Dia tidak disukai Sir Alex Ferguson. Dijuluki Mafioso. Pernah diumpat oleh Ibra gara-gara gaya berpakaiannya.
Berada di wilayah selatan Italia, tepatnya kota Salerno, lahir seorang yang kelak punya nama besar dalam kiprahnya di dunia sepakbola. 4 Mei 1967 jadi hari pertama bagi Mino Raiola melihat terang dunia. Raiola merupakan agen sepakbola yang menjembatani kepindahan sejumlah pemain bintang.

Keluarganya memutuskan untuk tak berlama-lama di Italia, satu tahun berselang, Mino Raiola muda pindah ke Belanda, ibu dan ayahnya membuka bisnis restoran kecil-kecilan di kota Haarlem.

Insting berbisnis Raiola boleh jadi terbentuk dari sini. Di restoran yang menjajakan makanan Italia itu Raiola membantu orang tuanya dengan bertindak sebagai pelayan. Bahkan sampai harus mengorbankan kegemarannya bermain tenis meja dan sepakbola.

Pengalaman mengurusi bisnis keluarga itu membetuk karakter Raiola sebagai anak yang ramah, sopan, cakap berkomunikasi, dan perangai baik lainnya. Raiola disenangi banyak orang dan dia berteman dengan siapa aja. Itu cukup membantunya ketika ia menempuh studi jurusan hukum di sebuah universitas.

Karier Agen Raiola



Kota tempat Raiola tinggal punya ketertarikan cukup tinggi pada sepakbola, layaknya daerah-daerah yang berminat pada olahraga nomor satu di dunia ini, Haarlem punya akademi sepakbola bernama HFC Haarlem, Raiola yang gagal sebagai pemain pada usianya yang baru 22 tahun justru ditunjuk sebagai direktur olahraga klub. Tapi jabatan itu tak berlangsung lama.

Raiola yang merupakan putra dari seorang Belanda dan Italia ternyata mahir menggunakan dua rumpun bahasa itu. Kecakapannya berbuah manis, sebuah perusahaan  agensi pemain dari Belanda bernama Sports Promotion BV memperkerjakan Raiola. Dia bertanggung jawab untuk mengurusi segala transfer yang melibatkan pesepakbola Belanda ke Italia.

Salah satu catatan apik Raiola ialah ketika berhasil membujuk Dennis Bergkamp yang waktu itu bermain untuk Ajax Amsterdam hijrah ke Itaila, tepatnya Inter Milan pada tahun 1993.

Tak puas dengan itu semua, seperti kebanyakan calon wirausahawan sukses, Raiola mencoba keluar dari zona nyaman. Dia menjadikan dirinya sebagai bos, Raiola memutus kontrak dengan Sports Promotion BV lalu menjadi agen pemain yang bebas.

Keputusannya tak keliru. Raiola sudah mahfum cara kerja seorang agen pemain. Titik menggembirakan datang lewat ajang Piala Eropa 1996. Raiola berhasil menemukan pesepakbola pertama yang bakal melapangkan jalannya ke depan. Dialah Pavel Nedved.

Tampil gemilang bersama Republik Ceko, gelandang kreatif ini tergugah oleh kepiawaian Raiola. Semula menurut laporan koran Corriere Dello Sport, Nedved sudah hampir pasti bergabung dengan PSV Eindhoven dan entah lewat jurus apa, Raiola membuat Nedved yakin untuk bermain dalam balutan seragam Lazio dengan biaya transfer 3,5 juta Euro.

Semenjak itu, reputasi Raiola makin cemerlang, dia membangun dan menikmati hasil kerja dari industri sepakbola yang menjanjikan, dengan lebih dari 50 pemain yang telah diurus, mulai dari Mario Balotelli, Ibrahimovic, Marek Hamsik, Mkhitaryan, Matuidi, sampai dengan yang paling banyak diberitakan, Paul Pogba.

Raiola kini disegani dan dianggap sebagai agen pemain papan atas, sejajar dengan Jonathan Barnett dan Jorge Mendes. Raiola memang punya kualitas yang sebanding: pandai negosiasi, menguasai lebih dari 7 bahasa, dan tentu saja bicaranya manis sekali.

Sisi Lain  Raiola, Sederhana dan Kontroversial

Menurut laporan dari majalah Forbes, per tahun 2015 harga kekayaan Raiola mencapai 286 juta Euro. Agen super itu juga dilaporkan membeli rumah mantan bos mafia Al Capone di daerah Miami, tak jarang orang-orang juga memanggilnya sebagai 'mafioso'.

Tapi siapa sangka di balik itu semua, Raiola adalah sosok yang berpenampilan apa adanya, tak terkesan menunjukkan ia orang berpunya. Hal ini diungkap langsung oleh Ibrahimovic dalam buku otobiografinya "I am Zlatan."

Ketika Ibrahimovic lengkap dengan setelan mahal Gucci lalu memarkir mobil mewahnya di depan lokasi pertemuan. Ia masuk dan betapa terkejut ketika melihat Raniola yang sangat santai. "Saya tidak tahu akan bertemu dengan orang macam apa, saya pikir pria yang terbiasa dengan pakaian formal dengan jam tangan emas dan besar. Tapi sialan,” tulis Ibra dengan nada mengumpat.

"Tebak siapa yang saya temui? Seseorang bercelana jins dan hanya mengenakan kaos Nike."

Beberapa gambar juga dengan sangat jelas memperlihatkan kesederhanaan Raiola. Itu merupakan sikap dan gaya berpakaian yang dengan sadar dia pilih.



Raiola satu waktu juga pernah tertangkap berjalan dengan Mario Balotelli, dia hanya mengenakan jins dan jaket Hoodie dan sepatu sneaker begitu apa adanya.

Tapi di sisi lain, Raiola sangat garang kalau urusan bisnis, apalagi menyangkut keputusan pindah seorang pesepakbola. Satu ketika Raiola melempar komentar mengenai Pep Guardiola, "Dia merupakan pelatih yang hebat, tapi Guardiola adalah seorang sialan.”

Atau simaklah, ketika dia mengoceh tentang mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, "laki-laki itu merupakan diktator."

Bahkan Sir Alex Ferguson dalam buku otobiografinya, mengaku terang-terangan tak senang pada Raiola. " Ada satu atau dua agen sepakbola yang saya tidak suka saja, dan Mino Raiola adalah salah satunya."

Pernyataan ini sebetulnya wajar belaka, mengingat mereka pernah terlibat konflik mengangkut kepindahan Paul Pogba dari Manchester United ke Juventus, lalu balik ke Old Trafford dengan harga yang jauh lebih mahal.

Raiola juga pernah dihukum oleh Federasi sepakbola Italia atas tindakan indisipliner soal penyimpangan transfer. Tapi begitulah,  Raiola tetaplah Raiola. Seorang agen pemain pilih tanding.