Selamat Ulang Tahun!

5 Pemain Ini Ternyata Pernah Bermain Untuk Manchester City, Ada Tukang Blunder Lho!

"Tak hanya membeli pemain bertabur bintang, Manchester City juga pernah diperkuat jebolan akademi yang kini menjadi bintang."

Feature | 03 February 2021, 03:39
5 Pemain Ini Ternyata Pernah Bermain Untuk Manchester City, Ada Tukang Blunder Lho!

Libero.id - Sejak diakusisi oleh Syeikh Mansour pada 2008, The Citizens berubah menjadi salah satu raksasa Liga Premier dengan talenta terbaik. Bahkan, di beberapa tahun terakhir, bisa dikatakan mereka memiliki skuad terbaik di dunia.

Memang tampak instan, namun tim yang diasuh Pep Guadiola itu ternyata pernah diperkuat pemain populer saat membela tim rival Manchester United tersebut.

Ya, setidaknya ada lima pemain yang mungkin Anda tidak sangka pernah berseragam Man City. Nama-nama seperti Denis Suarez dan Jerome Boateng adalah nama yang jelas tidak asing, namun bagaimana dengan 5 pemain ini:

5.Pablo Mari

Libero.id

Kredit: instagram.com/pablomv5

Pablo Mari yang kini bermain bersama Arsenal nyatanya pernah menjadi bagian Manchester City selama tiga tahun, mulai dari 2016 hinnga 2019.

Manajemen The Citizens memboyong Pablo usai tampil impresif bersama klub divisi dua Spanyol saat itu, Gimnastic. Sampai di Kota Manchester, dia langsung dipinjamkan ke beberapa klub. Namun, selama masa peminjaman mulai dari Girona, NAC Breda, hingga Deportivo La Coruna, Pablo gagal menunjukkan performa impresif. Dia sempat dicap sebagai penandatanganan gagal oleh banyak fans.

Kendati begitu, sang bek membangun kembali kariernya di klub Brasil, Flamengo, di mana dia menjadi orang Spanyol pertama yang memenangkan Copa Libertadores, kompetisi klub yang paling didambakan di Amerika Selatan. Mikel Arteta yang menghabiskan tiga tahun di Man City sebagai asisten manajer, menjemput rekan senegaranya itu di jendela transfer Januari 2020.

Bek tengah berbakat itu sangat baik saat menguasai bola, kuat di udara dan tidak takut melakukan tekel, meski dia sangat kurang dalam masalah  kecepatan. Mungkin inilah alasan kenapa Guardiola tak memakainya karena mantan pelatih Barcelona itu sangat menuntut bek tengahnya bisa berlari cepat.

4.Loris Karius

Libero.id

Kredit: instagram.com/loriskarius

Kiper Liverpool sebelum Alisson Becker, Loris Karius, sebenarnya adalah produk tim junior Manchester City. Klub asal kota pelabuhan itu mengawasinya dalam pertandingan Jerman U-16 melawan Azerbaijan U-16. Setelah itu, manajemen klub langsung membuat kontrak dengan agen Karius. Karius bermain untuk Man City U-18 dan U-21, tapi tidak pernah menembus tim utama.

Karius kemudian dipinjamkan ke Mainz 05, di mana dia bermain untuk tim cadangan mereka. Setelah tampil mengesankan di tim kedua, klub berjuluk Carnival Club itu mempermanenkannya untuk bermain secara reguler bersama tim senior. Pada musim 2015/2016, sang kiper mempertahankan sembilan clean-sheet dan menyelamatkan dua penalti dalam musim yang luar biasa. Hasilnya, dia terpilih sebagai kiper terbaik kedua di Bundesliga setelah Manuel Neuer.

Namun, kiper Jerman itu merusak kariernya sendiri saat dibeli oleh Liverpool. Karius sangat dikenang karena banyak menunjukan penampilan yang buruk di Liga Premier, terutama di final saat menghadapi Real Madrid di Liga Champions 2018. Dia dianggap bersalah atas dua dari tiga gol yang dicetak para pemain Los Blancos pada waktu itu, salah satunya yang fatal adalah lemparan rendah yang mengenai kaki Karim Benzema. Kini, Karius menghabiskan masa peminjamannya bersama Union Berlin.

3.Kieran Trippier

Libero.id

Kredit: instagram.com/ktrippier2

Nama Trippier mulai naik saat golnya melalui tendangan bebas di semifinal Piala Dunia 2018 melawan Kroasia. Ternyata, pemain bernama lengkap Kieran John Trippier itu adalah jebolan akademi muda Manchester City. Berasal dari keluarga penggemar Manchester United, Tripper yang lahir di Bury malah memilih bergabung dengan akademi Man City pada usia sembilan tahun. Trippier menandatangani kontrak profesional pertamanya di usia 15 tahun pada 2007.

