Salah satu momen paling tidak sportif di sepakbola. Masih ingat? Cek videonya!
Piala Dunia 2010 diingat orang dengan Jabulani dan Vuvuzela. Tapi, bukan hanya itu. Aksi kurang sportif Luis Suarez menghalau gol Ghana dengan tangan pada perempat final juga menjadi salah satu warisan turnamen besar di Afrika Selatan tersebut. Masih ingat?

"Tangan Tuhan sekarang menjadi milik saya. Saya melakukan penyelamatan terbaik turnamen ini. Terkadang, dalam latihan saya bermain sebagai penjaga gawang. Jadi, itu sepadan," kata Luis Suarez saat itu.

Hari itu, 2 Juli 2010, Luis Suarez sengaja melakukan handball di garis gawang untuk menghentikan Dominic Adiyah mencetak gol penentu kemenangan Ghana di menit-menit akhir perpanjangan waktu. Terbukti, aksi kotor El Pistolero membawa Uruguay lolos ke semifinal.

Atas aksi itu, Luis Suarez diganjar kartu merah merah langsung, dan Uruguay harus menerima tendangan penalti.

Sialnya, Asamoah Gyan yang mengambil tendangan itu gagal menjebol jala Fernando Muslera. Tendangannya membentur mistar gawang. Dan, Luis Suarez menjadi sangat kegirangan di pinggir lapangan. Hal itu membuktikan kalau dia melalukan yang semestinya.

Momen itu kini masih tetap dikenang sebagai sesuatu yang kontroversial, meski sudah berlangsung 12 tahun. Tidak mudah untuk melupakannya begitu saja, khususnya bagi pemain dan pendukung The Black Star.

Seperti biasa, Luis Suarez entah bagaimana menjadi pahlawan dan penjahat pada saat bersamaan. Pertandingan berakhir 1-1 di akhir perpanjangan waktu. Tendangan bebas Diego Forlan membatalkan sepakan Sulley Muntari. Itu karena bola gila Jabulani berbelok ke mana-mana untuk kedua gol.

Uruguay dalam laga perempat final itu akhirnya memenangkan adu penalti, dan Ghana harus tersingkir. Drama itu hanya meningkat dengan penalti Panenka ala Sebastian Abreu yang menyegel kemenangan Uruguay.



Atas aksinya itu, Luis Suarez sama sekali tidak merasa bersalah. Dalam sebuah kesempatan dia membenarkan perbuatannya dengan mengatakan. "Itu hanya insting. Setiap pemain akan melakukan hal yang sama, bukan hanya saya," kata pemain yang saat itu masih berseragam Ajax Amsterdam.

Berbagai pendapat kemudian berkembang. Beberapa orang merasa patah hati dan bersimpati atas musibah yang Ghana dan sekaligus jijik melihat Luis Suarez.

Yang lain menunjukkan bahwa aksi Luis Suarez sudah tepat, yaitu mengorbankan diri untuk kemenangan tim. "Beberapa orang menuduh saya kurang sportif. Tapi, saya pikir lebih buruk jika seorang pemain mengalami cedera ketika dia dihentikan oleh tekel belakang karena dia akan mencetak gol," ungkap Luis Suarez.

Sayang, Uruguay tanpa Luis Suarez tidak bisa mengalahkan Belanda di semifinal. Mereka kalah 2-3 dari tim yang pada akhirnya finish sebagai runner-up. Dan, enam bulan setelah Piala Dunia 2010, Luis Suarez meninggalkan Belanda untuk bermain bersama Liverpool di Liga Premier.