu pemain paling berbakat di sepakbola Italia. Doni adalah seorang legenda Atalanta Bergamo. Bergabung pada 1998 dari Brescia, playmaker Italia bertahan selama lima tahun sebelum berangkat ke Sampdoria dan Real Mallorca pada usia 30 tahun.

Pada 2006, di usia 33 tahun, dia kembali ke Atalanta, dan masih mengelola 150 pertandingan liga dengan 48 gol sebelum dilarang bermain selama 3,5 tahun karena skandal pengaturan hasil pertandingan. Pemain yang bermain tujuh kali untuk Italia itu akhirnya pensiun tanpa satu pun trofi dikoleksi.

Baca Berita yang lain di Google News




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Opini

(500 Karakter Tersisa)

Artikel Pilihan


Daun Media Network