Leg kedua babak 16 besar Liga Europa menyapa sebelum El Clasico.
Memainkan leg pertama tanpa gol melawan Galatasaray, Barcelona memang masih memiliki kesmepatan lolos ke perempat final Liga Europa jika berbalik unggul di Istanbul, Jumat (18/3/2022) dini hari WIB. Apakah El Barca bisa melakukannya?

Pertandingan melawan Galatasaray menyapa Barcelona jelang El Clasico di Estadio Santiago Bernabeu, Senin (21/3/2022). Itu berarti Xavi Hernandez harus mengatur energi para pemainnya lantaran itu menjadi dua pertandingan yang sangat penting bagi masa depan klub Katalunya.

El Clasico akan menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa Barcelona masih bisa mengalahkan tim raksasa Eropa. Tapi, babak 16 besar Liga Europa juga membutuhkan pendekatan taktis yang berbeda. Itu karena Liga Europa bisa saja menjadi satu-satunya gelar yang dimenangkan Barcelona musim ini.

Lalu, apa yang harus dilakukan Barcelona? Kemenangan terakhir melawan Osasuna menunjukkan bahwa Barcelona masih memiliki jalan yang bagus di depan. Salah satunya tentang sikap.

Pada leg pertama, Barcelona terlihat meremehkan Galatasaray. Mereka memulai pertandingan dengan sangat santai. Beberapa pemain utama dicadangkan dengan alasan kebugaran, meski pada akhirnya main. Akibatnya, mereka harus berjuang untuk menegaskan keunggulan sepanjang pertandingan. Dan, itu gagal.

Melawan Galatasaray,  Ferran Torres dan Memphis Depay tidak bekerja sama dengan baik. Tidak ada yang ideal dalam peran sentral, dan mereka suka beroperasi di ruang yang sama di sebelah kiri.

Melawan Osasuna, Barcelona bertekad untuk segera memainkan permainan terbaiknya. Mereka menempatkan para pemain untuk bekerja dengan passing cepat dan permainan vertikal yang memberi tekanan pada blok rendah. Momen terobosan tidak butuh waktu lama.

Tiga penyerang depan: Torres, Ousmane Dembele, dan Pierre-Emerick Aubameyang jauh lebih efektif. Dari segi bentuk, trisula ini sempurna membentang di garis depan. Dembele dan Torres memiliki keahlian yang sangat berbeda. Dembele adalah ahli dengan bola di kakinya, sedangkan Torres adalah spesialis lari dengan bola. 



Bersama-sama, itu berhasil, dan buktinya ada pada gol yang mereka ciptakan satu sama lain. Dembele dalam kondisi terbaiknya saat penyerang lainnya aktif dan berlari. Torres membutuhkan rekan satu tim yang dapat menemukannya saat dia berlari di belakang pemain bertahan.

Penempatan dan pergerakannya adalah kunci dari struktur penguasaan bola, dan memberikan playmaker pilihan di sekitar kotak penalti. Untuk tujuannya, lari ke tiang dekat diatur waktunya dengan sempurna. Dan, Dembele tahu persis bagaimana menemukannya. Bagian yang menakutkan menurut kami adalah Aubameyang bahkan belum mencapai performa top skornya.



"Ketika anda bermain cepat, tidak ada yang bisa mengalahkan anda. Dan, jika anda bermain lambat, anda bisa kalah dari siapa pun," kata Xavi setelah pertandingan tersebut, dilansir Sport.

Jadi, ketika Barcelona bermain di Istanbul, copy paste pertandingan melawan Osasuna jadi solusi. Lupakan El Clasico, karena secara hitung-hitungan Barcelona akn sulit menjuarai La Liga. Akan jauh lebih masuk akal jika liga Europa menjadi target utama Xavi di akhir musim.