Pada musim berikutnya, dia menjadi pemain reguler di tim muda Man City dan memainkan peran kunci dalam kemenangan FA Youth Cup. Untuk menghargai penampilannya, Trippier diikutsertakan dalam beberapa tur pramusim klub. Dia adalah pemain muda yang paling menonjol dalam pertandingan persahabatan melawan Barcelona.

Untuk pengembangan lebih lanjut, Man City meminjamkan full-back itu ke Barnsley dan kemudian ke Burnley. Di Turf Moor itulah Trippier benar-benar tampil impresif, bahkan memenangkan penghargaan Player of the Year hanya di musim pertamanya. The Clarets kemudian mempermanenkannya dan setelah tiga musim yang mengesankan, Tottenham Hotspur membawanya ke London dengan mahar 3,5 juta pounds.

Di Tottenham, awalnya Trippier adalah pilihan kedua setelah Kyle Walker. Namun, karena Walker hengkang ke Man City, dia langsung dipercaya mengisi kekosongan posisi tersebut. Setelah empat musim bersama Spurs, Trippier kemudian bergabung dengan raksasa Spanyol, Atletico Madrid pada musim panas 2019. Trippier dikenal sebagai bek yang kuat dalam bertahan, atletis, dan juga memiliki ancaman serangan yang signifikan. Namun, bola mati Trippier adalah yang paling mematikan.

2.Kasper Schmeichel

Libero.id

Kredit: instagram.com/kasperschmeichel

Kasper Schmeichel sukses mengikuti jejak ayahnya, Peter Schmeichel, sebagai salah satu kiper terbaik yang pernah ada di Liga Premier.

Pemain berusia 33 tahun itu telah genap satu dekade berada di Leicester City. Dia tercatat sebagai salah satu pemain terhebat The Foxes yang pernah ada usai membantu tim meraih gelar Liga Premier musim 2015/2016.

Namun, tidak seperti ayahnya yang terkenal bersama Setan Merah,  pemain Denmark itu justru mengawali karier profesionalnya bersama Manchester City. Dalam empat tahun di City of Manchester Stadium sebelum berganti ke Etihad Stadium, penjaga gawang kelahiran Copenhagen itu hanya melakoni delapan penampilan liga untuk tim senior. Hal itu dikarenakan dia dipinjamkan selama lima kali berturut-turut oleh manajemen, mulai Darlington, Bury, Falkirk, Cardiff dan Coventry sebelum dipermanenkan bersama Notts County dan Leeds United.

Tekad dan ambisi Schmeichel adalah alasan dia segera pindah dari Man City. Menjadi pengganti Joe Hart akan menjadi prospek besar bagi kiper Denmark, tetapi dia menginginkan posisi sebagai pemain reguler di tim utama. Bersama The Foxes, namanya akan selalu dikenang berkat kontribusi dan aksinya di lapangan.

1.Adrien Rabiot

Libero.id

Kredit: instagram.com/adrienrabiot_25

Sebelum Adrien Rabiot dikenal publik setelah membela Paris Saint-Germain dan Juventus, pemain Prancis ini adalah pemain yang pernah menimba ilmu di Man City.

Bergabung dengan akademi Man City pada 2008, Rabiot yang kala itu baru berusia 12 tahun menghabiskan beberapa bulan bersama-sama Sergio Aguero dkk setelah meraih gelar Liga Premier.

Dua tahun setelah bertugas di Man City, Rabiot kembali ke negara asalnya untuk bergabung dengan tim junior Paris Saint-Germain. Dia membuat penampilan impresif. PSG yang waktu itu dinakhodai Carlo Ancelotti tanpa ragu langsung mempromosikannya ke tim senior menjelang musim 2012/2013.

Pada usia 17 tahun, Rabiot melakukan debut bersama Paris Saint-Germain dan mengangkat 18 trofi bergengsi selama delapan musim di Parc des Princes, termasuk lima gelar Ligue 1 dan dua treble domestik pada musim 2015/2016 dan musim 2017/2018. Pemain berusia 24 tahun itu menjalani debutnya bersama timnas Prancis pada 2016.

Rabiot kemudian bergabung dengan raksasa Italia, Juventus, pada 2019 dengan status bebas trasnfer. Rabiot adalah seorang gelandang tengah pekerja keras, penguasaan bola yang baik dan cepat, kuat dalam menguasai bola, dan memiliki kualitas mengawal lini pertahanan. Dia adalah salah satu dari sedikit gelandang serba bisa di era modern sekarang.




Hasil Pertandingan Manchester City


  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=3HhTsB9sW4g

Artikel Pilihan