Provokasi, kekerasan ataupun kontroversi di luar lapangan seperti selingkuh, memakai obat terlarang dan lain-lain juga terjadi di Liga Premier.
Sudah 27 tahun berjalan, Liga Premier telah menyajikan ribuan bahkan jutaan aksi, hiburan dan sepak bola kelas dunia yang mengagumkan, baik dari para pemain hingga pelatih. Namun di balik capaian hebat tersebut tentu saja seperti uang koin, Liga Inggris juga akrab dengan yang namanya kontroversi.

Ada beberapa hal kontroversial yang terjadi, dan tentu saja lewat aktor lapangan hijau secara langsung, mulai dari provokasi, kekerasan ataupun kontroversi di luar lapangan seperti selingkuh, memakai obat terlarang dan lain-lain. Lalu siapa saja aktor lapangan hijau tersebut, berikut 10 aktor lapangan hijau yang  paling kontroversial dalam sejarah Liga Premier:

1. Eric Cantona



Masih dikenal sebagai 'The King' di antara para penggemar Manchester United, cukup adil untuk mengatakan bahwa Eric Cantona adalah tokoh revolusi sepak bola Inggris di tahun-tahun awal Liga Premier. Tanpa keberhasilan pemain Prancis itu - yang memenangkan enam trofi utama, termasuk empat gelar Liga Premier bersama Setan Merah - bintang-bintang luar negeri kelas dunia mungkin tidak akan pernah pergi ke Inggris.

Namun, tidak dapat disangkal bahwa Cantona juga merupakan pemain yang sangat kontroversial di Old Trafford. Bahkan ia datang ke United dengan aroma rivalitas yang tinggi karena ia dahulu membela Leeds United, yang notabene pada waktu itu sangat bersaing ketat dengan Setan Merah.

Ketika masih aktif di Prancis, ia memang sudah akrab dengan yang namanya kekerasan, marah, dan sering mengabaikan aturan otoritas setempat. Pria Prancis itu memang brilian di lapangan, tetapi sisi negatifnya pun demikian.

Salah satu insiden yang paling terkenal dalam sejarah Liga Premier adalah tendangan kung fu Cantona kepada fans Crystal Palace bernama Richard Shaw. Dari tindakannya tersebut, Cantona tidak hanya didakwa karena telah melakukan penyerangan, ia kemudian ditugaskan untuk melakukan hukuman masyarakat selama 120 jam serta dilarang oleh FA selama delapan bulan. Sekembalinya, pemain Prancis itu nyatanya mampu menjaga konsistensinya- dan membawa United meraih dua gelar Liga Premier lagi.

2. John Terry

John Terry akan selalu dikenang sebagai pahlawan sejati di Stamford Bridge. Namun, meski sukses bersama Chelsea sepanjang karirnya, pemain internasional Inggris itu masih menjadi sosok kontroversial untuk sebagian para fans lawan.

Kontroversi pertama Terry datang tidak lama setelah dia masuk ke tim utama Chelsea selama musim 2000/01. Pada September 2001, bersama dengan tiga rekan setimnya - ia didenda oleh manajemen The Blues setelah berperilaku tidak pantas terhadap turis Amerika.

Mengingat Terry baru berusia 20 tahun saat itu, insiden itu dianggap sebagai kenaifan remaja. Usai dari kejadian tersebut, Terry untuk sementara waktu tidak tersentuh dengan hal-hal berbau kontroversial. Tapi pada tahun 2010, Terry kembali terlibat dalam hal berbau kontroversial, dimana ia terlibat dalam perselingkuhan dengan mantan pacar mantan rekan setimnya di Chelsea dan Inggris, Wayne Bridge. Akibat perbuatanya itu, ia dicopot jabatannya sebagai kapten The Three Lions.

Di tahun 2011,Terty dituduh melakukan tindakan rasisme kepada Anton Ferdinand yang bermain untuk QPR. Dan berdasarkan hasil pengadilan, ia diputuskan bersalah dan untuk kedua kalinya, ban kapten timnas Inggris harus dicopot dari lengannya.

Kapten Chelsea mengakhiri karirnya pada tahun 2018 setelah memenangkan total 15 trofi utama, tetapi tetap menjadi salah satu tokoh paling kontroversial di Liga Inggris.

3. Roy Keane



Sebagai bagian dari salah satu tim Manchester United terbaik tepatnya di tahun 1990-an dan awal 2000-an, Keane telah memenangkan 12 trofi bergengsi di Old Trafford, termasuk tujuh gelar Liga Premier. Namun, orang Irlandia itu juga tidak asing dengan kontroversi, sebagian besar karena sifat agresifnya baik di dalam maupun di luar lapangan.

