Kecerdikan dalam memaksimalkan setiap kesempatan.
Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 1998 antara Argentina melawan Inggris menyajikan momen seru. Kedua raksasa sepakbola itu saling berhadapan di Stade Geoffroy-Guichard, Saint Etienne, Prancis untuk mendapatkan tempat di babak perempat final.

Baru enam menit laga berjalan, Argentina sudah mencetak gol lebih dulu lewat aksi Gabriel Batistuta yang menaklukkan ketangguhan David Seaman dari titik penalti.

Namun, Inggris yang saat itu dilatih Glenn Hoddle bangkit mengejar ketertinggalan. Bahkan, mereka hanya butuh waktu 16 menit untuk berbalik unggul 2-1. 

Alan Shearer menyamakan kedudukan juga dari titik putih, sebelum seorang remaja bernama Michael Owen mencetak salah satu gol yang akan dia ingat sepanjang kariernya.

Namun, Inggris gagal mempertahankan keunggulan mereka hingga jeda babak pertama. Argentina mencetak gol penyama kedudukan tepat sebelum turun minum melalui Javier Zanetti.

Gol dari ikon Inter Milan inilah yang paling menarik dalam laga itu. Bukan karena faktor gol tunggal Zanetti, tapi lebih ke proses terciptanya gol tersebut.



Di mana lewat skema tendangan bebas, Batistuta berdiri ke arah bola seolah-olah dia akan melakukan tembakan, tetapi melangkahi bola itu di detik-detik terakhir. Dia membiarkan Juan Sebastian Veron mengecoh tembok Inggris dengan umpan cerdas ke Zanetti.

Sang bek yang jelas seperti diberi ruang di dalam area penalti lantas melepaskan sepakan keras terukur yang sekali lagi melewati jangkauan David Seaman, dan skor menjadi 2-2.

Sol Campbell kemudian memiliki gol kontroversial yang dianulir oleh wasit pada menit ke-81 dan skor tetap 2-2 sepanjang perpanjangan waktu untuk membawa pertandingan ke adu penalti.

Paul Ince dan David Batty keduanya gagal dari jarak 12 yard. Kegagalan itu membuat Argentina memenangkan adu penalti 4-3 dan maju ke babak perempat final.

Pertandingan yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun - bahkan penggemar Inggris yang patah hati.