Ini gara-gara kata motivasi kepada pemain yang bocor ke medsos.
Setelah Senegal menyingkirkan Burkina Faso, satu finalis Piala Afrika 2021 akan ditentukan saat Kamerun berjumpa Mesir, Jumat (4/2/2022) dini hari WIB. Pertandingan dua timnas terbaik di Afrika itu sudah dihangatkan dengan perang kata-kata Samuel Eto'o dengan Carlos Queiroz. 

Eto'o memang tidak akan terlibat dalam pertandingan karena sudah pensiun. Tapi, dengan statusnya sebagai Presiden Asosiasi Sepakbola Kamerun (FECAFOOT), mantan bintang Barcelona dan Inter Milan itu jadi orang paling sibuk di Kamerun.

Salah satu kegiatan Eto'o sebagai orang nomor satu di sepakbola Kamerun bisa dilihat saat Les Indomitable Lions mengalahkan Gambia. Saat itu, Eto'o mengeluarkan kalimat-kalimat motivasi kepada para pemain Kamerun. Kata-kata yang dipilih, khususnya "perang" sebenarnya wajar untuk membangkitkan semangat.

Masalahnya, kata-kata tersebut keluar ke publik karena diunggah oleh media sosial resmi FECAFOOT. Akibatnya, kubu Mesir tersinggung. Bahkan, Queiroz yang kini menjadi pelatih kepala The Pharaoh sampai harus memberi respons.

"Itu adalah komentar yang sangat disayangkan. Pendekatan yang sangat buruk. Pesan yang sangat buruk kepada orang-orang Kamerun. Untuk membuat deklarasi perang ini sebelum satu pertandingan menunjukkan dia tidak belajar apa pun ketika berada di sepakbola profesional," kata Queiroz kepada BBC Sport.

Komentar  Eto'o, mungkin saja dipengaruhi kondisi sosial di sana. Sebab, wilayah barat daya Kamerun terus dipengaruhi oleh konflik bersenjata. Sejak 2017 kelompok militan lokal telah berjuang untuk membentuk negara yang disebut Ambazonia, yang ingin memisahkan diri dari Kamerun.



Tapi, bagi mantan pelatih Real Madrid, Portugal, dan Iran, serta sebagai asisten Sir Alex Ferguson di Manchester United itu, kata-kata Eto'o tidak bisa diterima dengan akal sehat. 

"Untuk perang yang diusulkan oleh Samuel Eto'o, kami akan menjawab dengan sepakbola terbaik, sikap terbaik, kualitas terbaik karena inilah yang diharapkan orang-orang dari kami. Inilah yang diinginkan dunia. Piala Afrika untuk menciptakan kehormatan, martabat. Ini tidak bisa menjadi perang," ungkap Queiroz.

Dalam sepakbola, kata-kata motivasi hiperbola sebenarnya wajar dan umum dilakukan pelatih, kapten tim, pemain, atau bahkan para pengurus. Terkadang, pilihan kata yang digunakan sangat ekstrim dan tidak masuk aka. Sebut saja Jose Mourinho, Pep Guardiola, Juergen Klopp, bahkan Ferguson sendiri.  

Kini, layak dinantikan apakan Kamerun yang akan ke final, atau sebeliknya Mesir. Sebab, ini adalah duel dua negara dengan catatan juara Piala Afrika terbanyak. Kamerun punya lima gelar, sedangkan Mesir mengoleksi tujuh trofi.