Inter Milan bertemu tim dengan julukan spesialis Liga Eropa.
Jika di Liga Champions ada Real Madrid, maka di Liga Eropa terdapat Sevilla. Los Rojiblancos adalah klub yang memiliki spesialisasi di kompetisi sepakbola level kedua Benua Biru tersebut.

Sejak era Piala UEFA, tidak ada tim yang memiliki peruntungan sebagus Sevilla. Klub dari Andalusia itu mengumpulkan lebih banyak piala dari Liverpool, Juventus, Inter Milan, atau Atletico Madrid. Keempat klub sama-sama mengoleksi 3 gelar. Hebatnya, Los Rojiblancos selalu menjuarai kompetisi ini ketika sanggup menginjakkan kaki di pertandingan puncak.

Berikut ini 5 final Liga Eropa sejak era Piala UEFA, yang berhasil dimenangkan Sevilla, dengan tiga diantaranya beruntun:

1. Piala UEFA 2005/2006, Middlesbrough vs Sevilla 0-4

Pada 10 Mei 2006, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Sevilla mampu berada di laga pamungkas ajang Benua Biru. Dilatih Juande Ramos, Los Rojiblancos ketika itu diperkuat pemain-pemain top macam Andres Palop, Dani Alves, Jesus Navas, Enzo Maresca, Adriano, Luis Fabiano, Javier Saviola, Frederic Kanoute, hingga almarhum Antonio Puerta.

Tampil di Philips Stadion, Eindhoven, kelas Sevilla jauh meninggalkan Middlesbrough. Lewat permainan menyerang dan kolektivitas tinggi di segala lini, Sevilla berhasil menjebol jala Mark Schwarzer 4 kali melalui Fabiano, Maresca (2 gol), dan Kanoute. Dominasi Sevilla terlihat dari total tembakan, 26 berbanding 9 dan shots on target 15 berbanding 4.

2. Piala UEFA 2006/2007, Espanyol vs Sevilla 2-2 (1-3 ap)

Pada 16 Mei 2007, Sevilla kembali ke pertandingan penentuan Piala UEFA untuk mempertahankan gelar musim sebelumnya. Dengan materi yang relatif sama, Sevilla ditantang Espanyol di Hampden Park, Glasgow. Final melawan tim satu negara selalu sulit karena sudah saling mengetahui isi dapur.

Ditukangi Ernesto Valverde dan dibela sejumlah nama lengendaris macam Raul Tamudo, Ivan de la Pena, Pablo Zabaleta, Walter Pandiani, hingga almarhum Dani Jarque, Los Periquitos memaksa Sevilla bermain 120 menit. Mereka dua kali menyamakan kedudukan sehingga adu penalti harus digelar. Namun, ketangguhan Andres Palop di babak tos-tosan membuat Los Rojibalncos berjaya.

3. Liga Eropa 2013/2014, Sevilla vs Benfica 0-0 (4-2 ap)

Pada 14 Mei 2014, Sevilla kembali ke final kompetisi Benua Biru. Saat itu, Piala UEFA sudah dimerger dengan Piala Winners menjadi Liga Eropa. Ditangani Unai Emery, generasi baru Los Rojiblancos diperkuat Carlos Bacca, Jose Antonio Reyes, Ivan Rakitic, Federico Fazio, hingga Marko Marin.   

Pertandingan di Juventus Stadium, Turin, itu sebenarnya lebih banyak didominasi Benfica. Sekitar 21 tembakan dengan 15 diantaranya ke sasaran menjadi milik klub Portugal itu. Sementara Sevilla hanya mencetak 11 tembakan dengan 7 diantaranya on target. Tapi, dewi fortuna benar-benar menjadi milik Los Rojiblancos. Saat adu penalti, empat eksekutor Sevilla sukses menjebol jala Jan Oblak. Sedangkan dua penendang Benfica gagal.
 
4. Liga Eropa 2014/2015, Dnipro Dnipropetrovsk vs Sevilla 2-3

Pada 27 Mei 2015, Sevilla kembali memiliki kesempatan melanjutkan tradisi mempertahankan trofi Benua Biru miliknya. Tampil di National Stadium, Warsawa, Los Rojiblancos mendapatkan lawan tim kuda hitam asal Ukraina, Dnipro Dnipropetrovsk.

Diperkuat Yevhen Konoplyanka dan Nikola Kalinic, Dnipro sempat membuat Sevilla kesulitan lewat gol cepat ketika duel baru berlangsung 7 menit. Tapi, pelan dan pasti kematangan Sevilla menjadi pembeda. Diatur Ever Banega, serangan-serangan Sevilla tepat mencapai sasaran. Klub Andalusia itu memborong tiga gol melalui Grzegorz Krychowiak dan Carlos Bacca (2 gol). Hasil akhirnya, 3-2 melalui dual 90 menit.

5. Liga Eropa 2015/2016, Liverpool vs Sevilla 1-3

Pada 18 Mei 2016, Sevilla untuk ketiga kalinya berkesempatan mempertahankan gelar Liga Eropa. Bedanya, saat itu lawan yang dihadapi memiliki DNA Liga Champions yang kental, yaitu Liverpool. Tampil di St. Jakob-Park, Basel, prediksi yang menjagokan The Reds bakal juara ternyata dipatahkan Sevilla. Los Rojiblancos mempermalukan pasuklan Juergen Klopp 3-1.

Satu hal menarik dari pertandingan tersebut adalah penggunaan goal-line technology untuk pertama kalinya. Sistem yang digunakan adalah Hawk-Eye. Sayang, teknologi "mata elang" itu tidak dilanjutkan karena memakan biaya yang mahal. Sebagai gantinya, video assistant referee rancangan FIFA yang kini diterapkan di seluruh dunia.