Menurut Anda, mana paling ekstrem?
Formasi dan taktik sangat penting dalam sepakbola. Butuh keseimbangan yang tepat antara serangan dan pertahanan dan itu menjadi kunci yang sangat penting dalam membangun tim sukses.

Sebagian besar pelatih biasanya cukup kaku dalam pendekatan mereka terhadap formasi. Permainan modern telah melihat populernya formasi 4-2-3-1, sedangkan sistem 4-4-2 dan 4-3-3 juga masih banyak digunakan. Tentu saja mantan pelatih Liga Premier seperti Brendan Rodgers, Antonio Conte, dan Louis van Gaal telah mempopulerkan bermain dengan menggunakan tiga bek selama bertahun-tahun.

Meskipun hanya menggunakan trio pemain bertahan mungkin tidak terlalu aneh dalam konteks permainan modern, namun pada suatu waktu, hal itu dianggap terlalu aneh.

Selama bertahun-tahun, pelatih dan tim tertentu telah melepaskan diri dari belenggu kekakuan taktis dan menemukan kesuksesan dengan formasi yang lebih aneh dan berani. Berikut tujuh tim yang berkembang dengan formasi aneh dan gila.

7. Ajax (1994/1995): 3-3-1-3

Louis van Gaal berhasil membawa Ajax meraih gelar Liga Champions pada 1995. Musim itu, Ajax juga tak terkalahkan dalam perjalanan menuju kemenangan Liga Belanda dan tampak tak tergoyahkan.

Dia melakukan itu dengan imajinasi dunia sepakbola yang bagus. Bukan cuma dengan bakat-bakat pemain lokal yang dengan konsisten menjalankan formasi yang sangat aneh, Van Gaal memperluas batas konvensi taktis dan secara konsisten bermain dengan formasi 3-3-1-3.

Skuadnya waktu itu terdiri dari Frank de Boer, Danny Blind, dan Michael Reiziger sering digunakan sebagai trio bertahan di belakang gelandang, Frank Rijkaard.

Lebih jauh ke depan, tepatnya di lini tengah ada Edgar Davids dan Ronald de Boer, dan Clarence Seedorf. Kemudian, Van Gaal memiliki Litmanen, ada juga Finidi George, Marc Overmars, dan juga Patrick Kluivert.

Sejak saat itu, Van Gaal dipuji sebagai seorang jenius taktis.



6. Australia (2006): babak sistem gugur Piala Dunia 3-6-1

Di bawah maestro Belanda lainnya, Guus Hiddink, Australia bisa membuat kejutan dan berhasil mencapai gelaran Piala Dunia 2006 dengan menggunakan formasi 3-6-1 yang jarang digunakan.
Memiliki enam pemain di lini tengah, yang ditempatkan di dua kelompok berisi tiga pemain, memungkinkan Hiddink untuk memfasilitasi fluiditas taktis karena dia dapat menyesuaikan bentuk agar sesuai dengan kebutuhan menyerang dan bertahan dengan relatif lancar.

Mark Viduka biasanya ditempatkan sebagai striker tunggal, tetapi dia didukung oleh trio gelandang serang – Tim Cahill, Harry Kewell, dan Jason Culina. Formasi tersebut membantu Australia memiliki penguasaan bola selama Piala Dunia.

Mereka berhasil menguasai bola 55%, 56%, dan 58% melawan Jepang, Kroasia, dan Italia, bahkan berhasil mendapatkan 47% bola melawan skuad Brasil yang jauh lebih unggul.

Mencapai babak sistem gugur Piala Dunia adalah pencapaian besar bagi Socceroos. Perjalanan mereka tahun itu menunjukkan bahwa formasi 3-6-1 sebenarnya sangat efektif.

5. Barcelona (2009/10): 4-2-4

 
Ketika Pep Guardiola menggantikan Frank Rijkaard sebagai pelatih di Camp Nou, tidak ada yang menyangka bahwa mantan kapten klub Catalunya itu akan menyapu bersih semua trofi untuk dimenangkan.

Itu berkat pendekatannya yang cerdik. Formasi yang tidak kaku, meskipun Guardiola lebih sering menggunakan 4-3-3 konvensional. Dia terkadang mengubahnya menjadi 4-2-4. Dan, asal tahu saja 4-2-4 adalah formasi yang terkenal sulit untuk dieksekusi secara memadai karena formasi tersebut membuat kurangnya keseimbangan di lini tengah. 

Tapi, dengan skuad yang ada, Guardiola bisa mendapatkan yang terbaik.

Dengan Thierry Henry, Lionel Messi, dan Pedro Rodriguez semua bergantian memainkan peran 'striker utama'. Lalu, ada Yaya Toure dan Sergio Busquets yang menjalankan tugas lini tengah secara efisien. Barcelona berkembang dan memenangkan empat trofi musim itu - trofi La Liga, Piala Super UEFA, Supercopa de Espana, dan Piala Dunia Antarklub.