Selama kariernya, Keane telah menerima 13 kartu merah, tujuh di antaranya terjadi di Liga Premier - rekor di persepakbolaan Inggris. Banyak dari kartu merah itu datang karena tindakan kekerasan, termasuk ketika menghadapi Crystal Palace dan Newcastle United. Tapi bukan hanya tendensi eksplosifnya di lapangan yang membuat Keane kontroversial. Orang Irlandia juga suka menyerang orang lain secara verbal.

Insiden paling terkenal terjadi pada musim Liga Premier 2000/01. Keane diusir dari lapangan dalam derby Manchester setelah melakukan tekel yang mengerikan pada Alf-Inge Haaland City. Tetapi ketika otobiografi orang Irlandia itu dirilis lebih dari setahun kemudian, lebih banyak detail terungkap.

Sebuah anekdot terkenal tampaknya menunjukkan bahwa Keane dengan sengaja melanggar Haaland dalam upaya untuk melukainya, karena ayah dari Erling Haaland itu juga pernah melakukan tekel keras kepadanya di musim sebelumnya. Terlepas dari kenyataan bahwa FA menuduhnya merusak reputasi permainan - melarangnya untuk lima pertandingan dan mendendanya  150 ribu Poundsterling - Keane tetap tanpa belas kasihan. Dia bahkan menyatakan bahwa dia mungkin akan melakukan hal yang sama lagi jika diberi kesempatan.

4. Alan Pardew

Mantan gelandang Crystal Palace itu mungkin tak banyak meraih trofi, tapi untuk hal-hal kontroversial, ia layak diadu. Semua itu bermula ketika ia menjadi pelatih West Ham United pada musim 2003/04.

Pada tahun 2006, ia pernah bentrok dengan bos Arsenal saat itu Arsene Wenger, yang hanya menurunkan satu pemain Inggris dalam pertandingan Liga Champions.

Kemudian, ketika tim asuhannya, West Ham menumbangkan The Gunners Wenger dalam lanjutan Liga Premier, dia merayakan kemenangan itu dengan sangat berlebihan sehingga membuat pria Prancis itu hampir memukulinya namun ditahan oleh ofisial setempat. Dan saat mengelola Newcastle pada 2014, Pardew kembali mendapat kecaman ketika dia menyebut bos Manchester City saat itu Manuel Pellegrini sebagai "pelatih tua bangka"

Namun, momen paling kontroversial Pardew terjadi pada Maret 2014. Saat menjadi manajer Crystal Palace dalam pertandingan melawan Hull City, pemain berusia 53 tahun itu melakukan sundulan terhadap pemain Tigers, David Meyler, dan kemudian dibuang ke tribun. FA kemudian melarangnya selama tujuh pertandingan berikutnya, dan ia didenda 60 ribu Poundsterling.

5. Luis Suarez



Penyerang Uruguay itu telah resmi meninggalkan Barcelona dan bergabung dengan Atletico Madrid, bahkan sukses mencetak gol di debutnya  dan memang tidak diragukan lagi bahwa ia adalah salah satu pemain yang paling berbakat dalam sejarah Liga Premier. Dia tidak memenangkan trofi apa pun selama waktunya di Inggris, tetapi rekor 69 golnya dalam 110 pertandingan Liga Premier untuk Liverpool hampir tak tertandingi.

Namun, Suarez juga menjadi magnet kontroversi selama berada di Inggris, dengan sejumlah insiden tidak menyenangkan yang mengancam pekerjaan hebat yang dia lakukan di lapangan. Faktanya, bagi penggemar non-Liverpool, pemain Uruguay itu sebagian besar dipandang sebagai sosok yang kurang disuka.

Di awal kariernya di Anfield, Suarez mampu menjaga sikpanya. Namun, di awal musim 2011/12 – musim full pertamanya di Liverpool - ia segera menimbulkan kontroversi saat The Reds bermain imbang 1-1 dengan Manchester United. Suarez dituduh melakukan tindakan rasis kepada bek United Patrice Evra. Pemain Uruguay itu membantah tuduhan itu - dan didukung oleh Liverpool - tetapi masih dinyatakan bersalah setelah penyelidikan, dan disanksi delapan pertandingan dan di denda 40 ribu Poundsterling oleh FA. Lebih parah lagi, pada pertemuan kedua klub berikutnya, Suarez menolak untuk menjabat tangan Evra,  bahkan setelah pertanidngan ia sempat dipaksa oleh pemilik Liverpool untuk mengeluarkan permintaan maaf.

