Selamat Ulang Tahun!

9 Pemain Hebat yang Tidak Pernah Dipanggil Tim Nasional

"Eks pahlawan Arsenal, MU, dan Chelsea ada dalam daftar ini. Ada juga legenda Lazio."

Biografi | 07 September 2021, 14:09
9 Pemain Hebat yang Tidak Pernah Dipanggil Tim Nasional

Libero.id - September 2021 dibuka dengan sejumlah pertandingan internasional antarnegara, khususnya Kualifikasi Piala Dunia 2022. Meski dalam suasana pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya usai, banyak pertandingan yang sukses diselenggarakan.

Bagi semua pesepakbola profesional di seluruh dunia, mewakili negara dalam laga-laga berbendera FIFA adalah mimpi yang jadi kenyataan. Bermain untuk timnas adalah puncak karier semua pemain. Mereka akan mengerahkan segenap tenaga di pertandingan klub agar bisa terpilih membela negara.

Uniknya, tidak semua pemain beruntung membela negara tercintanya. Beberapa pesepakbola papan atas dunia ternyata pernah melewatkan kesempatan emas itu. Entah karena cedera, persaingan yang ketat, atau faktor non teknis yang membuat pelatih timnas berpaling.

Berikut ini sembilan pesepakbola hebat yang tidak pernah mendapatkan panggilan membela tim nasional:


1. Mikel Arteta (Spanyol)

Arteta lahir di era yang sama dengan pemain-pemain tengah hebat seperti Xavi Hernandez, Xabi Alonso, atau Andres Iniesta. Meski merupakan lulusan La Masia, nasib kurang baik didapatkan pria yang kini menukangi Arsenal tersebut.


2. Paolo di Canio (Italia)

Ada dua hal yang membuat Di Canio tidak pernah masuk skuad Italia. Pertama, karena banyaknya talenta penyerang yang tersedia saat itu seperti Luca Toni, Cristian Vieri, Filippo Inzaghi, Alberto Gilardino, Alessandro del Piero, atau Francesco Totti. Kedua, sikapnya yang kontroversial, terutama pandangan politik fasis yang tidak disukai sepakbola.


3. Steve Bruce (Inggris)

Bruce telah memainkan lebih dari 400 penampilan untuk Manchester United. Mempersembahkan tiga gelar liga, tiga Piala FA, satu Piala Super Eropa, satu penampilan untuk Inggris B. Tapi, doa nol caps untuk timnas senior Inggris. Tidak ada yang tahu alasannya.


4. John McGovern (Skotlandia)

Sepakbola Skotlandia tentu jauh lebih kuat pada 1970-an dan 1980-an. Tapi, tampaknya tidak pernah terbayangkan bahwa seorang pemain yang menjadi kapten di Nottingham Forest untuk kemenangan Liga Champions berturut-turut gagal tampil untuk negaranya.

Anehnya, McGovern justru dimasukkan ke dalam Hall of Fame Sepakbola Skotlandia pada 2018.


5. Carlo Cudicini (Italia)

Cudicini adalah salah satu dari beberapa kiper hebat Italia yang cukup disayangkan harus bersaing dengan Gianluigi Buffon, Angelo Peruzzi, Francesco Toldo, dan banyak kiper hebat lainnya.

Cudicini dianggap sebagai salah satu penjaga gawang terbaik di Liga Premier selama kariernya di Chelsea di awal 2000-an. Tapi, dia hanya mendapat satu panggilan untuk Italia U-21.


6. Stefan Klos (Jerman)

Seperti Italia, Jerman juga terkenal dengan kekayaan bakat kiper. Kemalangan Klos adalah contoh utama. Menghabiskan delapan tahun di Borussia Dortmund dan Glasgow Rangers, Klos memenangkan 13 trofi utama, termasuk Liga Champions 1996/1997. Tapi, dia harus puas dengan dua caps Jerman U-23 karena kehadiran Oliver Kahn dan Andreas Koepke.


7. Steed Malbranque (Prancis)

Malbranque menjadi favorit kuat di Liga Premier selama bermain dengan Fulham, Tottenham Hotspur, dan Sunderland. Bahkan, mantan PM Inggris, Tony Blair, mencintainya. Gelandang itu mendapat dua panggilan ke skuad Prancis yang berjarak delapan tahun. Tapi, dia gagal masuk ke lapangan.


8. Mario de Castro (Brasil)

De Castro adalah pesepakbola hebat yang belum pernah anda dengar. De Castro bermain sepakbola profesional hanya selama lima tahun, mencetak 195 gol dalam 100 penampilan untuk Atletico Mineiro. Striker itu dipanggil ke skuad Brasil sekali, tapi menolak karena hanya jadi cadangan Carvalho Leite dari Botafogo.

De Castro pensiun pada tahun 1931 dalam usia 26 setelah memenangkan Campeonato Mineiro. Empat golnya di babak kedua melawan Villa Nova melengkapi kebangkitannya dari ketertinggalan 0-3. Tapi, seorang penggemar lawan terbunuh setelah ditembak oleh seorang direktur Atletico, membuat sang striker mengundurkan diri.


9. Dario Hubner (Italia)

Ayah Hubner adalah orang Jerman, tapi sang striker selalu ingin mewakili Italia, yang lahir dan besar di negara tersebut. Meski mencetak lebih dari 250 gol liga, dia selalu diabaikan Gli Azzurri. Itu karena Italia memiliki Del Piero, Totti, Inzaghi, Toni, hingga Vieri. Nasibnya kurang lebih sama dengan Di Canio.

(diaz alvioriki/anda)




  • 0%Suka
  • 0%Lucu
  • 0%Sedih
  • 0%Kaget

Foto


Komentar

(500 Karakter Tersisa)
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=uZiDnSmspvE

Artikel Pilihan