Lingkungan mempengaruhi mental para pemain, termasuk Kurniawan yang kini berada di Italia
Legenda hidup Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto resmi ditunjuk sebagai asisten pelatih klub Liga Italia, FC Como 1907. Dalam sebuah catatan penting, pria yang dijuluki Si Kurus itu mengatakan, banyak hal positif jika pemain Indonesia berkarier di luar negeri. 



Ia sendiri pernah bermain untuk tim luar negeri bersama Sampdoria (Italia) dan FC Luzern (Swiss).

Setelah penampilan yang cukup impresif di Piala AFF 2020 lalu, pembicaraan mengenai ketertarikan klub-klub luar negeri terhadap pemain Indonesia semakin ramai diperbicaran di kalangan masyarakat tanah air. 

Dua pemain PSIS Semarang, Pratama Arhan dan Alfeandra Dewangga tengah dikaitkan dengan kepindahan ke klub Korea Selatan. Adapun pemain Bajul Ijo, Marselino Ferdinan dan Ricky Kambuaya kabarnya tengah diincar oleh klub luar negeri. 

Sebelumnya, ada beberapa penggawa Skuad Garuda yang berkarier di luar negeri, seperti Saddil Ramdani (Sabah FC), Witan Sulaeman (Lechia Gdansk), Egy Maulana Vikri (FK Senica) dan Asnawi Mangkualam (Ansan Greeners). 



Mantan pemain PSM Makassar itu sendiri mendukung para pemain yang ingin merumput di klub luar negeri. Menurutnya, mental pemain Indonesia akan tertempa dengan matang jika bermain di negeri orang. “Kalau bicara pemain yang bermain di luar, saya sangat mendukung, apalagi anak-anak muda, karena saya sendiri merasakan bagaimana hidup di luar sendiri,” ujar Kurniawan saat hadir di chanel Youtube Akurasi TV, Kamis (13/1/2022). 



“Bagi saya, para pemain dititipkan di negara mana pun, tapi sendiri, karena menurut saya mereka akan lebih jadi mentalnya,” ujar pria berusia 45 tahun tersebut.

Dalam penjelasan lebih lanjut, menurutnya pemain muda akan semakin matang jika hidup mandiri di negeri orang, yang mana tekanan saat latihan serta pertandingan sangat mempengaruhi mental pemain.

“Akan terbentuk mentalnya, bagaimana dia me-manage dirinya sendiri, bagaimana mereka menjaga makan, menjaga istirahat, memotivasi dirinya ketika tidak perform ketika latihan dan pertandingan, tuntutan dari manajemen dan suporter,” ujar Kurniawan.

Pada pengalaman-pengalaman sebelumnya, pria 45 tahun itu mengatakan sesi latihan di klub luar negeri biasanya diperlakukan sebagaimana pertandingan nyata.

“Di Eropa, saat latihan, jika kita salah, teman kita memakinya begitu, karena mereka menganggap latihan seperti pertandingan, jadi mental mereka akan teruji,” lanjut Kurniawan Dwi Yulianto. “Kalau di Indonesia ya mohon maaf, di sini salah ya hal yang biasa. Kalau di sana kan enggak. Mereka sadar bahwa mereka value-nya ya di sepakbola, jadi mereka tidak main-main."