Cukup banyak pemain Liga Premier berdarah Indonesia.
Setelah Neil Etheridge tidak lagi bermain di Premier League, bukan berarti Asia Tenggara kehilangan wakilnya. Di kompetisi sepakbola kasta tertinggi Inggris musim 2020/2021 terdapat sejumlah pemain keturunan ASEAN.

Etheridge pernah menjadi wakil tunggal Asia Tenggara di Premier League ketika membela Fulham setelah lulus dari Akademi Chelsea. Penjaga gawang tim nasional Filipina itu membela The Cottagers pada 2008-2014. Sempat dipinjamkan ke Leatherhead, Charlton Athletic, Bristol Rovers, dan Crewe Alexandra, Etheridge kini bermain untuk Birmingham City di Championship Division.

Untuk level tim nasional, Etheridge membela Filipina sejak 2008. Hingga kini, pemuda kelahiran Enfield, 7 Februari 1990, tersebut sudah bermain pada 65 pertandingan The Azkals di semua ajang resmi. Posisi Etheridge di bawah mistar gawang tidak bisa digantikan.

Meski Etheridge kini tidak lagi bermain di Premier League, bukan berarti Asia Tenggara kehilangan pemain. Untuk musim ini tercatat ada beberapa pesepakbola yang memiliki darah ASEAN di Premier League. Ada yang sudah tergabung di tim utama, ada juga yang masih harus membuktikan diri di skuad cadangan.

Berikut ini 7 pemain berdarah Asia Tenggara di Premier League 2020/2021:

1. Alphonse Areola (Fulham)



Pada 2011 saat berusia 18 tahun dan masih menimba ilmu di Paris Saint-Germain B, Areola mendapatkan ajakan untuk membela Filipina. Tawaran itu datang langsung dari Presiden Asosiasi Sepakbola Filipina (PFA), Dan Palami. Saat itu, Palami ada di Paris untuk menonton beberapa pertandingan tim Homeless Football Filipina dan menyempatkan diri bertemu Areola.

Sayang, berdasarkan pembicaraan tersebut, Arbeloa tidak tertarik. Saat itu dia berstatus penjaga gawang utama Prancis U-19 dan memiliki potensi bermain di skuad senior. Selain itu, Filipina sudah memiliki Neil Etheridge sebagai kiper utama dan Roland Mueller sebagai cadangan.

Keputusan Areola ternyata tepat. Bersama Prancis U-20, dia menjuarai Piala Dunia U-20 2013. Lalu, saat Les Bleus menjuarai Piala Dunia 2018, dia menjadi deputi Hugo Lloris dan Steve Mandanda. Areola menjadi pemain pertama sejak Hector Zelada bersama Argentina pada 1986 yang menjuarai Piala Dunia tanpa memiliki caps di timnas.

Setelah sempat dipinjamkan ke Real Madrid sepanjang 2019/2020, Areola kini berseragam Fulham. Dia dipinjamkan PSG selama satu musim dengan opsi transfer permanen jika dianggap memberi kontribusi positif.

2. Ben Davis (Fulham)

Lahir di Phuket, 24 November 2000, Davis memiliki ibu orang Thailand dan ayah dari Inggris. Uniknya, saat berusia 5 tahun, orang tuanya pindah ke Singapura. Dia menghabiskan masa kecil dan remaja di Negeri Singa dan sempat ilmu di Singapore Sports School pada 2013-2015 sebelum hijrah ke London Harrow High School pada 2016.

Dengan bakat sepakbola yang dimiliki, Davies mendapatkan beasiswa penuh dari Akademi Fulham pada 2017. Setelah lulus, kini dia didaftarkan di Fulham Reserve. Dengan nomor punggung 38, Davis bisa bermain sewaktu-waktu jika ada pemain utama yang cedera. Dia juga bisa merumput di Piala FA atau Piala Liga jika Scott Parker menghendaki.

Yang menarik dari Davies adalah kontroversi status kewarganegaraannya. Dia belum memiliki caps timnas senior. Tapi, saat junior dia membela dua negara. Pada 2015, Davis membela Singapura U-16, yang dilanjutkan U-19 pada 2017. Lalu, pada Piala Asia U-23 2020, dia membela Thailand U-23. Anehnya, di data base FA, dia dicantumkan sebagai pemain lokal Inggris oleh Fulham.

3. Kenny Tete (Fulham)



Selain Areola dan Davis, Fulham juga memiliki satu pemain Asia Tenggara lagi, yaitu Tete. Lahir di Amsterdam, 9 Oktober 1995, Tete memiliki ayah dari Mozambik dan ibu Indonesia. Ayahnya, Miguel Tete, pindah ke Belanda saat dirinya berusia 5 tahun sebagai pengungsi Perang Kemerdekaan Mozambik.

Ayah Tete merupakan atlet kickboxing kelas berat yang sempat menyandang status juara Eropa. Selain atlet, Miguel juga bekerja di kedai kopi bertajuk The Bulldog di Leidseplein, yang terletak di pusat kota Amsterdam.

Sebagai lulusan Ajax Amsterdam, Tete sempat bermain untuk Olympique Lyon sebelum bergabung dengan Fulham pada musim panas ini. Dia mengikuti jejak sahabatnya, Jairo Riedewald, yang sudah lebih dulu membela Crystal Palace. Seperti Riedewald, Tete juga mencicipi seragam timnas Belanda junior maupun senior.

"Ibu saya orang Indonesia. Bisa bicara Bahasa Indonesia dengan lancar. Kami sekeluarga sering ke Indonesia. Dua tahun lalu kami menghadiri pernikahan saudara di Indonesia. Nenek saya pulang pergi Belanda-Indonesia. Kalau Jairo (Riedewald) hanya seperempat Indonesia. Kalau saya setengah Indonesia," ujar Tete pada 2014, dilansir sepakbolanda.com.