Sayangnya, itu bukanlah kontroversi terakhir yang melibatkan Suarez. Pada April 2013, ketika Liverpool bertemu Chelsea di Anfield, striker itu tertangkap kamera menggigit Branislav Ivanovic – mengulang kejadian yang sama ketika ia pernah menggigit salah satu pemain Eredivisie ketika masih bermain untuk Ajax.

Suarez kemudian dilarang bermain selama 10 pertandingan atas insiden tersebut, dan memkasa pindah dari Liverpool. Tetapi itu tidak terjadi dan musim 2013-14 melihat pemain Uruguay itu dinobatkan sebagai Pemain Terbaik PFA berkat penampilannya.

Namun, menyusul insiden menggigit lainnya di Piala Dunia 2014, Suarez dilarang bermain sepak bola selama empat bulan - dan memperkuat kepindahannya ke Barcelona selama larangan tersebut. Liga Premier tidak hanya kehilangan bakat luar biasa, tetapi mereka juga kehilangan salah satu tokoh paling kontroversial mereka.

6. Adrian Mutu

Tidak seperti olahraga lain seperti bersepeda ataupun berenang, sepak bola jarang sekali terlibat dalam banyak insiden kontroversial yang melibatkan doping. Namun bukan berarti tidak ada, ada beberapa pemain yang memakai obat terlarang itu untuk meningkatkan peformanya.

Salah satunya terjadi pada tahun 2005 yang melibatkan penyerang asal Rumania, Adrian Mutu - saat itu ia bermain untuk Chelsea - menjadi salah satu pemain yang paling kontroversial di Liga Inggris. Ditandatangani oleh The Blues dari klub Italia, Parma - di mana dia mencetak 22 gol yang mengesankan dalam 36 pertandingan - Mutu seharusnya menjadi ujung tombak Chelsea dalam merebut gelar Liga Premier.

Namun, setelah mencetak enam gol pada musim pertamanya di Stamford Bridge, Mutu dengan cepat tidak disukai oleh bos baru Jose Mourinho. Keduanya bentrok parah ketika Mutu menuduh Mourinho salah mengklaim bahwa ia cedera untuk mencegahnya bermain untuk timnas Rumania pada kualifikasi Piala Dunia 2006.

Tak lama setelah bentrokan itu, Mutu dinyatakan positif menggunakan zat terlarang – kabarnya adalah kokain, meskipun pemain Rumania itu membantahnya - dan dilarang bermain sepak bola selama tujuh bulan karena pelanggaran tersebut. Ini adalah pukulan telak untuk Chelsea, yang kemudian mengakhiri kontraknya. Beberapa bulan kemudian, The Blues kemudian mencari kompensasi dari Mutu atas insiden tersebut, dan setelah lama berada di berbagai ruang sidang, pemain Rumania itu terpaksa membayar biaya yang cukup besar kepada mantan klubnya.

7.Jose Mourinho



Salah satu manajer paling sukses di dunia, Jose Mourinho telah memenangkan gelar Liga Premier tiga kali bersama Chelsea. Dia juga mampu meraih sejumlah trofi bergengsi baik bersama The Blues maupun bersama tim lain seperti Manchester United, Real madrid hingga Inter Milan. Kini ia menjadi manajer Tottenham Hotspur, dan juga menimbulkan banyak kontroversi selama masa jabatannya di Inggris.

Mourinho tiba di Liga Premier bersama Chelsea pada musim panas 2004 menyusul kemenangannya di Liga Champions bersama Porto. Dia segera menandai dirinya sendiri sebagai 'The Special One' dalam konferensi pers.

Memang, pria Portugal itu memiliki dampak langsung - membawa Chelsea meraih gelar Liga Premier berturut-turut dalam dua musim pertamanya di klub. Namun, meski sukses, kontroversi tak pernah terlalu jauh darinya.

Mourinho terkenal pernah bertengkar dengan sesama manajer seperti Arsene Wenger dan Sir Alex Ferguson - bahkan menyebut Arsene Winger sebagai "spesialis dalam kegagalan" dan "voyeur".

