Selamat Ulang Tahun!

Ada yang Jadi Pemain Sinetron, Kabar Terkini 7 Pemain Indonesia Lulusan CS Visé

"Klub kasta kedua Belgia itu tempat pendidikan pemain muda Indonesia pada 2011-2013. Sayang, hanya berlangsung singkat karena terlanjur bangkrut."

Feature | 05 January 2021, 12:12
Ada yang Jadi Pemain Sinetron, Kabar Terkini 7 Pemain Indonesia Lulusan CS Visé

Libero.id - Nama CS Visé sempat menghiasi pemberitaan di banyak media olahraga Indonesia. Klub kasta kedua Belgia itu adalah tempat pendidikan pemain muda Indonesia pada 2011-2013. Sayang, hanya berlangsung singkat karena terlanjur bangkrut.

Cercle Sportif Visé  adalah klub sepakbola profesional Belgia dari Visé di Provinsi Liège. Klub ini memainkan pertandingan kandangnya di Stade de la Cité de l'Oie. Mereka dijuluki Les Oies (Si Angsa). Julukan tersebut diambil dari nama panggilan kota tempat klub berseragam biru tersebut bermarkas.

Klub ini didirikan pada 1924 dengan nama Cercle Sportif Visétois dan menerima nomor identitas 369 dari Asosiasi Sepakbola Belgia (KBVB). Partisipasi pertama mereka di sepakbola nasional Belgia adalah 1948/1949 dan mereka tetap di level ini selama dua musim berturut-turut.

Pada 1996, mereka akhirnya mencapai Divisi III setelah 2 tahun sebelumnya mencapai babak 32 besar Piala Belgia setelah dikalahkan Standard Liège. Lalu, pada 1998, Visé promosi ke Divisi II melalui play-off. Mereka bermain 4 musim berturut-turut di level ini, kemudian terdegradasi, untuk kembali tahun berikutnya. Sempat bermain 4 musim di Divisi II, Visé kembali terdegradasi sebelum akhirnya promosi lagi pada 2009/2010.

Selanjutnya, pada 2011 klub diakuisisi oleh Grup Bakrie yang dipimpin oleh Aga Bakrie. Beberapa pemain Indonesia dibawa ke klub sebagai hasil dari pengambilalihan tersebut.

Sayangnya kekuatan uang Grup Bakrie tidak sanggup menopang operasional klub. Pada 13 Mei 2014, Visé diambil alih "Investor Inggris dan Belgia", yang segera menunjuk Steve Davies sebagai direktur sepakbola dan Terry Fenwick sebagai pelatih yang baru klub. Tapi, itu tidak banyak membantu karena pada 28 Oktober 2014, klub dinyatakan bangkrut.

Berikut ini kabar 7 pemain Indonesia yang pernah mendapatkan kesempatan bermain singkat di Visé:


1. Manahati Lestusen

Libero.id

Manahati dan istri. Kredit: instagram.com/manahati17

Selain menjadi anggota TNI-AD berpangkat Sersan II (Serda) di Korps Polisi Militer, Manahati juga masih aktif bermain sepakbola di level profesional.  Pemuda kelahiran 17 Desember 1993 tersebut masih tercatat sebagai bek sekaligus kapten Persikabo 1973.

Manahati bergabung dengan Visé melalui jalur Deportivo Indonesia. Itu adalah proyek pengiriman pemain muda Indonesia ke Uruguay oleh PSSI yang didanai Grup Bakrie. Sempat dipinjam Penarol U-19, Manahati langsung terbang ke Belgia setelah tidak lagi menimba ilmu di Uruguay.

Selama membela Visé pada 2012/2013, Manahati hanya bermain 2 kali di Divisi II Belgia. Dari Visé, dia kembali ke Indonesia untuk dikontrak Bhayangkara FC (saat itu Persebaya), Barito Putera, dan PS TNI yang kini menjadi Persikabo 1973.


2. Abdul Rahman Lestaluhu

Karier dan jalan hidup Rahman di sepakbola sama seperti Manahati. Dari Deportivo Indonesia ke Penarol U-19 dan Visé, Rahman pulang ke Indonesia untuk membela Bhayangkara FC (saat itu Persebaya). Winger kelahiran 23 Agustus 1993 itu lalu ke Persija Jakarta , 757 Kepri Jaya, Semen Padang, dan Badak Lampung. Musim ini, dia bermain lagi untuk Kabau Sirah.


3. Yandi Sofyan Munawar

Libero.id

Kredit: instagram.com/yandi15sofyan

Menyandang status adik mantan penyerang Persib Bandung dan tim nasional Indonesia, Zainal Arief, bukan pekerjaan mudah untuk Yandi. Pasalnya, dia selalu dibanding-bandingkan dengan sang kakak. Apalagi, Yandi dan Arief memiliki posisi yang sama sebagai penyerang tengah.

Yandi memulai karier dari klub di kampung halamannya, Persigar Garut. Lalu, saat seleksi Deportivo Indonesia dilaksanakan, dia terpilih terbang ke Uruguay. Selanjutnya, pemuda kelahiran 25 Mei 1992 tersebut bergabung dengan Visé.