4. Jairo Riedewald (Crystal Palace)

Riedewald datang ke Inggris pada 2017 setelah lulus dari Ajax. Beroperasi sebagai pemain pertahanan, Riedewald dikontrak Palace 5 tahun. Tapi, persaingan yang ketat di lini belakang The Eagles membuat Riedewald tidak banyak mendapatkan kesempatan bermain selama 3 musim terakhir. Pada 2017/2018 dia merumput 12 kali di Premier League dan musim lalu 17 laga. Sementara 2018/2019 hanya main di Piala FA dan Piala Liga.

Lahir di Haarlem, 9 September 1996, Riedewald dengan bangga memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia. Dia tidak peduli, meski darah Merah-Putih hanya berasal dari sang ibu yang keturunan Belanda-Indonesia. Sementara sang ayah berasal dari Suriname.

Beberapa tahun lalu ketika Ajax mengadakan kunjungan ke Indonesia, Riedewald kedatangan tamu yang merupakan kerabatnya. Pria yang mengaku bernama Ronny Markus itu merupakan sepupu nenek Riedewald. "Dia cucu saya yang baik. Saya harap Jairo (Riedewald) akan menjadi pemain sepakbola yang bagus seperti Ruud Gullit atau Marco van Basten," ujar Ronny ketika itu di laman Youtube milik Ajax TV.

Meski memiliki darah Indonesia, Riedewald tidak mungkin memperkuat tim Garuda. Sebab, dia pernah membela Belanda di level senior. Panggilan De Oranje didapatkan pada 2015. Saat itu, Riedewald menjalani debut saat Belanda bertanding kontra Turki, 6 September.

5. Pascal Struijk (Leeds United)



Struijk bergabung dengan Leeds United pada 2018 setelah didatangkan dari Jong Ajax. Bek tengah yang bisa merangkap gelandang bertahan tersebut lahir di Deurne, Belgia, 11 Agustus 1999. Struijk memiliki kakek buyut yang berasal dari Indonesia.

"Kakek dan nenek dari ayah saya meninggalkan Hindia Belanda (Indonesia) ke Belanda. Saya punya hubungan dengan Indonesia. Tapi, saat ini saya lebih terlibat dengan Belanda dan Belgia. Saya sangat senang bila menerima panggilan timnas dari Roberto Martinez (pelatih Belgia). Tapi, saya akan lebih memilih Belanda," kata Struijk beberapa tahun lalu, dilansir Sport Magazine.

Struijk belum pernah dipanggil tim senior Belanda maupun Belgia. Namun, dia memiliki 2 penampilan untuk Belanda U-16 pada 2016. Artinya, pria berpostur 190 cm itu masih memiliki peluang membela tim Garuda di level senior.

6. Nathaniel Shio Hong Wan (Wolverhampton Wanderers)



Hong Wan tercatat sebagai pemain Wolverhampton Wanderers U-23 untuk Premier League 2020/2021. Berposisi sebagai gelandang, dia lahir di London dari ayah yang berasal dari China dan ibu Malaysia. Kampung halaman ibu Hong Wan adalah Tangkak, Johor. Tapi, sejak kecil Hong Wan tinggal dan hidup di Inggris bersama keluargannya.

Meski memiliki peluang membela Inggris dan China, Hong Wan menyatakan lebih tertarik memperkuat Malaysia. Tapi, dia memberi syarat jika Asosiasi Sepakbola Malaysia (FAM) dan Pemerintah Malaysia meminta secara langsung.

"Saya membuka semua peluang. Saya akan lebih senang jika diberi kesempatan membela Malaysia. Tapi, biarkanlah semuanya terjadi dengan alami. Yang terjadi terjadilah. Saya menyukai Malaysia karena saya memiliki banyak keluarga di sana. Saudara saya sempat meminta saya bermain untuk JDT (Johor Darul Ta'zim). Saya tidak tahu. Mungkin suatu hari nanti," kata Hong Wan kepada Astro Supersport tahun lalu.


7. Jaami Qureshi (Brighton and Hove Albion)

Qureshi adalah pemain muda Inggris keturunan Malaysia yang membela Brighton and Hove Albion. Saat ini, dia dimasukkan dalam skuad The Seaguls U-18. Dia memiliki darah Malaysia dari sang ibu yang berasal dari Manjoi, Perak. Sementara sang ayah berasal dari Irak.

Qureshi lahir dan tumbuh di Inggris serta menerima pendidikan sepakbola di Negeri Ratu Elizabeth II. Berposisi sebagai penyerang merangkap winger, Qureshi mengaku mengidolakan Lionel Messi dan Kylian Mbappe. Kemampuan berlari yang bagus membuat Qureshi sempat mendapatkan kesempatan membela Inggris U-15.

Sadar punya pemain potensial di luar negeri FAM memutuskan menghubungi Qureshi pada 2018. Saat pemusatan latihan SEA Games 2019 digelar, namanya dimasukkan dalam skuad. Tapi, dia tidak datang ke Malaysia karena SEA Games bukan ajang resmi sehingga izin dari klub tidak pernah didapatkan.

"Saya pernah bermain untuk Inggris U-15. Tapi, menurut saya tidak ada yang mustahil (membela Malaysia). Saya akan memutuskan jika waktunya tiba. Saya akan gembira bermain untuk Malaysia. Saya melihat beberapa pemain Malaysia bisa bermain di Eropa," kata Qureshi kepada Berita Harian.