"Saya menggunakan apa yang Tuhan berikan kepada saya," ujar Pickett.
Carson Pickett adalah fenomena di sepakbola wanita Amerika Serikat. Defender Orlando Pride itu bukan pemain sembarangan. Dia berjibaku di Liga Sepakbola Wanita Amerika Serikat (NWSL) menggunakan satu tangan.

"Saya menggunakan apa yang Tuhan berikan kepada saya," ujar Pickett, dilansir The Guardian.

Ungkapan itu selalu dikatakan wanita kelahiran 15 September 1993 itu berulang-ulang setiap kali mendapatkan pertanyaan mengapa dirinya memilih menekuni karier sebagai pesepakbola wanita profesional, meski tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap.



Hebatnya, keterbatasan yang dimiliki tidak membuat Pickett menyerah. Sebagai pemain, perjalanan untuk mencapai tempatnya yang sekarang luar biasa. Wanita berusia 26 tahun itu lahir tanpa tangan kiri. Meski masuk kategori disabilitas, Pickett menolak bermain di paralimpik. Dia memilih bermain sepak bola melawan orang normal. Dia membangun kepercayaan dirinya hingga menjadi bek.

"Saya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi banyak orang. Orang tua saya selalu memberi tahu saya untuk menggunakan platform yang Tuhan berikan kepada saya. Saya bisa menggunakan lengan saya untuk sesuatu yang lebih besar dari diri saya sendiri," kata Pickett.

"Saya dapat mempengaruhi begitu banyak anak dan orang yang mungkin tidak menemukan jalan keluar dari masalahnya. Itu tidak harus mempengaruhi mereka melalui sepakbola. Melihat bahwa saya berhasil dalam hidup dan bahagia dalam hidup bisa sangat berarti bagi sebagian orang," tambah pemilik nomor punggung 16 itu.

Pickett sempat berpikir bahwa kaum disabilitas seperti dirinya akan sulit mencapai puncak, terutama saat bergelut di NWSL melawan orang-orang normal. Tapi, pikirannya berubah total ketika diterima membela tim sepakbola wanita di tempatnya kuliah, Florida State Seminoles, pada 2012-2015. Dari situ kemampuan Pickett terasah.

"Alasan saya menjadi pemain sepakbola adalah karena ayah saya. Saya akan mengatakan itu satu juta kali. Dia mengajari saya banyak hal tentang permainan ini. Dia terus mendukung saya," ucap Pickett.

Tekad Pickett untuk bermain sepak bola bukan tanpa landasan yang kuat. Dibesarkan di Fleming Island, Florida, darah olahraga mengalir deras di tubuhnya. Ibunya, Treasure, adalah pemain bola basket level kampus. Sementara ayahnya pemain sepak bola di universitas. Sejak usia 5 tahun, dia bermain dengan ayahnya. Dia diajari passing, passing, dan passing.

Ayahnya melatih Pickett untuk terpilih bermain di tim sekolah maupun klub. Permainan itu menjadi obsesi keluarga. Karena itu, saat lulus dari Florida State University dan menjadi pilihan Seattle Reign dalam draft 2016, ayahnya sangat senang. Begitu pula ketika Pickett mendapatkan kesempatan bermain di Australia bersama Brisbane Roar.

"Dia pesepakbola yang sangat bagus. Dia memiliki tendangan kaki kiri yang hebat. Dia sangat memahami permainan. Dalam olahraga ini, anda membutuhkan keseimbangan, anda perlu menggunakan lengan untuk menyentuh pemain lain demi melindungi diri anda sendiri. Bayangkan ketika anda bermain dengan satu tangan. Dia luar biasa," ungkap mantan nakhoda Orlando, Tom Sermanni.

"Biasanya, orang-orang dengan kebutuhan khusus mudah tersinggung dan sangat serius. Namun, dia justru memiliki selera humor yang bagus. Dia ruang ganti dia masih sempat bercanda dengan teman-temannya cara mengikat tali sepatu," tambah pelatih yang kini sudah diganti Marc Skinner itu.

Musim lalu, Pickett bermain 20 kali di NWSL untuk Orlando. Sayang, pencapaian klub berseragam ungu tersebut tidak terlalu bagus. Mereka ada di dasar klasemen dengan koleksi 16 poin dari 24 pertarungan. Kompetisi dimenangkan North Carolina Courage setelah mengalahkan Chicago Red Stars.

Untuk musim ini liga belum jelas karena pendemi Covid-19. Sebenarnya, NWSL direncanakan berlangsung sejak 19 April 2020. Namun, situasi dunia yang tidak menentu membuat kompetisi belum dijadwalkan kembali.