Di Visé, Yandi tidak hanya sekedar lewat. Pada Divisi II 2011/2012, dia bermain 15 kali dan pada 2012/2013 merumput 6 kali. Tapi, dengan 21 kesempatan yang didapatkan, Yandi tidak pernah bisa menjebol jala lawan. Akibatnya, dia dikontrak Arema Cronus pada 2013 dan 2014.

Berhubung persaingan di lini depan Arema sangat ketat, Yandi dipinjamkan ke Brisbane Roar Junior.  Tidak lama di Australia, Yandi kembali ke Indonesia. Sempat bermain 2 musim untuk Persib, dia pindah ke Bali United. Setelah kontrak kerja berakhir pada 2018, Serdadu Tridatu tidak melanjutkan kerjasama dengan Yandi.

Untuk 2019 dan 2020, Yandi tidak memiliki klub. Dia sempat mengikuti seleksi di PSM Makassar pada 2019 dan Barito Putra pada 2020. Tapi, gagal lolos di kedua klub Liga 1 tersebut.


4. Yericho Christiantoko

Yericho bermain untuk Visé pada 2011/2012 setelah dinyatakan lulus dari Deportivo Indonesia. Tapi, tidak ada yang bisa diperbuat full back kiri kelahiran Malang, 14 Januari 1992, itu setelah menghangatkan bangku cadangan.

Lalu, Yericho pulang ke Indonesia untuk membela Arema Cronus, Persekam Metro, Borneo FC, 757 Kepri Jaya, Kalteng Putra, PSS Sleman, Sriwijaya FC, dan sekarang di Persijap Jepara. Setelah membela Indonesia U-16, U-19, dan U-23, Yericho sama sekali belum pernah membela timnas senior di pertandingan resmi maupun uji coba internasional.


5. Zainal Haq

Zainal menjadi satu dari empat pemain Indonesia yang berkesempatan membela Penarol Junior setelah menimba ilmu di Deportivo Indonesia. Dari Uruguay, pemuda kelahiran Sidoarjo, 5 April 1992, tersebut dikontrak Bhayangkara FC (saat masih berlabel Persebaya), Persela Lamongan, Kalteng Putra, Aceh United, Badak Lampung, dan Mitra Kukar.

Sama seperti banyak lulusan Deportivo Indonesia dan Visé, karier Zainal juga kurang menjanjikan di level senior. Tidak ada satu pun pertandingan yang menampilkan Zainal dengan skuad senior Garuda.


6. Syamsir Alam

Libero.id

Kredit: instagram.com/syamsir11alam

Dulu, orang diselimuti euforia ketika melihat Syamsir bermain di lini depan tim nasional Indonesia U-19. Postur bagus, wajah tampan, dan kecepatan yang dimiliki membuat media ramai-ramai memberi julukan bombastis. Salah satunya predikat "Bocah Ajaib".

Julukan itu didapatkan karena saat remaja Syamsir mendapatkan kesempatan yang jarang didapatkan bocah-bocah seusianya. Selain dengan Deportivo Indonesia, Syamsir pernah menimba ilmu di tim junior Penarol, Heerenveen, hingga Vitesse Arnhem. Dia juga dikontrak Visé dan sempat dipinjamkan ke DC United ketika Erick Thohir menjadi pemilik.

Sayang, berbagai julukan bombastis dan pujian berlebih dari media serta suporter tidak bisa diterima Syamsir. Memasuki level senior, pemuda kelahiran Agam, 6 Juli 1992, itu loyo. Tidak ada panggilan timnas senior yang didapat. Permainan Syamsir untuk Sriwijaya FC, Pelita Bandung Raya (PBR), hingga Persiba Balikpapan sangat mengecewakan.

Ditambah cedera yang sering didapatkan, Syamsir benar-benar tenggelam dengan nama besarnya sendiri. Dia hilang dari lapangan hijau dan tiba-tiba muncul di layar televisi. Ternyata, Syamsir beralih profesi menjadi model dan pemain sinetron.

7. Alfin Tuasalamony

Libero.id

Kredit: instagram.com/alfin_tuasalamony

Jika tidak karena mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuat tulang kakinya patah, karier Alfin akan cemerlang di level senior. Sebab, akibat insiden yang terjadi di sebuah tempat parkir di sebuah bank di Jakarta tersebut, Alfin harus menjalani operasi berkali-kali dan sempat berencana mengibarkan bendera putih.

Meski akhirnya pulih dan melanjutkan karier, permainan Alfin benar-benar-benar berbeda. Dia hanya menjadi pemain "biasa-biasa saja" di sejumlah klub Liga 1. Full back kelahiran 13 November 1992 itu juga hanya memiliki kesempatan membela timnas senior 2 kali.

Padahal, sebelum kecelakaan, Alfin menunjukkan kualitas sebagai pemain berbakat. Selepas dari Deportivo Indonesia, dia terbang ke Belgia. Di Visé, Alfin adalah pemain inti. Dia menjadi pemain Indonesia yang paling sering membela Les Oies. Pada 2011/2012 dan 2012/2013, Alfin merumput 49 kali.

Dari Visé, Alfin bermain untuk Bhayangkara FC (saat itu Persebaya), Persija Jakarta, Sriwijaya FC, dan Arema FC. Musim ini Alfin sebenarnya dipinjamkan ke Madura United. Tapi, kompetisi terlanjur terhenti karena Covid-19.




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Opini

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=3HhTsB9sW4g

Artikel Pilihan


Daun Media Network