Kisah Sedih Per Weihrauch yang Pensiun Dini dan Meninggal di Usia 32 tahun

"Weihrauch seharusnya menjadi salah satu pemain terbaik di dunia saat ini"

Biografi | 27 August 2021, 07:35
Kisah Sedih Per Weihrauch yang Pensiun Dini dan Meninggal di Usia 32 tahun

Libero.id - Lahir pada 3 Juli 1988, pria Denmark itu adalah pemain yang mampu menggunakan kedua kakinya dengan sangat baik dan Weihrauch sendiri pernah membela tim muda Ajax dan Chelsea.

Namun, kariernya terpaksa berhenti karena masalah cedera.

Pada usia 19, Weihrauch diberitahu oleh seorang spesialis bahwa ia harus melupakan karir di sepak bola dan sejak saat itu Weihrauch berurusan dengan asuransi.

Berusaha sekuat tenaga, pemain sayap itu tidak menyerah pada mimpinya dan kembali ke Denmark, di mana ia bermain paruh waktu. Tapi itu tidak pernah cukup untuk membawanya bermain seperti sedia kala.

Tahun 2020 lalu, dalam usia 32 tahun, Weihrauch ditemukan meninggal di rumahnya dan ini lah perjalanan kisah hidup seorang Per Weihrauch.

Talenta berbakat dari Denmark

Sebagai seorang remaja, Weihrauch adalah salah satu pemain muda terkemuka dari generasinya. Ia dilatih oleh bos Brentford saat ini, Thomas Frank dan asisten manajernya, Brian Riemer di klub lokal Hvidovre IF.

"Per memiliki paket lengkap. Dia suka masuk dari posisi sayap dalam formasi 4-3-3, tapi dia juga bisa bermain sebagai striker" ujar Riemer kepada The Athletic.

"Fisik yang bagus, cerdas, kemampuan menembak yang hebat, sentuhan pertama yang bagus, bagus di dalam kotak, kemampuan menyundul yang bagus."

"Dia adalah salah satu pemain yang bisa menciptakan sesuatu untuk rekan setimnya atau melakukannya sendiri. Dia adalah bakat yang fantastis."

Tidak lama kemudian klub-klub top Eropa menaruh minat padanya, mulai dari Atletico Madrid, Ajax, Chelsea hingga Manchester United sangat ingin mendapatkan jasa Weihrauch.

Pengalaman baru

Untuk melanjutkan pendidikan sepak bolanya, pemuda Denmark itu akhirnya memilih De Toekomst milik Ajax, alasannya sederhana, karena beberapa pemain asal Negri Skandinavia seperti Jan Molby, Soren Lerby hingga Christian Eriksen merupakan alumni sekolah sepak bola paling terkenal di dunia tersebut.

Tapi itu akhirnya menjadi mimpi buruk bagi si wonderkid, yap ia mengalami cedera yang menjadi awal kehancuran kariernya.

Weihrauch mendapat cedera hamstring yang sebenarnya tidak terlalu parah dalam tur, tetapi di bawah tekanan untuk menunjukkan kemampuannya dalam bermain, hal itu membuatnya terasa lebih buruk.

"Yang paling saya rindukan adalah teman dan keluarga," ujar Weihrauch kepada surat kabar Denmark, Lokalavisen.

"Setelah berlatih di sini, Anda tidak bisa pulang begitu saja untuk melihat salah satu pemain. Tentu saja terkadang sulit, terutama saat Anda cedera. Maka membosankan untuk duduk di sini sendirian."

"Anda di sini untuk bermain sepak bola - dan itulah satu-satunya hal yang tidak dapat Anda lakukan saat Anda cedera. Kemudian hari-hari bisa menjadi lama di dalam gym."

"Tetapi setiap hari saya bangun dan saya menantikan untuk pergi berlatih, jadi itu adalah keputusan yang tepat (bergabung dengan Ajax)."

Cedera mengambil semua waktu berharganya di Belanda, plus dengan kontraknya yang akan habis, Weihruch akhirnya memutuskan untuk hengkang.

Datang ke Chelsea

Pada tahun 2006, saat Dane Frank Arnesen menjadi direktur olahraga Chelsea,  ia yang telah mengenal Weihrauch dari waktunya di Ajax, akhirnya membawa pria denmark itu ke Cobham.

Dan di sanalah ia membuat Brendan Rodgers terkesan - pelatih tim muda Chelsea saat itu.

"Saya ingat Per dengan sangat jelas," ungkap Rodgers.

“Dia adalah pemain muda yang sangat, sangat berbakat dari cetakan Ajax. Dia adalah pemain sayap, tetapi dia kuat secara fisik. Dia bisa bermain di beberapa posisi, dia bisa bermain melebar di kedua sisi atau dia bisa bermain sebagai striker atau No 10. Dia sangat berbakat dalam menguasai bola, cepat."

