Ketika membawa Chelsea juara Liga Champions 2012, Di Matteo mengukir rekor langka.
Pertemuan Barcelona dengan Bayern Muenchen di perempat final liga Champions memunculkan satu fakta menarik. Nakhoda kedua kubu, Hans Dieter-Flick dan Quique Setien masuk di tengah jalan.

Mengawali musim kompetisi 2019/2010, Barcelona dipimpin Ernesto Valverde. Dibawah kendali Valverde sejak 29 Mei 2017, El Barca mencatatkan prestasi yang lumayan. Trofi La Liga (2017/2018, 2018/2019), Copa del Rey (2017/2018), serta Supercopa de Espana (2018) berhasil disumbangkan mantan arsitek Espanyol tersebut.

Sayang, akibat hasil kurang memuaskan pada Desember 2019 hingga Januari 2020, Valverde harus didepak. Dia digeser Setien pada 13 Januari 2020 setelah Barcelona dikalahkan Atletico Madrid 2-3 pada Supercopa de Espana. Di bawah Setien, klub Katalunya tersebut justru harus kehilangan trofi La Liga dan gagal di perempat final Copa del Rey.



Uniknya, perjalanan Bayern musim ini juga tidak berbeda jauh dengan Barcelona. Mengawali musim dengan Niko Kovac sebagai nakhoda, FC Hollywood sempat berada dalam fase yang kurang menyenangkan. Sejumlah inkonsistensi hasil sepanjang Oktober-November 2019 telah membuat posisi nakhoda berkebangsaan Kroasia itu terancam.

Pada 4 November 2019, Flick ditunjuk menjadi caretaker Bayern menggantikan Kovac. Lalu, akibat performa yang membanggakan, mantan asisten Joachim Loew di tim nasional Jerman itu diresmikan menjadi nakhoda Bayern pada 3 April 2020 dan dikontrak hingga musim panas 2023.



Beda dengan Barcelona di bawah Setien, Bayern bersama Flick tetap garang sebagai klub sepakbola. Buktinya, para penghuni Allianz Arena sanggup mengakhiri musim 2019/2020 dengan gelar juara Bundesliga dan DFB-Pokal. Dari 33 pertandingan yang dipimpin Flick, FC Hollywood menang 30 kali, imbang 1 kali, dan kalah 2 kali. Sementara Setien di Barcelona hanya mengumpulkan 16 kemenangan, 4 imbang, dan 4 kalah dari 24 duel.

Apa yang dijalani Setien dan Flick musim ini berpotensi mengikuti jejak dua nakhoda pengganti yang sukses menjuarai Liga Champions. Saat kompetisi itu masih bertajuk Piala Champions, sepakbola Inggris pernah memiliki Tony Barton. Awalnya, Barton bergabung sebagai staf pelatih Aston Villa. Lalu, pada 1980 dia diangkat menjadi asisten Ron Saunders.

Sebagai pembantu Barton menjadi saksi gelar juara Liga Inggris 1980/1981 milik Villa. Itu gelar pertama mereka dalam 71 tahun. Sayang, akibat hasil buruk pada paruh pertama musim 1981/1982, Saunders dipaksa berhenti. Posisinya digantikan Barton.

Hebatnya, sebagai pelatih pengganti yang masuk di tengah jalan, Barton menghadirkan keberuntungan untuk Villa. Dia memimpin Villa mengalahkan Bayern pada laga puncak Piala Champions. Saat itu, 26 Mei 1982, Villa unggul 1-0 di Feijenoord Stadion, Rotterdam. Satu-satunya gol mereka diciptakan Peter Withe (mantan pelatih timnas Indonesia).

Barton melengkapi sukses sebagai pelatih pengganti dengan membawa Villa menjuarai Piala Super Eropa 1982. Dia juga memimpin Villa finish di posisi 11 setelah sempat terbenam di posisi 17.

Beberapa tahun setelah Barton, jejak yang sama kurang lebih sama dirintis Roberto di Matteo. Pada 29 Juni 2011, Di Matteo ditunjuk menjadi asisten Andre Villas-Boas. Sayang, akibat hasil yang kurang menggembirakan, nakhoda asal Portugal itu harus dipecat pada 4 Maret 2012. Manajemen The Blues kemudian menunjuk Di Matteo sebagai caretaker.



Sebagai pelatih sementara, hasil racikan pria Italia itu luar biasa. Dia membawa Chelsea mengakahkan Tottenham Hotspur di semifinal Piala FA,  Benfica di perempat final Liga Champions, dan Barcelona di semifinal kompetisi yang sama.

Pada 5 Mei 2012, Chelsea mengalahkan Liverpool di final Piala FA. Keajaiban itu berlanjut beberapa pekan kemudian. Pada 19 Mei 2012, Chelsea dipaksa menghadapi Bayern di Allianz Arena pada pertandingan puncak Liga Champions. Pertarungan berakhir imbang 1-1 hingga extra time. Chelsea akhirnya unggul adu penalti 4-3. Itu adalah gelar pertama Chelsea di kompetisi elite Benua Biru.

Sayang, pada musim selanjutnya, tepat 21 November 2012, Di Matteo harus diberhentikan setelah The Blues mencatat rentatan hasil kurang memuaskan. Selama memimpin Chelsea, mantan gelandang Lazio itu menciptakan 42 pertandingan, 24 kemenangan, 9 skor imbang, dan 9 kekalahan.