Kemudian dalam kariernya, Mourinho menjadi lebih terkenal karena berselisih dengan para pemainnya sendiri dan bahkan staf di klubnya. Terutama ketika chelesea sukses memenangkan gelar Liga Premier ketiga, mereka, diaman ia semapt beradu mulut dengan doketr tim, Eva Carneiro. Di Manchester United, Mourinho pernah berdebat denan pemainnya sendiri seperti Paul Pogba dan Luke Shaw, dan akhirnya meninggalkan Old Trafford dengan catatan statistik yang buruk.

8. Mario Balotelli

Ketika Mario Balotelli bergabung dengan Manchester City pada musim panas 2010, para penggemar Liga Inggris sangat antusias. Penyerang ini terkenal sebagai salah satu pemain muda paling menjanjikan di Eropa, meskipun sudah memiliki masalah kedisiplinan dengan Inter Milan.

Namun, seperti yang sudah diketahui bersama, Balotelli tidak bisa lepas dari yang namanya kontroversi. Mulai menabrakkan mobilnya hingga melempar anak panah ke pemain tim muda atau menyalakan kembang api di dalam rumahnya yang menyebabkan kebakaran.

Pada musim 2011-12, terhitung Balotelli telah  dikeluarkan dari lapangan sebanyak empat kali di Liga Premier, dan insiden yang membuatnya menendang pemain Tottenham Scott Parker juga membuatnya didakwa oleh FA dengan tindakan kekerasan.

Selama berseragam Liverpool - ia juga tak lupa membuat kontroversi, dimana ia membuat postingan yang berbau rasis dan mendapatkan skorsing dan denda dari FA.

9. Paolo Di Canio



Penyerang Italia Paolo Di Canio menghabiskan tujuh musim di Liga Premier, bermain untuk Sheffield Wednesday, West Ham dan Charlton Athletic. Karakternya yang berapi-api membuat ia tidak pernah jauh dari kontroversi.

Sebelum bermain di Inggris, pernah bermain di Celtic, dimana ia tidak hanya berselisih dengan rekan setimnya,tetapi juga dengan pemilik klub.Kendati sempat membuat catatan indah di musim 1997/98, kartu merah yang ia dapatkan pada pertandingan   melawan Arsenal, Di Canio merusak semua raihan positifnya, selain di kartu merah, ia berdebat dengan pelatihnya serta mendorong wasit Paul Alcock ke tanah, membuat para penggemar dan pengamat terdiam karena perilaku seperti itu tidak pernah benar-benar terlihat di Liga Premier sebelumnya. Orang Italia itu tidak menunjukkan penyesalan, dan akhirnya dilarang bermain 11 pertandingan karena insiden tersebut.

Larangan itu membuat Di Canio dijual ke sesama tim Liga Premier West Ham, dengan bos Hammers Harry Redknapp bahkan mengakui bahwa dia mengambil risiko untuk mengontraknya. Namun, Di Canio membayar kembali kepercayaannya, mencetak banyak gol spektakuler dan membuat dirinya disayangi oleh para penggemar Hammers.

10. Diego Costa

Striker Spanyol, Diego Costa hanya menghabiskan waktu tiga tahun di tanah Inggris. Dapat dikatakan bahwa Costa sangat fantastis selama musim pertamanya di klub. Dia mencetak 20 gol Liga Premier hanya dalam 26 penampilan selama musim 2014/15.

Namun, ia tetap menunjukkan sisi kontroversialnya sejak awal.Ketika ia dituduh mengejek Seamus Coleman selama pertandingan Liga Premier dengan Everton menyusul gol bunuh diri dari bek asal Irlandia itu. Kemudian, ia terlibat dalam insiden buruk selama pertandingan dengan Liverpool, karena ia terlihat menginjak Emre Can - sebuah insiden yang membuatnya dilarang bermain tiga pertandingan dari FA.

Kemudian pada musim 2015/16 ia mendapatkan banyak hujaran ketika ia bentrok dengan pemain Arsenal selama derby London, menampar Laurent Koscielny sebelum mendorong bek Gabriel untuk menendangnya - membuat pemain Brasil itu mendapat kartu merah.

Kemudian, ia terlihat menginjak pemain Liverpool, Martin Skrtel, dan kemudian menerima kartu merah dalam pertandingan dengan Everton - permainan yang juga membuatnya bentrok dengan Gareth Barry dan tampak membuang ludah ke arah wasit.

Costa bahkan meninggalkan Chelsea dengan kesan yang buruk dimana ia mengatakan bahwa ia meninggalkan tim karena Antonio Conte tidak membutuhkan jasanya lagi. Setelah mengklaim Chelsea memperlakukannya "seperti penjahat", ia kemudian kembali lagi ke Atletico Madrid.