“Dia masuk pada usia 17 dan dia sudah berada di atas tim yunior. Dia langsung masuk ke tim cadangan kami dan Anda benar-benar bisa melihat kemampuan alaminya yang tidak diragukan dan, tentu saja, tingkat kerjanya."

"Dia ingin bekerja, ingin berlari. Kemampuan luar biasa dalam menguasai bola untuk mengalahkan seorang pria. Dia bukan pemain sayap kecil, dia memiliki ukuran tubuh yang bagus - bentuk pemain lini tengah - dan bakat yang begitu besar."

Cedera selalu menghampiri

Meskipun baru memulai kariernya di London, Weihrauch tidak bisa lepas dari masalah cederanya.

Di pihak Chelsea, itu adalah pertaruhan dan tampaknya itu bukanlah pertaruhan yang sukses.

“Kami tahu tentang masalah cedera yang dia alami, tetapi kami ingin memberinya kesempatan" ujar Frank Arnesen.

"Jika dia bisa kembali ke level aslinya, dia akan menjadi pemain hebat. Dia memainkan beberapa pertandingan, melakukannya dengan baik, tapi sayangnya, dia cedera lagi."

Pemindaian menunjukkan jaringan parut di sekitar hamstringnya dan satu-satunya hal untuk itu adalah istirahat, kemudian setelah sembuh, ia harus bisa membangun kekuatan di kakinya dan jika tidak, kariernya akan berakhir.

“Terkadang sangat disayangkan bahwa tubuh tidak dapat mengatasi intensitas latihan dan pekerjaan,” ujar pelatih Leicester itu  kepada The Athletic.

“Dan itu jelas terjadi pada Per. Itu tidak ada hubungannya dengan bakat – dia adalah pemain yang sangat berbakat. Dia bisa saja terus bermain dan menjadi pemain yang benar-benar top, karena dia memiliki permainan untuk itu, tetapi dia tidak bisa membangun ritme dan konsistensi."

Sudah selesai

Weihrauch pergi ke Finlandia untuk menjalani operasi yang diharapkan akan memperbaiki masalah cederanya. Namun, itu tidak berhasil dan setelah pergi ke beberapa spesialis, jawabannya tetap sama.

Hamstringnya tidak akan mampu bertahan dari kesulitan permainan sepakbola yang kian modern, dimana kecepatan dan daya tahn fisik menjadi faktor utama.

Dan disaat masih berusia 19 tahun (pada saat itu), ia kemudian disarankan untuk pensiun dan menerima pembayaran asuransi minimal untuk kehilangan pendapatan di masa depan.

Kembali ke Denmark

Putus asa karena masalah cedera yang dialaminya,  Weihrauch kemudian kembali ke klub pertamanya Hvidovre pada tahun 2009.

Meskipun banyak gembar-gembor tentang kedatangannya, ia tidak dapat membantu impian klub untuk kembali ke papan atas Denmark.

Kedua belah pihak memutuskan itu tidak mungkin, tetapi tawaran dari tim amatir, FC Copenhagen memberinya harapan.

Weihrauch yang memainkan sekitar 70 persen dari kemampuannya, ketika ia mendapat kesempatan, dan ia mengatakan kepada Ekstra Bladet pada tahun 2009, "Ini jelas merupakan tujuan saya untuk meningkatkan karir saya. Saya berharap untuk kontrak profesional baru."

Tapi kontrak baru tidak pernah datang. Sekali lagi, dipaksa keluar dari pelatihan selama satu tahun dan sejak saat itu ia menyadari bahwa menyerah pada karier bermainnya adalah yang terbaik.

Ia menemukan kehidupan baru sebagai seorang agen sepakbola, bekerja dengan agen lamanya Soren Lerby yang mengelola klien termasuk Pierre-Emile Højbjerg.

Kemudian, setelah kembali kuliah dan menyelesaikan studinya, ia berhasil mendapatkan pekerjaan di Nordea di sektor keuangan sebuah bank di Denmark.

Namun, rupanya panggilan kematian adalah panggilan terakhir Weihrauch.

"Sayangnya, saya kehilangan kontak dengannya selama beberapa tahun terakhir," ujar Riemer.

"Kesan saya adalah bahwa dia tampak menarik diri. Tidak banyak yang mengenalnya dari masa-masa sepak bolanya melakukan kontak dengannya dalam satu tahun terakhir ini."

Riemer melanjutkan: "Sulit untuk dibicarakan, bahkan sekarang. Saya mencoba untuk mundur dari situasi dan saya berpikir, 'Per, mengapa Anda tidak menelepon saya? Saya akan melakukan apa saja untuk membantu Anda'."

"Tapi sudah terlambat. Saya tidak berpikir dia merasa dia memiliki kekuatan yang tersisa."

(muflih miftahul kamal/muf)

Baca Berita yang lain di Google News




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Opini

(500 Karakter Tersisa)

Artikel Pilihan


Daun Media Network